Sep 18, 2026
Nasional

Bapanas Ungkap Biang Kerok Lonjakan Harga Cabai Rawit Nasional

Harga komoditas pangan di pasar tradisional kembali membuat para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner menjerit. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencat

Bapanas Ungkap Biang Kerok Lonjakan Harga Cabai Rawit Nasional

Harga komoditas pangan di pasar tradisional kembali membuat para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner menjerit. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat lonjakan drastis pada komoditas cabai rawit merah, di mana harga rata-rata secara nasional kini telah resmi menembus angka Rp81.052 per kilogram.

Kenaikan harga yang kian "pedas" ini terjadi merata di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di beberapa wilayah luar Pulau Jawa harganya melesat jauh melampaui harga acuan penjualan yang telah ditetapkan pemerintah. Bapanas pun buka suara mengenai faktor utama yang memicu gejolak harga komoditas penting ini.

Kronologi dan Faktor Pemicu Kenaikan Harga

Kenaikan harga cabai tidak terjadi dalam semalam. Bapanas membeberkan serangkaian kendala di sektor hulu dan rantai pasok yang menjadi pemicu utama meroketnya harga cabai rawit di pasaran:

  1. Penurunan Hasil Panen di Sentra Produksi: Anomali cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir memicu gagal panen dan serangan hama penyakit busuk batang serta patek di sejumlah daerah sentra cabai seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Nusa Tenggara.
  2. Penyusutan Pasokan ke Pasar Induk: Akibat penurunan produktivitas petani, volume pasokan cabai rawit yang masuk ke pasar induk regional terpantau menyusut hingga lebih dari 30 persen dari kuota harian normal.
  3. Tingginya Biaya Logistik dan Rantai Distribusi Panjang: Pasokan yang terbatas membuat pedagang harus berebut stok dari daerah sentra yang jauh, sehingga biaya transportasi membengkak dan langsung dibebankan pada harga jual konsumen akhir.
"Faktor cuaca ekstrem sangat memengaruhi produktivitas di tingkat petani. Ketika pasokan dari sentra produksi utama berkurang secara signifikan sementara permintaan pasar tetap stabil, hukum pasar otomatis berlaku dan memicu lonjakan harga di tingkat pedagang eceran," ungkap perwakilan Bapanas.

Disparitas Harga Antarwilayah Kian Melebar

Berdasarkan pantauan Panel Harga Bapanas, disparitas harga antarwilayah tercatat cukup mencolok. Di wilayah sentra produksi Pulau Jawa, harga cabai rawit masih berkisar antara Rp65.000 hingga Rp75.000 per kg. Namun, di daerah kepulauan dan kawasan Indonesia Timur seperti Maluku dan Papua, harga komoditas ini dilaporkan telah menembus lebih dari Rp100.000 per kg.

Kondisi ini praktis menekan daya beli masyarakat, mengingat cabai rawit merupakan salah satu komponen pangan strategis yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap angka inflasi nasional kelompok makanan bergejolak (volatile food).

Langkah Intervensi Pemerintah Redam Gejolak

Guna meredam lonjakan harga yang kian meluas, Bapanas bersama Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah mulai mengambil sejumlah langkah intervensi taktis di lapangan:

  • Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP): Mensubsidi ongkos angkut komoditas cabai dari daerah surplus produksi langsung menuju daerah defisit pasokan untuk memangkas margin pedagang perantara.
  • Gerakan Pangan Murah (GPM): Menggelar operasi pasar secara masif di titik-titik padat penduduk untuk memberikan akses harga pangan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
  • Penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD): Mempercepat kemitraan langsung antara kelompok tani di sentra penghasil dengan BUMD atau asosiasi pedagang di daerah konsumen.

Pemerintah menargetkan pasokan cabai akan kembali stabil secara bertahap seiring masuknya musim panen baru di beberapa sentra alternatif dalam kurun waktu beberapa pekan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User