Oct 11, 2026
entertainment

Tiga Dekade Ungu, Waktu yang Dinanti Akhirnya Tiba

Di sebuah ruangan konferensi di kawasan Jakarta, lima pria berdiri berjajar di depan mikrofon. Wajah mereka tak lagi muda, namun sorot mata mereka masih menyimpan nyala yang sama seperti tiga dekade s...

Tiga Dekade Ungu, Waktu yang Dinanti Akhirnya Tiba

Di sebuah ruangan konferensi di kawasan Jakarta, lima pria berdiri berjajar di depan mikrofon. Wajah mereka tak lagi muda, namun sorot mata mereka masih menyimpan nyala yang sama seperti tiga dekade silam. Pasha, Makki, Enda, Oncy, dan Rowman tak sedang bersiap menghibur ribuan orang di atas panggung megah. Sore itu, mereka hanya ingin bercerita tentang perjalanan panjang yang akhirnya sampai di ujungnya.

Konferensi pers bertajuk "30 Tahun Berkarya Ungu: Waktu Yang Dinanti Final Chapter" itu menjadi momen mengharukan bagi para personel. Bukan karena mereka berhenti berkarya, melainkan karena mereka memilih menutup satu bab besar dengan cara yang mereka inginkan sendiri. "Kami ingin pamit dengan indah," ujar sang vokalis dengan suara yang sedikit bergetar, seperti dikutip dari momen tersebut.

Perjalanan yang Tak Selalu Mulus

Di balik gemerlap panggung dan jutaan kopi album yang terjual, kisah Ungu sesungguhnya dibangun dari hal-hal sederhana. Mereka mengisahkan masa-masa awal ketika hanya bermain di kafe kecil, meminjam alat musik, dan berjuang agar lagu mereka didengar. Ada air mata, ada penolakan, dan ada momen ketika mereka hampir menyerah. Namun, mimpi yang sama membuat mereka bangkit berkali-kali.

"Dulu kami cuma anak-anak yang percaya kalau musik bisa mengubah hidup. Ternyata benar," kenang salah satu personel. Perjalanan tiga dekade itu tak hanya melahirkan lagu-lagu yang melekat di hati penggemar, tetapi juga persaudaraan yang bertahan melewati pasang surut industri musik.

Alasan di Balik Final Chapter

Keputusan menutup babak ini bukan datang tiba-tiba. Para personel mengaku butuh waktu bertahun-tahun untuk berdiskusi, merenung, dan akhirnya sepakat bahwa ini adalah waktu yang tepat. Mereka ingin mengakhiri dengan cara yang bermartabat, bukan karena kehabisan ide, melainkan karena ingin memberi ruang bagi hal-hal baru dalam hidup mereka.

"Ini bukan perpisahan yang sedih. Ini perayaan," tegas mereka. Bagi Ungu, 30 tahun adalah anugerah yang tak semua musisi bisa rasakan. Karena itu, mereka memilih menutupnya dengan sebuah karya dan pertunjukan yang layak dikenang.

Harapan untuk Penggemar Setia

Di sudut ruangan itu, terlihat beberapa kru dan jurnalis yang tumbuh besar bersama lagu-lagu Ungu. Suasana haru begitu terasa ketika para personel menyampaikan terima kasih kepada penggemar yang setia menemani perjalanan mereka. "Kalian adalah alasan kami bertahan selama ini," ucap mereka dengan mata berkaca-kaca.

Meski disebut sebagai final chapter, para personel tak menutup kemungkinan untuk tetap berkarya dalam bentuk lain. Yang jelas, mereka ingin pamit dengan indah, meninggalkan warisan musik yang menyentuh hati banyak orang. Kisah Ungu mungkin akan berakhir di satu bab, namun inspirasinya akan terus hidup dalam lagu-lagu yang mereka tinggalkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User