Aug 28, 2026
entertainment

Banjir Bandang Nepal: 95 Tewas, Ratusan Wisatawan Masih Hilang

Di tepian Sungai Trishuli, Kabupaten Nuwakot, Rabu pagi (26 Agustus 2026), seorang perempuan paruh baya memeluk erat sehelai jaket yang masih basah oleh air sungai. Matanya tak berkedip memandangi tim...

Banjir Bandang Nepal: 95 Tewas, Ratusan Wisatawan Masih Hilang

Di tepian Sungai Trishuli, Kabupaten Nuwakot, Rabu pagi (26 Agustus 2026), seorang perempuan paruh baya memeluk erat sehelai jaket yang masih basah oleh air sungai. Matanya tak berkedip memandangi tim penyelamat yang mondar-mandir membawa para korban banjir bandang menuju tempat yang lebih aman. Di antara deretan wajah yang dibopong, ia mencari satu wajah yang belum juga muncul: wajah putranya yang sehari sebelumnya pergi mengantar rombongan wisatawan menyusuri lembah yang selama bertahun-tahun menjadi penghidupan keluarga mereka.

Banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal itu telah menewaskan sedikitnya 95 orang. Ratusan wisatawan lainnya masih dinyatakan hilang, dan setiap jam yang berlalu membuat harapan semakin menipis. Namun tidak bagi para ibu yang tetap memilih menunggu di tepi sungai. Bagi mereka, selama tubuh anaknya belum ditemukan, selama itu pula doa tidak boleh berhenti.

Air Datang dalam Gelap, Menghantam Tanpa Ampun

Peristiwa itu berlangsung begitu cepat. Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan sejak malam membuat aliran Sungai Trishuli berubah menjadi raksasa yang mengamuk. Warga menceritakan, air naik dalam hitungan menit, menyapu apa pun yang menghalangi jalannya — rumah kayu, warung kecil di pinggir jalan, hingga kendaraan yang membawa wisatawan menuju utara.

Semua terjadi begitu cepat, kami tidak sempat menyelamatkan apa pun. Yang bisa kami lakukan hanyalah berlari dan berdoa, ujar seorang warga setempat dengan suara bergetar, saat menceritakan malam yang mengubah hidupnya selamanya.

Di antara para korban yang berhasil dievakuasi, ada seorang anak perempuan berusia enam tahun yang ditemukan gemetar di atas batu besar di tengah sungai. Ketika seorang petugas menggendongnya ke tempat aman, ia menggenggam erat tangan petugas itu seolah takut ditinggalkan lagi. Momen mengharukan itu menggambarkan betapa cepatnya bencana mengubah hidup seseorang — dari tidur nyenyak di rumah menjadi berjuang bertahan di tengah air yang mengamuk.

Perjuangan Tim Penyelamat di Tengah Arus yang Masih Bergolak

Tim penyelamat bekerja tanpa kenal lelah sejak Rabu pagi. Berbekal tali, tandu darurat, dan keberanian yang jarang dimiliki manusia biasa, mereka menembus arus yang masih bergolak untuk menjangkau korban yang tersangkut di antara bebatuan. Banyak di antara mereka adalah warga setempat yang kehilangan rumahnya sendiri, namun memilih tetap bertugas membantu sesama di tengah duka yang sama-sama mereka rasakan.

Seorang anggota tim penyelamat yang baru saja mengevakuasi seorang anak kecil duduk sejenak, menekuk lutut, dan menunduk dalam-dalam. Ia tidak menangis, hanya menghela napas panjang sebelum kembali berdiri menuju sungai. Pemandangan semacam itu berulang sepanjang hari, menggambarkan perjuangan yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga melukai batin.

Di tengah kekacauan itu, muncul pula kisah tolong-menolong yang menghangatkan hati. Warga setempat membuka rumah-rumah yang masih berdiri untuk menampung wisatawan asing yang selamat. Mereka berbagi makanan hangat, selimut, dan pelukan — hal-hal sederhana yang menjadi sangat berarti ketika hampir segalanya telah diambil oleh air.

Mimpi yang Tertunda dan Doa yang Belum Usai

Di sebuah tenda darurat, seorang pemandu wisata muda membalut lengannya yang terluka. Ia selamat, tetapi teman-teman seperjalanannya belum ditemukan. Dengan mata berkaca-kaca, ia bercerita tentang rombongan yang ia dampingi: sekelompok pejalan kaki dari berbagai negara yang datang membawa mimpi melihat keindahan Himalaya, bukan untuk menghadapi maut di lembah sungai.

Saya masih ingat tawa mereka saat sarapan pagi, tuturnya pelan. Mereka datang untuk bermimpi, bukan untuk mati.

Hingga berita ini ditulis, operasi pencarian masih terus berlangsung. Pemerintah setempat menurunkan helikopter untuk menjangkau lembah-lembah terpencil yang terputus dari jalan darat. Namun hujan yang masih turun sesekali membuat upaya penyelamatan semakin berat. Setiap helikopter yang mendarat selalu disambut harapan, dan setiap tandu kosong yang kembali selalu menyisakan kecemasan baru.

Di tepi Sungai Trishuli, para ibu itu masih duduk menunggu. Seorang di antaranya memegang foto yang sudah luntur dimakan air. Ia menatapnya lama, lalu tersenyum kecil — sebuah senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan, melainkan dari kekuatan yang diberikan cinta seorang ibu kepada anaknya yang belum pulang.

Ia pasti akan kembali, bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun yang mendengar. Air boleh mengambil segalanya, tetapi tidak boleh mengambil harapan.

Di tengah duka yang begitu dalam, kisah-kisah kecil semacam itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka korban, ada nama, ada wajah, ada mimpi, dan ada keluarga yang menunggu. Banjir memang datang menghantam tanpa ampun, tetapi manusia di lembah itu membuktikan satu hal: mereka tidak pernah berhenti berjuang, dan mereka tidak pernah berhenti berharap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User