Di sebuah ruangan studio yang tidak terlalu luas, Andovi Da Lopez duduk memandangi layar ponselnya. Matanya tertuju pada sebuah gambar yang baru saja dikirimkan lewat pesan singkat. Sesekali ia tersenyum kecil, lalu menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya. Gambar itu adalah teaser poster film terbarunya, Bapak Paling Jujur. Namun yang membuatnya terpana bukan sekadar desainnya, melainkan sosok yang berdiri di sampingnya dalam poster tersebut: Soleh Solihun.
"Saya kaget waktu lihat posternya. Kok bisa ya, kami kelihatan serasi banget di situ? Padahal kami belum pernah main bareng sebelumnya," ujar Andovi dengan tawa lepas, mengisahkan momen mengharukan itu kepada wartawan di Jakarta, belum lama ini. Baginya, poster sederhana itu bukan cuma alat promosi, melainkan cermin dari perjalanan panjang yang ia dan Soleh lalui selama proses syuting.
Perjalanan Panjang Menuju Layar Lebar
Bagi Andovi, proyek ini bukan sekadar tawaran biasa. Ia mengaku sudah lama mencari peran yang bisa menantangnya keluar dari zona nyaman. Selama ini, nama Andovi lebih dikenal sebagai kreator konten digital bersama sang kakak, Jovial Da Lopez. Namun di balik layar kaca, ada mimpi yang ia simpan rapi: menjadi aktor yang mampu menyentuh hati penonton lewat cerita humanis.
"Saya sudah lama ingin main film yang benar-benar bisa bikin orang merenung, bukan cuma ketawa. Waktu baca skrip Bapak Paling Jujur, saya langsung jatuh cinta. Ceritanya sederhana, tapi jujur. Tentang keluarga, tentang kejujuran yang kadang menyakitkan," tuturnya dengan mata berbinar.
Proses syuting berlangsung selama beberapa minggu di berbagai lokasi di Jakarta dan sekitarnya. Andovi mengisahkan bagaimana ia dan Soleh sering duduk bersama di sela jeda pengambilan gambar, berbagi cerita tentang keluarga masing-masing. Dari obrolan ringan itu, chemistry di antara mereka tumbuh alami. "Soleh itu orangnya kalem, tapi punya cara unik untuk bikin saya rileks. Kami jadi seperti bapak dan anak sungguhan," kenangnya.
Chemistry yang Tak Disengaja
Dalam poster yang membuat Andovi terpukau, terlihat ia dan Soleh berdiri berdampingan dengan ekspresi yang kontras namun menyatu. Andovi dengan tatapan penuh tanya, sementara Soleh tersenyum tipis penuh makna. Komposisi itu, menurut Andovi, terjadi secara alami tanpa banyak arahan dari sutradara.
"Kami cuma diminta berdiri dan berekspresi natural. Tapi hasilnya seperti bercerita sendiri. Mungkin karena kami sudah nyaman satu sama lain," ujar pria kelahiran Denpasar itu. Ia pun merasa poster tersebut berhasil menyampaikan pesan film tanpa perlu banyak kata.
Bagi Soleh Solihun, yang juga hadir dalam wawancara terpisah, kerja sama dengan Andovi adalah pengalaman menyenangkan. "Andovi itu pekerja keras. Dia sering mengajak diskusi soal karakter, soal dialog yang mungkin bisa lebih pas. Saya salut," kata Soleh sambil tersenyum.
Harapan di Balik Cerita Sederhana
Menjelang perilisan film, Andovi berharap Bapak Paling Jujur bisa menjadi cermin bagi banyak keluarga di Indonesia. Ia percaya, kejujuran—meski kadang pahit—selalu punya tempat di hati penonton. "Film ini bukan tentang siapa yang benar atau salah. Ini tentang berani jujur pada orang yang kita cintai. Saya ingin orang tua dan anak-anak bisa menonton ini bersama, lalu pulang dengan obrolan yang lebih terbuka," ujarnya penuh haru.
Poster yang sempat membuatnya kaget itu kini menjadi pengingat akan perjalanan panjang yang penuh air mata dan tawa. Dari studio kecil, latihan dialog, hingga momen-momen sederhana di lokasi syuting, semuanya mengalir menjadi satu cerita yang ia banggakan. "Kalau kata orang, jangan menilai buku dari sampulnya. Tapi untuk film ini, saya berani bilang, sampulnya saja sudah bikin hati saya hangat. Semoga penonton merasakan hal yang sama," tutup Andovi.
Comments (0)