Sep 18, 2026
Nusa Tenggara Timur

Akademisi Unand Ungkap Perbedaan Muara Dua Sungai Pasca-Banjir Sumbar

Halo pembaca Beritaseputar.com! Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera Barat beberapa waktu lalu ternyata menyisakan jejak perubahan alam yan

Akademisi Unand Ungkap Perbedaan Muara Dua Sungai Pasca-Banjir Sumbar

Halo pembaca Beritaseputar.com! Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera Barat beberapa waktu lalu ternyata menyisakan jejak perubahan alam yang sangat signifikan. Tim akademisi dari Universitas Andalas (Unand) Padang baru-baru ini merilis hasil investigasi lapangan terkait kondisi muara dua sungai utama, yakni Batang Kuranji di Kota Padang dan Batang Anai di Kabupaten Padang Pariaman. Studi ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak luapan air terhadap struktur sedimentasi dan morfologi pesisir pantai setempat.

Pengamatan yang dilakukan oleh para peneliti Unand ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah. Pasalnya, aliran banjir yang membawa material vulkanik dan sampah kayu dari hulu telah mengubah sedimentasi di **2 lokasi muara sungai** tersebut secara drastis, namun dengan karakter kerusakan yang bertolak belakang. Penasaran bagaimana perbedaan kondisi di kedua sungai tersebut? Yuk, kita bedah kronologi pengamatan dan analisisnya berikut ini!

Kronologi Penelusuran Peneliti Unand di Lapangan

Proses inventarisasi data perubahan lingkungan ini dilakukan secara bertahap oleh tim ahli hidrologi dan pesisir Unand setelah intensitas hujan mulai menurun. Berikut adalah rangkaian urutan kejadian dan pengamatan di lokasi:

  1. Fase Luapan Utama (Hari Ke-1): Banjir bandang menerjang area hulu hingga membawa debit air raksasa sebesar **1.200 meter kubik per detik** menuju ke hilir kedua sungai.
  2. Fase Penumpukan Material (Hari Ke-2 hingga Ke-4): Terjadi pengendapan material kayu, lumpur tebal, dan batuan di area muara sungai yang memicu penyumbatan aliran alami menuju laut lepas.
  3. Fase Analisis Lapangan (Hari Ke-7): Tim peneliti Unand menerjunkan tim pemetaan drone dan pengambilan sampel sedimen untuk mengukur tingkat pendangkalan serta pergeseran garis pantai.

Analisis Komparatif: Batang Kuranji vs Batang Anai

Dari hasil survei udara dan pemetaan spasial, akademisi Unand menemukan perbedaan mendasar pada karakter perubahan fisik muara Batang Kuranji dan Batang Anai. Batang Kuranji yang membelah kawasan padat penduduk Kota Padang mengalami penyumbatan akibat tingginya retensi sampah domestik dan kayu. Sebaliknya, muara Batang Anai yang memiliki bukaan lebih lebar mengalami pergeseran alur lidah muara akibat dorongan gelombang laut dan arus sungai yang sangat kuat.

Berikut adalah tabel perbandingan data kondisi kedua muara sungai berdasarkan temuan riset akademisi Unand:

Parameter Pengamatan Muara Batang Kuranji (Padang) Muara Batang Anai (Padang Pariaman)
Tingkat Pendangkalan Sedimen Tinggi (mencapai **2,5 meter**) Sedang (tersebar merata ke laut)
Penyebab Utama Penyumbatan Sedimen lumpur & debris kayu Endapan Pasir & Kerikil Vulkanik
Pergeseran Garis Pantai Maju ke laut sejauh **45 meter** Terabrasi/Mundur sejauh **30 meter**
Status Risiko Banjir Susulan Sangat Tinggi (Aliran Terhambat) Sedang (Membutuhkan Normalisasi)

Peneliti senior hidrologi dari Unand menegaskan bahwa perbedaan karakteristik ini dipengaruhi oleh geometri muara serta keberadaan bangunan pelindung pantai di sekitar lokasi kejadian.

"Muara Batang Kuranji mengalami penumpukan sedimen yang sangat masif di bibir muara karena arusnya tertahan oleh tutupan bangunan pesisir. Jika tidak segera dikeruk, risiko air laut pasang yang berkolaborasi dengan luapan sungai akan mengancam pemukiman warga di Kota Padang," ujar Dr. Eng. Zahrul Umar, salah satu peneliti utama Unand.

Langkah Mitigasi dan Rekomendasi Para Ahli

Melihat kondisi kritis di kedua lokasi tersebut, akademisi Unand memberikan beberapa rekomendasi teknis yang harus segera dieksekusi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatra V:

  • Pengerukan mekanis segera pada endapan sedimen setebal **2,5 meter** di muara Batang Kuranji untuk memperlancar arus air menuju laut.
  • Pembersihan **puluhan ton** sisa-sisa material kayu yang membendung pintu muara sungai agar tidak memicu banjir genangan baru.
  • Penataan ulang dan perbaikan tanggul pemecah gelombang (breakwater) di muara Batang Anai guna mencegah erosi pesisir yang lebih parah.
  • Pemasangan sistem peringatan dini (Early Warning System) berbasis debit air di area transisi muara sungai.

Kajian mendalam dari para akademisi Unand ini diharapkan dapat menjadi rujukan utama bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan strategi penanggulangan bencana tata ruang pesisir Sumatera Barat secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User