Oct 10, 2026
entertainment

Tiga Dekade Ungu, Makki dan Janji Perpisahan yang Penuh Air Mata

Di sebuah ruangan konferensi di kawasan Jakarta, lampu sorot menyorot sosok pria bertubuh mungil yang berdiri di belakang podium. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah mikrofon, sementara matanya me...

Tiga Dekade Ungu, Makki dan Janji Perpisahan yang Penuh Air Mata

Di sebuah ruangan konferensi di kawasan Jakarta, lampu sorot menyorot sosok pria bertubuh mungil yang berdiri di belakang podium. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah mikrofon, sementara matanya menatap ratusan jurnalis dan kamera yang menunggu. Suasana hening sejenak. Makki Ungu menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. Di balik senyum itu, ada perjalanan tiga dekade yang tidak pernah ia bayangkan akan sampai di titik ini.

"Rasanya baru kemarin kami manggung di kafe kecil, jumlah penontonnya belum sampai 50 orang," ujarnya pelan, suaranya bergetar namun tetap tegas. Momen itu bukan sekadar konferensi pers biasa. Malam itu, Makki mengumumkan sebuah babak akhir dari perjalanan band yang telah melahirkan banyak kenangan bagi jutaan penggemar di Tanah Air.

Konferensi pers bertajuk "Antam presents 30 Tahun Berkarya Ungu Waktu Yang Dinanti Final Chapter" itu menjadi ruang bagi Makki untuk mengisahkan apa yang tak pernah terlihat di atas panggung. Ia bercerita tentang masa-masa sulit ketika bandnya nyaris bubar, tentang air mata yang jatuh diam-diam di balik layar, dan tentang mimpi sederhana yang terus mereka rawat sejak pertengahan 1990-an.

Jejak Langkah yang Tak Selalu Mulus

Makki mengisahkan bahwa perjalanan tiga dekade bukanlah garis lurus tanpa hambatan. Ada masa ketika panggung sepi, ada masa ketika kritik datang bertubi-tubi, dan ada masa ketika ia mempertanyakan apakah dirinya masih pantas berdiri di sana. Namun, di balik semua itu, ia selalu mengingat pesan mendiang ayahnya.

"Kata bapak saya dulu, kalau kamu merasa lelah, ingat saja orang-orang yang tersenyum saat mendengar suaramu. Itu yang membuat saya bertahan sampai hari ini."

Kalimat itu ia ucapkan dengan mata berkaca-kaca. Bagi Makki, musik bukan sekadar profesi. Ia adalah ruang di mana ia bisa jujur, tempat ia menuangkan luka dan bahagianya. Setiap lirik yang ia tulis, kata dia, adalah potongan kecil dari hidupnya yang ia bagikan kepada penggemar.

Selama tiga dekade, perjalanan ini bukan hanya miliknya. Ada ratusan orang di belakang layar yang ikut berjuang, mulai dari penata suara, kru panggung, hingga keluarga yang rela ditinggal selama berminggu-minggu untuk tur. Makki menyebut mereka sebagai "keluarga kedua" yang tak pernah ia lupakan.

Momen Mengharukan di Balik Panggung

Di sela-sela konferensi pers, Makki mengenang salah satu momen yang paling menyentuh hatinya. Saat itu, di sebuah kota kecil, seorang ibu paruh baya datang ke konser dengan membawa foto anaknya yang telah meninggal. Ibu itu berkata bahwa lagu-lagu Ungu adalah teman terakhir anaknya sebelum berpulang.

"Saya tidak bisa menahan air mata saat itu. Saya sadar, apa yang kami lakukan ternyata bisa menemani orang di saat paling gelap dalam hidupnya," tuturnya.

Kisah itu, lanjut Makki, menjadi pengingat bahwa karya yang lahir dari kesederhanaan bisa menyentuh jauh lebih dalam daripada yang dibayangkan. Ia pun berjanji bahwa babak akhir ini bukan berarti perpisahan yang menyedihkan, melainkan perayaan atas semua yang pernah mereka lalui bersama.

Final Chapter, Awal dari Cerita Baru

Bagi banyak penggemar, pengumuman ini terasa seperti kehilangan. Namun Makki ingin mengubah cara pandang itu. Ia menyebut "Final Chapter" sebagai bentuk syukur, bukan perpisahan yang menyesakkan. Ia berharap setiap orang yang pernah mendengarkan lagu-lagu Ungu bisa mengenang perjalanan ini dengan senyum.

"Setiap cerita memang harus punya akhir. Tapi akhir bukan berarti berhenti berkarya. Saya akan tetap menulis, tetap bernyanyi, mungkin dengan cara yang berbeda," ujarnya optimistis.

Konferensi pers itu berakhir dengan tepuk tangan panjang. Makki meletakkan mikrofonnya perlahan, lalu menghampiri beberapa penggemar yang menunggu di luar ruangan. Ia menyapa mereka satu per satu, memeluk erat beberapa di antaranya. Seorang penggemar tampak menangis, dan Makki hanya berkata, "Terima kasih sudah menemani perjalanan panjang ini."

Di balik gemerlap panggung dan sorotan lampu, ada seorang Makki yang sederhana, yang berjuang, dan yang tak pernah lupa dari mana ia berasal. Tiga dekade telah ia lewati. Kini, ia bersiap menutup satu bab dengan kepala tegak, sambil menyimpan sejuta kenangan yang akan terus hidup dalam lagu-lagu yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User