Oct 11, 2026
entertainment

Warisan Rasa Gulai Cumi Padang, Kelembutan yang Diwariskan dari Dapur Ibu

Di sudut dapur berukuran tak lebih dari tiga kali tiga meter, aroma rempah memenuhi udara. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depan kompor, tangannya cekatan mengaduk kuah kuning keemasan. Seseka...

Warisan Rasa Gulai Cumi Padang, Kelembutan yang Diwariskan dari Dapur Ibu

Di sudut dapur berukuran tak lebih dari tiga kali tiga meter, aroma rempah memenuhi udara. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depan kompor, tangannya cekatan mengaduk kuah kuning keemasan. Sesekali ia mencium wangi yang mengepul, memastikan tak ada satu bumbu pun yang kurang. Di hadapannya, seekor cumi segar menunggu untuk diolah menjadi hidangan yang telah ia masak selama lebih dari tiga dekade.

Begitulah momen yang kerap terjadi di rumah-rumah keluarga Minang. Gulai cumi bukanlah sekadar makanan. Ia adalah perjalanan panjang sebuah tradisi, kisah tentang kesabaran, dan warisan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di balik kuahnya yang kental dan berwarna cerah, tersimpan rahasia kelembutan yang membuat siapa pun tak bisa berhenti menyantapnya.

Rempah yang Tak Boleh Diskip

Keistimewaan gulai cumi khas Padang terletak pada perpaduan bumbu yang kaya. Kunyit, jahe, lengkuas, kemiri, dan serai ditumbuk hingga halus sebelum dimasak bersama santan kelapa. Proses menumbuk ini tak bisa digantikan oleh blender. Ada tekstur dan aroma yang hanya muncul ketika bumbu diulek dengan tangan, begitu kata para juru masak senior.

Santan menjadi kunci berikutnya. Untuk mendapatkan kuah yang gurih dan tidak pecah, santan harus dimasak dengan api kecil sambil terus diaduk. Kesabaran di sini benar-benar diuji. Terlalu cepat, kuah akan menggumpal. Terlalu lama, cumi justru menjadi keras seperti karet.

"Cumi itu ikan yang sensitif," ujar seorang pedagang masakan Minang yang telah berjualan sejak 1990-an. "Kalau dimasak terlalu lama, dia marah. Kuahnya jadi pahit, dagingnya alot. Jadi kita harus tahu kapan harus angkat."

Seni Mengolah Cumi agar Empuk

Banyak orang mengeluh cumi menjadi keras setelah dimasak. Padahal, ada trik sederhana yang diwariskan turun-temurun. Cumi harus dibersihkan dengan air jeruk nipis dan garam sebelum dimasukkan ke dalam kuah. Proses ini menghilangkan bau amis sekaligus menjaga tekstur kenyalnya.

Yang tak kalah penting adalah waktu memasukkan cumi. Cumi baru dimasukkan ketika kuah benar-benar matang dan mendidih. Setelah itu, api dikecilkan dan cumi dibiarkan sekitar lima hingga tujuh menit saja. Jika lebih dari itu, kelembutan yang diimpikan akan hilang. "Saya selalu bilang, masukkan cumi paling akhir. Jangan digodok lama-lama. Cukup sampai dia berubah warna dan mengapung," tutur seorang ibu rumah tangga yang rutin memasak gulai untuk acara keluarga.

Hasilnya? Cumi yang lembut, hampir seperti meleleh di mulut, dengan kuah kuning yang meresap sampai ke dalam. Momen ketika keluarga berkumpul dan menyantapnya bersama nasi hangat menjadi momen mengharukan tersendiri. Di meja makan sederhana, tawa dan cerita mengalir, seolah semua lelah hari itu luruh bersama suapan terakhir.

Lebih dari Sekadar Hidangan

Bagi masyarakat Minang, gulai cumi bukan hanya menu sehari-hari. Ia hadir di acara-acara penting: pernikahan, syukuran, hingga hari raya. Hidangan ini melambangkan kemewahan yang sederhana, bukti bahwa sesuatu yang istimewa bisa lahir dari dapur kecil dengan peralatan seadanya.

Perempuan-perempuan yang memasaknya pun menyimpan kisah masing-masing. Ada yang belajar dari ibu, ada yang meniru nenek, dan tak sedikit yang memulai dari kegagalan berkali-kali. "Pertama kali masak, kuah saya pecah. Cumi alot. Saya menangis karena malu," kenang seorang penjual gulai yang kini sukses. "Tapi dari situ saya belajar. Sekarang justru pelanggan yang menunggu gulai saya."

Inspirasi dari sepiring gulai cumi memang tak pernah habis. Ia mengajarkan tentang kesabaran, tentang menghargai proses, dan tentang cinta yang dituangkan lewat masakan. Setiap suapan adalah cerita. Setiap kuah adalah perjuangan. Dan setiap dapur, sekecil apa pun, bisa menjadi tempat lahirnya mimpi.

Di era serba cepat seperti sekarang, resep gulai cumi khas Padang mengingatkan kita pada satu hal: bahwa hal-hal terbaik tidak pernah datang instan. Ia butuh waktu, ketelatenan, dan tentu saja, sedikit sentuhan tangan yang tak bisa digantikan oleh mesin. Seperti yang dikatakan para tetua, memasak adalah seni menuangkan rasa, bukan sekadar mengikuti instruksi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User