Di balik layar yang remang, seorang lelaki berdiri memandangi monitor kecil di hadapannya. Sesekali ia tersenyum, sesekali alisnya bertaut. Bagi Awi Suryadi, pemandangan semacam itu bukan sekadar rutinitas kerja, melainkan momen ketika sebuah mimpi perlahan menemukan bentuknya. Bertahun-tahun ia berjuang di industri film Tanah Air, dan setiap proyek yang ia sentuh selalu meninggalkan kisah yang layak dikenang.
Nama Awi lekat dengan film-film horor yang berhasil menyentuh emosi penonton. Namun, tak banyak yang tahu bahwa perjalanannya sebagai sutradara dibentuk oleh tiga pengalaman berbeda: menggarap film dari naskah asli, mengadaptasi karya yang sudah ada, hingga membuat ulang film dari judul lawas. Tiga jalan berbeda itu, ia akui, memperkaya jam terbangnya sebagai seorang pencerita.
Naskah Asli: Ruang Bermain yang Paling Jujur
Bagi Awi, film yang lahir dari naskah asli terasa seperti melukis di atas kanvas kosong. Tak ada beban membandingkan, tak ada bayang-bayang karya sebelumnya. Yang ada hanya keberanian untuk jujur pada intuisi sendiri.
"Ketika cerita itu lahir dari kepala dan hati sendiri, rasanya seperti menelurkan sesuatu yang benar-benar milik kita. Ada ketakutan, tapi juga kebebasan yang luar biasa," ujarnya dengan mata berbinar.
Ia mengisahkan, proses menulis dan mewujudkan cerita orisinal kerap diwarnai keraguan. Namun justru dari keraguan itulah ia belajar mempercayai naluri sebagai pembuat film. Setiap adegan yang berhasil diabadikan kamera terasa seperti kemenangan kecil yang menghangatkan hati.
Adaptasi dan Remake: Menghidupkan Kembali Cerita Orang Lain
Pengalaman berbeda ia rasakan ketika menggarap Sunyi dan Perumahan Laddaland. Kedua film itu datang dengan tantangannya sendiri — bagaimana menghormati karya asalnya, sekaligus memberi napas baru yang relevan bagi penonton Indonesia.
Awi mengaku sempat diliputi kekhawatiran. Membuat ulang film yang sudah dicintai banyak orang bukan pekerjaan ringan. Ada ekspektasi, ada perbandingan, ada risiko mengecewakan penggemar lama. Tetapi ia memilih bangkit dari keraguan itu dan menjadikannya bahan bakar untuk berkarya.
"Saya selalu bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya berikan agar cerita ini terasa dekat dengan penonton kita? Jawabannya selalu kembali ke rasa, ke kejujuran bercerita," kenangnya.
Dari dua proyek itulah kemampuannya kian terasah. Ia belajar membaca karakter budaya, menakar ketegangan, dan menemukan cara baru menyampaikan ketakutan yang manusiawi — bukan sekadar kejutan sesaat, melainkan rasa yang tinggal lama setelah lampu bioskop kembali menyala.
Di Balik Layar: Kolaborasi yang Menghangatkan
Perjalanan Awi tak lepas dari orang-orang yang percaya pada mimpinya. Di bawah naungan rumah produksi yang dipimpin Manoj Punjabi, ia menemukan ruang untuk bertumbuh. Dukungan itu, kata Awi, bukan sekadar urusan produksi, melainkan kepercayaan yang membuatnya berani mengambil risiko.
Kehangatan serupa ia rasakan saat bekerja dengan para pemain, termasuk Titi Kamal. Di lokasi syuting, Awi dikenal sebagai sutradara yang dekat dengan aktornya — mendengarkan, berdiskusi, dan memastikan setiap orang merasa dihargai. Momen-momen sederhana di sela pengambilan gambar sering kali menjadi kenangan yang paling ia simpan rapat.
"Film itu kerja kolektif. Ketika semua orang merasa memiliki cerita yang sama, keajaiban itu muncul. Itu yang selalu bikin saya terharu," tuturnya.
Mimpi yang Terus Menyala
Kini, setelah melewati beragam rupa cerita, Awi memandang perjalanannya dengan penuh syukur. Baginya, tak ada pengalaman yang sia-sia. Naskah asli mengajarinya keberanian, adaptasi mengajarinya kepekaan, dan remake mengajarinya kerendahan hati.
Ia berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi pembuat film muda yang sedang berjuang menemukan jalannya. Bahwa setiap cerita — dari mana pun asalnya — layak diperjuangkan dengan hati yang tulus.
"Selama masih ada cerita yang ingin disampaikan, saya akan terus membuat film. Sederhana saja: ini cara saya mencintai hidup," katanya, tersenyum.
Dan di balik layar yang remang itu, lelaki yang sama masih berdiri memandangi monitornya — menunggu mimpi berikutnya menemukan cahayanya.
Comments (0)