Di sebuah ruang latihan berukuran tidak lebih dari 4x5 meter, dengan piano hitam yang sudah menemaninya lebih dari satu dekade, Alfred Young Sugiri duduk termenung. Jemarinya masih hangat setelah memainkan Nocturne karya Chopin. Di luar jendela, senja Jakarta perlahan turun, tetapi di dalam ruangan itu, ada sesuatu yang berbeda—sebuah surel yang baru saja dibukanya membuat matanya berkaca-kaca.
Surel itu bukan sekadar pesan biasa. Isinya adalah undangan resmi untuk kembali tampil dalam konser orkestra dan chamber music di berbagai panggung bergengsi Eropa pada tahun depan. Bagi pianis muda kelahiran Surabaya ini, undangan tersebut bukan hanya pencapaian karier, melainkan buah dari perjalanan panjang yang penuh air mata, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus.
“Saya membaca surel itu tiga kali. Saya tidak percaya. Rasanya seperti mimpi yang tidak ingin saya bangunkan,” ujarnya dengan suara bergetar saat mengisahkan momen mengharukan itu.
Perjalanan Alfred menuju panggung dunia tidaklah instan. Ia mulai belajar piano pada usia lima tahun, bukan di sebuah konservatori mewah, melainkan di sebuah sekolah musik sederhana di kampungnya. Ibunya, seorang guru SD, harus merelakan sebagian penghasilan untuk membayar les piano. Sang ayah, seorang pedagang kelontong, sering mengantar Alfred dengan sepeda motor tua menembus hujan demi satu jam pelajaran yang tak boleh terlewat.
“Saya ingat betul, sepatu saya sering basah kuyup. Tapi Bapak selalu bilang, ‘Nak, panggung dunia itu dibangun dari langkah-langkah kecil yang tidak menyerah’,” kenangnya.
Dari Ruang Sederhana ke Aula Konser Dunia
Alfred bukan tipe pianis yang tumbuh dalam sorotan. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di balik pintu tertutup, berlatih hingga larut malam. Namun, dedikasinya mulai membuahkan hasil ketika ia memenangkan sejumlah kompetisi nasional. Namanya mulai diperbincangkan di kalangan musisi klasik Indonesia. Undangan pertamanya ke Eropa datang beberapa tahun lalu, sebuah debut yang tidak mudah ia lupakan.
“Saat pertama kali berdiri di panggung sana, lutut saya gemetar. Tapi begitu jari menyentuh tuts, semuanya hilang. Hanya ada musik,” tuturnya.
Kini, undangan itu datang lagi. Beberapa kota di Eropa telah masuk dalam jadwalnya. Ia akan tampil bersama orkestra dan juga dalam format chamber music yang lebih intim—sebuah kesempatan yang menurutnya sangat personal.
“Chamber music itu seperti berbicara dari hati ke hati. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Semua perasaan telanjang di sana,” kata Alfred dengan mata berbinar.
Air Mata di Balik Kesuksesan
Di balik pencapaian itu, ada kisah yang jarang ia ceritakan. Beberapa tahun lalu, Alfred pernah berada di titik terendah. Ia gagal dalam sebuah audisi penting, dan sempat berpikir untuk berhenti bermusik. Tekanan ekonomi dan ekspektasi membuatnya nyaris menyerah.
“Saya menangis di depan piano. Saya bilang ke Ibu, mungkin saya tidak berbakat,” kenangnya.
Tetapi sang ibu hanya memeluknya dan berkata, “Piano bukan soal menang atau kalah. Piano adalah cara kamu berbicara kepada dunia.” Kata-kata itu menjadi titik balik. Alfred bangkit, kembali berlatih, dan mulai menerima setiap kegagalan sebagai bagian dari perjalanan.
Kini, ia ingin menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Indonesia yang bermimpi besar dari tempat sederhana. Ia berencana mengadakan kelas master dan berbagi pengalaman setelah kembali dari Eropa nanti.
“Saya ingin mereka tahu, mimpi itu tidak memilih siapa yang kaya atau terkenal. Mimpi memilih siapa yang mau berjuang,” tegasnya.
Sebuah Doa yang Menjadi Nyata
Menjelang keberangkatannya nanti, Alfred masih menjalani rutinitas yang sama: berlatih empat hingga enam jam sehari, membaca partitur, dan sesekali membantu ibunya berjualan di pasar pagi. Baginya, kesuksesan tidak menghapus akar kesederhanaan yang membentuknya.
“Saya masih orang yang sama. Yang berubah hanya panggungnya,” ucapnya sambil tersenyum.
Di sudut ruang latihan itu, piano hitamnya masih setia menunggu. Dan Alfred Young Sugiri, dengan segala luka dan mimpinya, bersiap membawa nama Indonesia mengudara di panggung-panggung Eropa. Sebuah perjalanan yang dimulai dari langkah kecil, air mata, dan keyakinan bahwa musik adalah bahasa paling jujur dari jiwa manusia.
Comments (0)