Di sudut sebuah ruangan yang dipenuhi poster film dan buku skenario, seorang komedian yang juga dikenal sebagai sineas duduk termenung. Layar ponselnya masih menyala, menampilkan unggahan terbaru tentang daftar nominasi Festival Film Indonesia 2026. Arie Kriting, pria yang tumbuh dari panggung komedi hingga kursi sutradara itu, menghela napas. Bukan karena iri atau kecewa atas pencapaian orang lain, melainkan karena ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang ia rasa perlu disuarakan, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangun perfilman Indonesia yang ia cintai.
Malam itu, melalui akun media sosialnya, Arie menuliskan sebuah kritik terbuka. Bukan kritik pedas yang menyerang, melainkan sebuah renungan panjang tentang bagaimana sebuah festival sebesar FFI seharusnya menjadi rumah bagi semua cerita, bukan hanya bagi mereka yang sudah mapan. Ia mengisahkan perjalanan panjang film-film independen yang berjuang dari layar kampung hingga bioskop nasional, namun sering kali hanya menjadi pelengkap di daftar nominasi. “Saya hanya ingin festival ini benar-benar merangkul semua,” tulisnya dalam unggahan yang menyentuh banyak hati.
Ketika Panggung Besar Terasa Jauh dari Rumah
Arie bukanlah nama baru di industri film Tanah Air. Ia telah membuktikan bahwa tawa bisa menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan-pesan mendalam. Namun, di balik kesuksesannya, ia tahu betul bagaimana rasanya menjadi bagian dari kelompok yang sering dianggap pinggiran. Film-film dari Indonesia timur, cerita-cerita dari daerah terpencil, dan karya-karya sineas muda yang penuh ide segar kerap kali hanya bisa menonton dari kejauhan. Mereka berjuang dengan anggaran seadanya, dengan peralatan apa adanya, tetapi menyimpan mimpi yang luar biasa besar.
Dalam kritiknya, Arie menyoroti pentingnya keberpihakan kepada karya-karya yang lahir dari keterbatasan. Ia tidak menuntut penghapusan nominasi yang sudah ada, melainkan mendorong agar FFI membuka ruang lebih luas bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan. “Jangan sampai festival ini hanya jadi pesta orang-orang yang sama setiap tahun,” ujarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi menusuk kesadaran banyak pihak. Ia ingin festival menjadi cermin keberagaman, bukan cermin dinding yang hanya memantulkan wajah yang itu-itu saja.
Air Mata di Balik Layar yang Tak Pernah Terlihat
Di balik setiap film yang masuk nominasi, ada air mata yang tak pernah terekam kamera. Ada sutradara yang harus menggadaikan motor untuk membiayai produksi, ada penulis skenario yang menulis di sela-sela pekerjaan sampingan, dan ada aktor yang harus menempuh perjalanan berjam-jam demi satu adegan. Arie mengisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan seorang pembuat film dari Nusa Tenggara yang harus menjual hasil panen keluarganya untuk membeli tiket pesawat ke Jakarta, hanya demi menghadiri pemutaran filmnya di sebuah festival kecil. “Orang seperti ini yang sering luput dari perhatian,” katanya dengan nada getir.
Kritik Arie bukanlah tanpa dasar. Ia menyoroti bagaimana sistem penjurian dan kurasi sering kali terjebak pada selera pasar dan nama besar. Padahal, di pelosok-pelosok negeri, ada begitu banyak cerita yang menunggu untuk diangkat. Ia mengajak FFI untuk turun ke bawah, mendengar langsung suara-suara dari komunitas film daerah, dan menjadikan mereka bagian dari perayaan, bukan sekadar penonton. “Kita butuh festival yang bukan hanya merayakan yang sudah jadi, tapi juga yang sedang berjuang,” tegasnya.
Sebuah Harapan yang Tidak Ingin Padam
Meski kritiknya tajam, Arie tidak pernah kehilangan harapan. Ia percaya bahwa FFI masih bisa menjadi rumah besar bagi semua insan film Indonesia. Ia berharap kritiknya diterima sebagai bentuk cinta, bukan permusuhan. “Saya menulis ini karena saya sayang sama film Indonesia,” ujarnya. Baginya, festival bukan sekadar ajang penghargaan, tetapi juga panggung untuk saling menguatkan, saling belajar, dan saling menginspirasi.
Respons pun datang dari berbagai kalangan. Beberapa sineas muda mengucapkan terima kasih karena merasa suaranya diwakili. Ada pula yang berharap agar kritik ini menjadi titik balik bagi FFI untuk lebih inklusif. Arie sendiri tidak ingin berhenti di kritik. Ia berencana untuk terus berkarya, membuat film-film yang mengangkat cerita dari daerah, dan membuktikan bahwa kualitas tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran.
Di akhir unggahannya, Arie menulis kalimat yang begitu sederhana namun menggetarkan: “Mimpi tidak perlu panggung megah untuk bersinar.” Kalimat itu seolah menjadi mantra bagi setiap pembuat film yang sedang berjuang di garis depan, yang mungkin tidak pernah masuk nominasi, tetapi tidak pernah berhenti bercerita. Kritik Arie Kriting adalah cermin bagi FFI, sekaligus pelukan hangat bagi mereka yang selama ini berjuang dalam sunyi. Dan dari kritik yang lahir dari hati, perubahan besar sering kali dimulai.
Comments (0)