Oct 15, 2026
entertainment

Di Balik Laporan Ruben Onsu: Ketika Rekaman Pribadi Jadi Beban

Langkah kaki Ruben Onsu terdengar berat saat menyusuri koridor sebuah ruang penyidik di kawasan Jakarta Selatan. Bukan panggung hiburan yang ia tuju pagi itu, melainkan meja pemeriksaan. Di hadapannya...

Di Balik Laporan Ruben Onsu: Ketika Rekaman Pribadi Jadi Beban

Langkah kaki Ruben Onsu terdengar berat saat menyusuri koridor sebuah ruang penyidik di kawasan Jakarta Selatan. Bukan panggung hiburan yang ia tuju pagi itu, melainkan meja pemeriksaan. Di hadapannya tergeletak setumpuk berkas dan sebuah berkas laporan yang ia tanda tangani sendiri. Pria yang selama bertahun-tahun dikenal lewat tawa dan kehangatan di layar kaca itu datang membawa luka yang tak kasat mata.

Laporan itu bukan soal popularitas. Bukan pula soal panggung atau kontrak kerja. Ini soal sesuatu yang jauh lebih pribadi: sebuah rekaman video call yang belakangan beredar luas hingga masuk ke ruang-ruang percakapan publik. Dua orang dilaporkan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik terkait penyebaran rekaman tersebut. Bagi Ruben, langkah hukum ini adalah jalan terakhir yang ia ambil setelah ruang privatnya terasa dibongkar paksa.

Sebuah Rekaman yang Tak Pernah untuk Publik

Mengisahkan kronologi yang ia jalani, Ruben menyebut rekaman itu semula bukan materi yang ia siapkan untuk konsumsi siapa pun. Ia menggambarkannya sebagai bagian dari komunikasi personal, sebuah momen yang seharusnya tinggal di ruang tertutup antara dirinya dan orang-orang terdekat. Namun teknologi punya cara sendiri membocorkan batas. Rekaman itu kemudian muncul di ruang publik, salah satunya melalui unggahan Sarwendah, sosok yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya.

"Ini bukan soal siapa yang salah atau siapa yang benar di mata orang banyak. Ini soal batas. Batas antara apa yang boleh dibuka dan apa yang harus dijaga," tutur Ruben dalam pernyataan yang disampaikan dengan nada datar, namun jelas menyimpan beban. Ia tak sedang mencari simpati. Ia hanya ingin memastikan tak ada lagi ruang bagi penyebaran konten yang ia anggap melanggar hak pribadinya.

Perjalanan kasus ini tak berjalan sederhana. Sebelum melapor, Ruben mengaku sempat menahan diri. Ia mempertimbangkan banyak hal: anak-anak, keluarga besar, dan nama baik yang telah ia bangun puluhan tahun. Namun ketika rekaman itu terus menyebar, ia merasa tak punya pilihan selain menempuh jalur hukum. "Saya tidak bisa terus diam. Kalau diam, seolah saya membenarkan semua ini," ujarnya.

Air Mata di Balik Layar Hukum

Di balik dokumen dan pasal-pasal UU ITE yang disebut dalam laporannya, ada manusia yang sedang berjuang menata kembali rasa aman. Ruben mengaku beberapa malam terakhir sulit tidur. Ia memikirkan bagaimana anak-anaknya akan menanggapi semua ini ketika mereka tumbuh besar nanti. Pikirannya melayang pada momen-momen sederhana yang kini terasa jauh, seperti sarapan pagi tanpa gangguan notifikasi dan panggilan yang datang silih berganti.

"Saya hanya ingin anak-anak saya tahu bahwa ayahnya berdiri untuk sesuatu yang benar. Bukan karena benci, tapi karena saya ingin mereka belajar menghormati batas orang lain," ucapnya dengan suara yang sempat bergetar.

Laporan yang ia ajukan bukan tanpa konsekuensi. Nama Ruben kembali menjadi perbincangan hangat, kali ini bukan karena karya, melainkan karena konflik. Namun ia memilih menerima risiko itu. Bagi pria yang lama dikenal sebagai sosok hangat di televisi, ini adalah ujian yang mengajarkannya bahwa keberanian tak selalu tampak gagah. Kadang keberanian justru hadir dalam bentuk duduk sendirian di ruang penyidik, menandatangani berkas, dan menahan air mata di depan orang asing.

Bangkit Lewat Batas yang Diperjuangkan

Ruben tak ingin kasus ini menjadi tontonan yang menguras energi. Ia berharap langkah hukum yang ia tempuh menjadi pengingat bahwa rekaman pribadi bukanlah komoditas untuk dikonsumsi siapa saja. Ia menyebut pentingnya kesadaran bersama soal privasi di era digital, ketika satu file bisa berpindah tangan dalam hitungan detik dan meninggalkan luka yang bertahan bertahun-tahun.

"Saya tahu ini panjang. Tapi saya ingin ini jadi pelajaran, bukan cuma buat saya, tapi buat semua orang. Bahwa ada harga yang harus dibayar kalau kita sembarangan," katanya. Ia menegaskan tak menaruh dendam pada siapa pun, termasuk pada mereka yang ia laporkan. Yang ia kejar bukan balas dendam, melainkan kejelasan dan keadilan.

Menjelang senja, Ruben meninggalkan ruang pemeriksaan dengan langkah yang tak lagi seberat kedatangannya. Di luar, beberapa awak media menunggu. Ia hanya tersenyum tipis, mengangguk singkat, lalu berlalu. Di balik sosok publik yang selalu tampil ceria, ada seorang manusia yang sedang berjuang memulihkan satu hal yang paling dasar: rasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Kisah Ruben Onsu bukan sekadar berita hukum. Ini tentang mimpi sederhana untuk hidup tanpa bayang-bayang rekaman yang tak pernah ia niatkan untuk dibagikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User