Aug 25, 2026
entertainment

Aksara Nusantara, Jejak Baru Kebanggaan Menulis Indonesia

Di sudut ruang kelas berukuran 5x6 meter yang diterangi cahaya sore, sebatang kapur menari pelan di papan tulis. Pak Suryo, guru yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade, menuliskan deretan huruf ya...

Aksara Nusantara, Jejak Baru Kebanggaan Menulis Indonesia

Di sudut ruang kelas berukuran 5x6 meter yang diterangi cahaya sore, sebatang kapur menari pelan di papan tulis. Pak Suryo, guru yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade, menuliskan deretan huruf yang belum pernah ia kenal semasa muda. Anak-anak mencondongkan badan ke depan, mata mereka berbinar-binar. “Ini bukan huruf asing,” ucapnya lirih. “Ini bagian dari rumah kita sendiri.”

Momen mengharukan itu sebenarnya menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar. Nusantara selama ini dikenal kaya akan bahasa, budaya, dan tradisi. Namun hanya sedikit orang yang menyadari bahwa di balik kekayaan tersebut tersimpan pula beragam aksara yang lahir dari berbagai wilayah—masing-masing membawa cerita, filosofi, dan perjuangannya sendiri.

Kini, Indonesia patut menyambut babak baru: sebuah sistem tulisan teranyar yang merangkul seluruh kekayaan itu dalam satu naungan. Ia tidak dimaksudkan untuk menggantikan aksara daerah, melainkan menjadi jembatan yang mempertemukan semuanya.

Perjalanan Panjang Aksara di Nusantara

Perjalanan aksara di Nusantara adalah kisah yang panjang dan berliku. Dari ujung barat hingga timur, para leluhur menorehkan pikiran mereka di atas daun lontar, batu, bambu, hingga kulit kayu. Setiap goresan menyimpan mimpi dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.

Setiap daerah memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang menulis dari kiri ke kanan, ada pula yang mengalir mengikuti arah tertentu. Bentuknya pun berbeda-beda: ada yang tegas dan bersudut, ada yang lembut dan melengkung. Perbedaan itu tidak membuatnya asing. Justru di sanalah letak keindahannya—betapa kayanya cara leluhur merekam kehidupan.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, banyak dari aksara itu mulai jarang digunakan. Generasi muda lebih akrab dengan papan ketik dan layar gawai dibandingkan goresan aksara warisan. Di balik layar kemajuan zaman, ada semacam keheningan yang menyelimuti warisan tulis-menulis itu.

Bangkitnya Sistem Tulisan Teranyar

Di tengah kekhawatiran itulah hadir Aksara Nusantara. Sistem tulisan teranyar ini lahir bukan untuk melupakan masa lalu, melainkan untuk memeluknya. Ia menjadi simbol bahwa kekayaan aksara dari berbagai wilayah bukanlah beban yang saling meniadakan, melainkan warna-warni yang saling melengkapi.

“Saya menangis ketika pertama kali melihatnya,” aku Pak Suryo dalam perbincangan santai setelah jam pelajaran usai. “Bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya ada sesuatu yang membuat anak-anak kami merasa bahwa tulisan mereka juga punya tempat.”

Bagi Pak Suryo, kehadiran Aksara Nusantara seperti angin segar di tengah padang yang mulai kering. Ia mengingat masa-masa ketika murid-muridnya bertanya mengapa aksara daerah mereka tidak pernah diajarkan di sekolah. Pertanyaan polos itu selalu membuatnya terdiam.

Sekarang, pertanyaan itu perlahan menemukan jawabannya. Dengan semangat yang sama seperti menanam benih di ladang, para guru mulai memperkenalkan aksara ini kepada generasi penerus. Mereka percaya, selama masih ada tangan yang mau menulis, selama itu pula sebuah peradaban akan terus bernapas.

Harapan yang Tumbuh di Tangan Muda

Di kelas Pak Suryo, seorang siswi bernama Rara pernah berkata bahwa menulis dengan aksara Nusantara membuatnya merasa seperti sedang “menari dengan huruf”. Anak-anak lain tertawa mendengarnya, tetapi Pak Suryo mengangguk pelan. Ia paham betul apa yang dirasakan muridnya itu: ada kebanggaan yang tumbuh diam-diam ketika tangan kita menorehkan huruf yang lahir dari tanah sendiri.

Kebanggaan semacam itulah yang ingin ditumbuhkan lebih luas. Karena pada akhirnya, sebuah sistem tulisan tidak hanya berbicara tentang bentuk huruf. Ia berbicara tentang identitas, tentang harga diri, dan tentang keyakinan bahwa bangsa ini memiliki sesuatu yang layak dijaga dan diwariskan.

Di banyak tempat, para pegiat budaya mulai merintis kelas-kelas kecil. Mereka mengajarkan aksara ini dengan cara sederhana: lewat permainan, lagu, hingga cerita sebelum tidur. Tak butuh gedung megah atau alat mahal. Cukup kertas, pena, dan kesabaran untuk menuntun tangan-tangan kecil menemukan bentuknya sendiri.

Di tengah zaman yang serba cepat, gerakan itu terasa seperti perlawanan yang lembut namun berani. Sebuah penegasan bahwa kemajuan tidak harus berarti melupakan. Bahwa di sela-sela hiruk pikuk dunia digital, masih ada tempat bagi goresan yang lahir dari hati.

Senja semakin turun ketika Pak Suryo menutup pelajaran. Ia menatap papan tulis yang penuh goresan aksara, lalu tersenyum. “Saya hanya ingin anak-anak tahu,” katanya pelan, “bahwa mereka tidak mulai dari nol. Mereka berjalan di atas jejak panjang yang telah disiapkan oleh nenek moyang kita.”

Di luar jendela, anak-anak berlarian pulang sambil tertawa. Sebagian dari mereka masih mengeja huruf-huruf baru yang baru saja mereka pelajari. Mungkin mereka belum sepenuhnya paham, tetapi benih itu sudah tertanam. Dan benih yang ditanam dengan cinta, suatu hari pasti akan berbunga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User