Sep 18, 2026
Nasional

Bahlil Ungkap Penyebab Utama Krisis Listrik Sulsel dan Kalteng

Halo pembaca Beritaseputar.com! Masalah krisis kelistrikan kembali menjadi sorotan hangat di Tanah Air. Belakangan ini, masyarakat yang berdomisili di wila

Bahlil Ungkap Penyebab Utama Krisis Listrik Sulsel dan Kalteng

Halo pembaca Beritaseputar.com! Masalah krisis kelistrikan kembali menjadi sorotan hangat di Tanah Air. Belakangan ini, masyarakat yang berdomisili di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) harus dihadapkan pada ketidaknyamanan akibat gangguan pasokan daya listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara terbuka membeberkan pemicu utama di balik pemadaman dan defisit listrik yang melanda kedua wilayah strategis tersebut.

Menurut penjelasan Bahlil, penurunan pasokan listrik di Sulsel dan Kalteng berakar pada gangguan operasional yang dialami oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Fenomena cuaca ekstrem dan musim kemarau telah memicu penurunan debit air bendungan secara drastis, sehingga turbin pembangkit tidak sanggup menghasilkan daya listrik secara optimal sesuai kapasitas terpasangnya.

Kronologi Terjadinya Krisis Listrik di Sulsel dan Kalteng

Gangguan pasokan listrik di kedua provinsi ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan merupakan dampak berantai dari iklim dan ketergantungan pada sumber daya air. Berikut adalah urutan kejadian yang memicu terjadinya pemadaman pasokan listrik di wilayah tersebut:

  1. Gelombang Kemarau Melanda: Musim kemarau panjang serta dampak El Nino menyebabkan curah hujan di kawasan Sulawesi dan Kalimantan menurun signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
  2. Penyusutan Volume Air Waduk: Pasokan air pada bendungan-bendungan utama penopang PLTA terus menyusut hingga mencapai level kritis.
  3. Penurunan Output Daya PLTA: Akibat tekanan air yang berkurang, kinerja turbin PLTA mengalami penurunan drastis sehingga pasokan listrik ke jaringan interkoneksi berkurang signifikan.
  4. Penerapan Pemadaman Bergilir: Guna menjaga kestabilan sistem dan mencegah kegagalan total (blackout), PLN mengambil langkah pemadaman listrik secara bergilir bagi konsumen.
  5. Evaluasi dan Intervensi Pemerintah: Kementerian ESDM langsung berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) untuk memetakan penanganan darurat dan percepatan pemulihan daya.

Penyebab Utama Bermasalahnya PLTA dan Evaluasi ESDM

Pemanfaatan PLTA di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah sejatinya merupakan langkah positif dalam mendukung transisi energi hijau berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun, ketergantungan yang tinggi pada iklim membuat sistem kelistrikan sangat rentan saat musim kemarau tiba.

"Wilayah Sulsel dan Kalteng saat ini memang sedang mengalami masalah pasokan listrik. Hal itu terjadi karena adanya gangguan pada kinerja PLTA akibat debit air yang berkurang drastis. Kami terus berkoordinasi intensif dengan PLN agar pemulihan daya dapat dilakukan secepat mungkin," tegas Bahlil Lahadalia.

Dari hasil evaluasi awal Kementerian ESDM, ada beberapa poin penting yang menyebabkan rentannya sistem kelistrikan di kedua daerah tersebut:

  • Ketergantungan Tinggi pada Musim: Pasokan listrik PLTA sangat sensitif terhadap fluktuasi curah hujan dan kondisi hidrologi setempat.
  • Kapasitas Cadangan Belum Optimal: Pembangkit listrik pendukung seperti PLTU atau PLTG membutuhkan waktu transisi untuk menutupi kekurangan beban dari PLTA.
  • Peningkatan Beban Puncak: Pertumbuhan ekonomi dan aktivitas masyarakat membuat konsumsi listrik harian di Sulsel dan Kalteng terus meningkat pesat.

Langkah Mitigasi Darurat dan Strategi Pemulihan PLN

Untuk meminimalkan dampak krisis bagi kegiatan masyarakat dan sektor usaha, Kementerian ESDM menginstruksikan PLN untuk mengoptimalkan pembangkit termal penopang. Pembangkit berbasis bahan bakar fosil dan gas di sekitar wilayah terdampak difungsikan secara maksimal guna menambal defisit daya.

Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan opsi pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan di area tangkapan air bendungan. Langkah ini diharapkan mampu memicu curah hujan sehingga volume air waduk kembali terisi dan mampu memutar turbin PLTA secara normal.

Dalam jangka panjang, Bahlil menegaskan pentingnya diversifikasi EBT. Pemerintah tidak akan hanya mengandalkan PLTA, melainkan memacu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang dilengkapi sistem penyimpanan baterai modern agar ketahanan energi nasional tetap kokoh di segala musim.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User