Aug 25, 2026
entertainment

Angga The Potters dan Perjalanan Bangkit dari Tanah Liat

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, debu tanah liat menari-nari pelan di bawah cahaya lampu yang kekuningan. Seorang pria membungkuk di atas meja putar, kedua tangannya basah, menjepit segumpal ...

Angga The Potters dan Perjalanan Bangkit dari Tanah Liat

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, debu tanah liat menari-nari pelan di bawah cahaya lampu yang kekuningan. Seorang pria membungkuk di atas meja putar, kedua tangannya basah, menjepit segumpal tanah liat yang perlahan berubah bentuk di antara jemarinya. Suara gerinda berputar berirama, seperti detak jantung yang tenang. Itulah Angga The Potters, seniman keramik asal Yogyakarta yang namanya kini dikenal luas oleh para pencinta seni, meski perjalanan menuju pengakuan itu sama sekali tidak mulus.

Namanya mulai menggema lewat video-video pendek yang hanya berdurasi sekitar satu menit: tangan-tangan kokoh yang mengubah tanah liat kusam menjadi vas, cangkir, hingga patung kecil penuh ekspresi. Ribuan orang berhenti menggulir layar hanya untuk menonton hingga selesai. Namun di balik layar ketenaran itu, tersimpan perjalanan panjang seorang pemuda yang pernah ragu apakah tangannya cukup layak untuk menyentuh mimpi.

Momen Mengharukan di Balik Meja Putar

Angga mengenang awal mula segalanya dengan nada pelan dan mata yang sedikit berkaca. Kala itu, ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah seorang pemuda biasa yang jatuh cinta pada tekstur tanah liat saat mengikuti kursus singkat kerajinan di kotanya. “Aku pulang ke rumah dengan tangan penuh lumpur dan hati penuh pertanyaan. Apakah ini benar-benar bisa menjadi jalan hidupku?” kenangnya.

Kursus singkat itu hanya membekalinya dasar-dasar. Sisanya, ia belajar sendiri di kamar kos yang sempit, membeli tanah liat dari sisa uang makan, dan berlatih hingga larut malam. Banyak karya pertamanya retak di dalam tungku, hancur sebelum sempat dipamerkan. Air mata sempat jatuh di atas pecahan keramik yang gagal itu. Namun setiap kegagalan justru mengajarinya satu hal sederhana: tanah liat tidak pernah menolak untuk dibentuk kembali, dan ia pun tidak boleh menolak untuk bangkit.

Perjuangan yang Tidak Pernah Terlihat

Bertahun-tahun lamanya, Angga berjuang dalam keheningan. Ia menolak menyerah meski penghasilannya pas-pasan, meski hasil karyanya kerap ditolak di pameran-pameran kecil, meski orang-orang terdekatnya meragukan masa depan seorang “tukang gerabah”. “Banyak yang bilang, untuk apa susah-susah bermain tanah? Lebih baik kerja kantoran saja,” tuturnya. Tapi ia memilih mendengar suara kecil di dalam hatinya yang tak pernah padam, suara yang meyakinkannya bahwa seni bukan soal gelar, melainkan soal kejujuran hati.

Perlahan, ia menemukan ciri khasnya: bentuk-bentuk organik yang terinspirasi alam, permukaan kasar yang sengaja dibiarkan apa adanya, dan goresan tangan yang tidak pernah berusaha menjadi sempurna. Kejujuran itulah yang akhirnya membuat karyanya berbeda dari yang lain. Ketika video pertamanya diunggah ke media sosial, Angga tidak menyangka responsnya begitu hangat. “Aku menangis di malam hari membaca komentar orang-orang. Mereka bilang karya-karyaku menyentuh. Aku tidak percaya, karena selama ini aku hanya merasa sedang bertahan hidup,” katanya, dengan suara yang bergetar.

Mimpi yang Dibakar di Dalam Tungku

Kini, studio kecilnya menjadi semacam rumah bagi para pencinta keramik. Banyak anak muda datang untuk belajar, menyalakan api mimpi mereka sendiri di tungku yang sama. Angga percaya bahwa keramik bukan sekadar benda mati; setiap lekuknya menyimpan cerita, setiap retaknya menyimpan pelajaran. Ia kerap berkata bahwa menjadi perajin adalah menjadi saksi waktu: dari tanah yang diam, lahir sesuatu yang bisa bertahan ratusan tahun.

Di tengah popularitas yang terus naik, ia tetap memilih hidup sederhana. Ia menolak memperbesar studio secara berlebihan dan menolak memproduksi massal, karena baginya kehangatan sebuah karya justru ada pada sentuhan tangan yang tidak bisa ditiru mesin. “Aku ingin orang-orang tahu bahwa mimpi tidak harus besar untuk menjadi nyata. Cukup dimulai dari segumpal tanah liat dan dua tangan yang tidak mau berhenti,” ujarnya sambil tersenyum.

Inspirasi untuk Mereka yang Ingin Bangkit

Kisah Angga The Potters adalah pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari jalan yang lurus. Ia datang dari kegigihan yang senyap, dari malam-malam panjang yang tak terlihat orang lain, dan dari keberanian untuk memulai dari nol. Kini, setiap kali ia memutar meja putarnya, ia seperti sedang memutar kembali kisah hidupnya sendiri yang dulu nyaris hancur, dan kini terus berputar menuju bentuk yang lebih utuh.

Bagi siapa pun yang sedang berada di titik terendah, Angga berpesan: jangan buru-buru menyerah. “Suatu hari, tanah liat yang paling keras pun bisa menjadi karya paling indah. Begitu juga dengan kita,” katanya. Sebuah kalimat sederhana, namun cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya tersenyum, dan percaya bahwa mereka juga mampu bangkit dari genggaman tanah yang paling gelap sekalipun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User