Di sebuah sudut ruangan yang sunyi, ponsel Daus Mini terus bergetar. Bukan notifikasi tawaran pekerjaan atau sapaan hangat dari sahabat, melainkan ribuan pesan berisi cacian dan ancaman. Komedian bertubuh mungil itu mengisahkan bagaimana hidupnya mendadak berubah mimpi buruk selama beberapa pekan terakhir. Semua bermula dari akun media sosial palsu yang mencatut namanya dan menyebarkan konten provokatif bernada ujaran kebencian.
"Saya syok, bukan main," ujar Daus dengan suara berat saat ditemui di kediamannya. "Tiap buka HP, yang muncul hinaan. Saya bahkan sempat takut keluar rumah."
Momen Ketika Nama Baik Dicatut
Perjalanan Daus di dunia hiburan memang tak pernah mulus. Ia bangkit dari panggung-panggung kecil, berjuang menembus industri yang kerap memandang sebelah mata. Namun badai kali ini terasa berbeda. Akun tak dikenal mengunggah sejumlah konten berisi provokasi, seolah-olah suami sah dari seorang wanita yang tengah menjadi perhatian publik itu tengah melontarkan ujaran kebencian. Publik yang tak sempat menelisik langsung menyerbu kolom komentar.
"Orang-orang percaya begitu saja. Mereka tidak cek dulu, ini akun asli atau bukan," kisahnya lirih. Air mata nyaris jatuh saat ia menuturkan bahwa keluarganya ikut merasakan dampaknya. Istrinya, kata Daus, sempat diteror pesan-pesan bernada kasar. "Anak dan istri saya jadi korban. Itu yang paling menyakitkan."
Dampak Sosial yang Tak Terlihat
Bagi banyak orang, akun palsu mungkin sekadar gangguan kecil. Tapi bagi Daus, dampaknya sosialnya nyata dan berkepanjangan. Ia mengaku beberapa rekan kerja mulai menjaga jarak, takut terseret isu. Undangan tampil di sejumlah acara mendadak hilang. "Ada yang bilang, 'Nanti dulu ya, ada isu'. Padahal saya tidak melakukan apa-apa," ucapnya getir.
Psikolog sosial yang kami hubungi menjelaskan bahwa korban penipuan identitas digital sering mengalami tekanan psikologis berat. "Mereka dihukum oleh publik tanpa proses. Ini bentuk kekerasan sosial yang sering diabaikan," jelasnya.
Perjuangan Membersihkan Nama
Daus tak tinggal diam. Ia melaporkan akun palsu tersebut ke pihak berwenang dan platform media sosial. Prosesnya tak mudah. Butuh waktu berminggu-minggu, verifikasi berlapis, hingga akhirnya akun itu dinonaktifkan. "Saya berjuang bukan cuma untuk diri sendiri, tapi untuk siapa pun yang pernah jadi korban," tegasnya.
"Mimpi saya sederhana: menghibur orang. Tapi kalau nama saya dipakai untuk hal buruk, saya harus lawan."
Kini Daus perlahan bangkit. Ia kembali tampil, meski sesekali masih ada komentar sinis yang menyelip. Ia memilih fokus pada keluarga dan pekerjaan yang dicintainya. "Hidup itu tidak mudah, tapi saya tidak akan berhenti. Ini perjalanan yang membuat saya lebih kuat," tutupnya sambil tersenyum tipis, menyembunyikan luka yang mungkin butuh waktu lama untuk sembuh.
Comments (0)