Di sebuah ruangan konferensi di kawasan Jakarta, seorang pria berbaju abu-abu berdiri di depan microphone. Wajahnya tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di matanya malam itu. Enda Ungu bukan sedang bersiap memainkan gitar basnya seperti biasa. Ia sedang bersiap menuturkan sebuah perjalanan panjang yang telah mengalir selama tiga dekade.
Konferensi pers bertajuk "Antam presents 30 Tahun Berkarya Ungu Waktu Yang Dinanti Final Chapter" itu menjadi momen mengharukan bagi sang bassist. Di hadapan awak media, ia mengisahkan bagaimana band yang dibentuknya bersama teman-teman masa mudanya kini sampai di persimpangan terakhir. Sebuah babak yang, menurutnya, bukan sekadar penutup, melainkan perayaan atas mimpi yang bertahan jauh melampaui yang pernah ia bayangkan.
Perjalanan Panjang yang Tak Pernah Ia Duga
Enda mengaku tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan yang dimulai dari panggung-panggung kecil bertahun-tahun silam akan berlangsung selama ini. "Jujur, dulu kami hanya ingin bermain, ingin berkarya," ujarnya dengan suara yang sesekali bergetar. "Tidak pernah terlintas di pikiran kami bisa sampai tiga puluh tahun."
Baginya, angka tiga dekade bukan hanya hitungan waktu. Ada air mata yang tumpah di balik layar, ada perjuangan yang tak terlihat publik, dan ada momen-momen ketika ia dan rekan-rekannya hampir kehilangan arah. Namun, sesuatu selalu membuat mereka bangkit kembali: keyakinan bahwa musik mereka masih berarti bagi banyak orang.
Kisah itu terasa sederhana, tetapi menyentuh. Enda mengenang masa-masa awal ketika mereka harus berjuang dari satu panggung ke panggung lain, membawa mimpi yang belum tentu disambut. Kini, ribuan orang menyanyikan lagu-lagu mereka. Inspirasi itu, katanya, bukan datang dari mereka, melainkan dari para penggemar yang setia menunggu.
Momen Mengharukan di Balik Panggung
Dalam kesempatan itu, Enda berbicara pelan tentang arti "final chapter". Ia tidak ingin perpisahan ini dipandang sebagai akhir yang menyedihkan. Sebaliknya, ia menyebutnya sebagai bentuk syukur. "Kami ingin menyelesaikan perjalanan ini dengan baik, dengan cara yang pantas," tuturnya.
Ada momen ketika ia terdiam sejenak, menarik napas, dan tersenyum tipis. Ia mengingat bagaimana setiap lagu yang mereka ciptakan selalu lahir dari cerita manusiawi, dari kesedihan, kebahagiaan, dan harapan yang dirasakan bersama. Di balik panggung megah, mereka tetaplah sekelompok manusia yang belajar mencintai apa yang mereka kerjakan.
Konferensi pers itu menjadi semacam ruang refleksi. Enda tidak hanya bicara soal tur atau penampilan. Ia bicara soal rasa terima kasih, soal keluarga yang selalu mendukung, dan soal teman-teman yang tumbuh bersamanya. "Kami tumbuh bersama, berjuang bersama, dan sekarang kami ingin menutupnya bersama," ujarnya.
Warisan yang Tak Akan Hilang
Meski babak akhir mulai mendekat, Enda yakin musik Ungu akan tetap hidup. Lagu-lagu mereka, katanya, bukan milik band ini semata. Mereka telah menjadi milik siapa pun yang pernah merasa dikuatkan olehnya. Itulah warisan yang tidak bisa dihapus oleh waktu.
Ia berharap perjalanan panjang ini bisa menjadi inspirasi bagi musisi muda. Bahwa berkarya bukan soal hasil instan, melainkan soal kesetiaan dan ketulusan. "Kalau kami bisa bertahan tiga puluh tahun, mungkin karena kami tidak pernah berhenti mencintai apa yang kami lakukan," ucapnya.
Di akhir pertemuan, Enda tersenyum lebih lebar. Ada kelegaan di wajahnya, ada pula haru yang tertahan. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan segera berakhir, tetapi ia juga tahu bahwa kisah mereka tidak akan pernah benar-benar selesai. Karena selama masih ada orang yang menyanyikan lagunya, selama itu pula Ungu akan terus hidup di hati penggemarnya.
Comments (0)