Oct 13, 2026
entertainment

30 Tahun Ungu: Panggung Perpisahan yang Penuh Haru dan Syukur

Di sebuah ruangan studio di kawasan Jakarta Selatan, lima pria duduk melingkar. Gitar akustik bersandar di sofa, cangkir kopi mulai dingin, dan tawa kecil sesekali pecah di antara mereka. Di dinding t...

30 Tahun Ungu: Panggung Perpisahan yang Penuh Haru dan Syukur

Di sebuah ruangan studio di kawasan Jakarta Selatan, lima pria duduk melingkar. Gitar akustik bersandar di sofa, cangkir kopi mulai dingin, dan tawa kecil sesekali pecah di antara mereka. Di dinding tergantung foto lama: rambut gondrong, kemeja longgar, dan sorot mata anak muda yang belum tahu bahwa perjalanan mereka akan bertahan tiga dekade. Momen sederhana itu menjadi saksi bagaimana Ungu bersiap menutup satu bab besar dalam sejarah musik Indonesia.

Grup band yang berdiri sejak pertengahan 1990-an ini mengisahkan perjalanan panjang 30 tahun berkarya. Bukan waktu yang singkat untuk sebuah band yang pernah melewati berbagai dinamika personel, perubahan selera pasar, dan badai industri musik. Kini mereka memilih merayakannya sekaligus mengucapkan salam perpisahan lewat sebuah konser bertajuk Waktu Yang Dinanti: Final Chapter, yang digelar bekerja sama dengan ANTAM.

Perjalanan Panjang di Balik Lagu-Lagu Kenangan

Bagi banyak penggemar, nama Ungu tidak sekadar identitas sebuah band. Ia adalah latar belakang dari kisah cinta pertama, perjalanan pulang sekolah, atau malam-malam penuh haru yang diiringi lagu Kekasih Gelapku dan Demi Waktu. Vokalis Pasha ungkap bahwa setiap lagu yang mereka bawakan bukan hanya milik band, tetapi juga milik jutaan orang yang tumbuh bersama musik mereka.

“Setiap kali kami menyanyikan lagu lama, selalu ada momen mengharukan. Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang memeluk pasangannya. Itu yang membuat kami bertahan selama ini,” tutur Pasha dengan mata berkaca-kaca.

Di balik panggung megah, ada cerita yang jarang terungkap. Masa-masa sulit pernah melanda ketika salah satu personel memutuskan hengkang dan band hampir kehilangan arah. Namun mereka bangkit, merangkul kembali mimpi yang sempat goyah, dan memilih melanjutkan perjalanan dengan formasi yang kini diperkuat oleh Enda, Oncy, Makki, dan Rowman.

Bukan Akhir, Melainkan Perayaan Rasa Syukur

Makna Final Chapter sendiri bukan berarti Ungu benar-benar berhenti bernyanyi. Bagi mereka, ini adalah cara untuk merayakan perjalanan dengan penuh kesadaran. Pasha menyebut keputusan ini sebagai bentuk syukur atas semua yang sudah mereka dapatkan: dari panggung kecil di kafe kampus hingga arena yang dipenuhi ribuan orang.

“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang pernah menyanyikan lagu kami, yang pernah menangis karena lirik kami, dan yang setia menunggu kami di setiap kota. Konser ini adalah panggung perpisahan yang bahagia,” tambahnya.

Kolaborasi dengan ANTAM dinilai sebagai langkah strategis sekaligus simbolik. Dukungan dari perusahaan tambang pelat merah itu memungkinkan konser digelar dengan produksi besar, tata cahaya megah, dan kualitas suara terbaik. Namun yang paling penting, kerja sama ini memberi ruang bagi Ungu untuk menyapa penggemar di berbagai daerah yang selama ini hanya bisa mendengar lewat layar kaca.

Menghidupkan Mimpi Lama di Panggung Terakhir

Persiapan menuju konser berlangsung penuh dinamika. Di ruang latihan, Pasha dan kawan-kawan rela mengulang satu bagian lagu belasan kali demi hasil sempurna. Enda sibuk meracik aransemen baru, mencoba menyisipkan warna musik yang segar tanpa menghilangkan keaslian nada-nada nostalgia. Oncy terlihat serius menekuri not-not drum, sementara Makki dan Rowman sibuk menyelaraskan nada bass dan kibor.

 

“Kami ingin malam itu jadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan. Bukan hanya untuk kami, tapi untuk semua yang pernah menyukai Ungu,” ujar Enda.

Di sela-sela latihan, mereka sempat mengenang masa-masa ketika harus mengamen dari satu radio ke radio lain demi lagu diputar. Ada air mata, ada tawa, dan ada rasa syukur yang mendalam. Setiap nada yang mereka mainkan kini terasa lebih bermakna karena datang dari perjalanan yang panjang.

Menyentuh Hati dan Menginspirasi Generasi Baru

Konser ini juga menjadi bukti bahwa musik tidak pernah benar-benar berhenti pada satu generasi. Banyak penggemar muda yang baru mengenal Ungu dari tangga lagu digital, ikut menantikan momen tersebut. Di media sosial, ungkapan haru membanjiri kolom komentar. Mereka menuliskan kenangan, doa, dan rasa terima kasih kepada band yang telah menemani mereka dalam banyak fase kehidupan.

Bagi Ungu, 30 tahun bukan hanya soal hitungan tahun. Ini tentang perjuangan menjaga kekompakan, menghormati proses, dan tetap rendah hati. Final Chapter menjadi penanda bahwa sebuah akhir bisa dirayakan dengan penuh kehangatan, bukan kesedihan yang menyayat.

Malam konser nanti mungkin akan menjadi panggung perpisahan. Namun siapa pun tahu, lagu-lagu Ungu akan tetap hidup di hati mereka yang pernah merasakan getarannya. Seperti kata Pasha, “Selama masih ada orang yang menyanyikan lagu kami, Ungu tidak pernah benar-benar pergi.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User