Oct 10, 2026
entertainment

Tanjung Lesung, Permata Pantai yang Bangkit dari Keterpurukan

Pagi masih bergulung pelan di pesisir Pandeglang ketika Rosmawati, 47 tahun, membuka kayu lantai warung kecilnya. Asap kopi mengepul tipis, bercampur aroma ikan bakar yang baru saja diangkat dari bara...

Tanjung Lesung, Permata Pantai yang Bangkit dari Keterpurukan

Pagi masih bergulung pelan di pesisir Pandeglang ketika Rosmawati, 47 tahun, membuka kayu lantai warung kecilnya. Asap kopi mengepul tipis, bercampur aroma ikan bakar yang baru saja diangkat dari bara. Dari teras warungnya, garis pantai Tanjung Lesung membentang memanjang, dengan pasir putih yang tampak masih basah oleh embun semalam. Inilah titik di mana kisah warga setempat dan para pelancong saling bersinggungan.

Bagi banyak orang, Tanjung Lesung dikenal sebagai kawasan ekonomi khusus pariwisata di ujung barat Banten. Namun jika menelisik lebih dekat, tempat ini menyimpan perjalanan panjang: dari kampung nelayan yang sunyi, menjadi primadona liburan, lalu terguncang oleh bencana, dan kini berjuang bangkit dengan cerita baru yang lebih hangat.

Dari Kampung Nelayan Menjadi Primadona

Rosmawati mengisahkan, puluhan tahun lalu pantai ini sepi. Nelayan pulang membawa hasil laut yang cukup untuk sekadar mengisi dapur keluarga. Anak-anak berlari di tepi air dengan kaki telanjang, sementara perahu kayu tertambat di antara batu karang. Tidak ada pengunjung dari luar kota, tidak ada deretan penginapan, dan tidak ada suara musik yang meramaikan senja.

Perlahan, kabar tentang air laut yang jernih dan ombak yang ramah mulai menyebar. Tamu-tamu pertama datang, biasanya dari Jakarta dan sekitarnya, mencari pelarian dari hiruk-pikuk kota. Mereka datang dengan tenda, memasak sendiri, dan tidur di bawah langit yang penuh bintang. Dari situ, tempat ini berkembang menjadi salah satu destinasi favorit di Banten.

"Dulu cuma yang kenal warga sini yang tahu pantai ini. Sekarang tamu datang hampir tiap akhir pekan, bahkan dari luar negeri. Saya senang, tapi juga kangen suasana dulu yang tenang," kata Rosmawati sambil tersenyum.

Pemerintah kemudian menetapkan kawasan ini sebagai bagian dari pengembangan pariwisata prioritas. Jalan diakses lebih mudah, fasilitas dasar mulai dibenahi, dan usaha mikro lokal tumbuh mengikuti arus kunjungan. Warung nelayan berubah menjadi restoran pantai, homestay sederhana menjamur di gang-gang desa, dan anak muda mulai berani bermimpi membuka usaha sendiri.

Momen yang Mengubah Segalanya

Namun perjalanan destinasi ini tidak selalu mulus. Ketika gempa dahsyat mengguncang wilayah Banten dan Lampung pada akhir 2018, Tanjung Lesung berada di garis paling depan. Ombak besar menghantam pemukiman, perahu pecah, dan fasilitas wisata lumpuh seketika. Bagi warga, air mata dan rasa takut bercampur jadi satu dalam hitungan menit.

Kisah kebangkitan justru lahir dari momen paling kelam itu. Warga bergotong royong membersihkan puing, memperbaiki jaring ikan, dan menyusun kembali warung yang hancur. Relawan datang dari berbagai daerah, membawa bantuan sekaligus semangat. Pelan tetapi pasti, pantai kembali dibuka untuk umum.

Salah satu warga yang berjuang keras adalah Hendra, 52 tahun, nelayan sekaligus pengelola penginapan kecil. Ia menghitung lebih dari tiga bulan sebelum kembali melaut dengan tenang. "Waktu itu yang penting semua keluarga selamat. Soal kerugian, bisa dicari lagi. Yang hilang harus kita ganti dengan usaha," ujarnya.

Pariwisata yang Membawa Berkah untuk Warga

Kini, denyut Tanjung Lesung terasa kembali. Aktivitas snorkeling dan selancar kembali ramai, perahu nelayan berangkat menjelang fajar, dan pedagang cenderamata menggelar dagangan di sepanjang akses pantai. Yang membanggakan, banyak usaha yang dijalankan langsung oleh keluarga lokal, bukan hanya pemain besar dari luar.

Masyarakat sekitar juga mulai dilibatkan dalam pelatihan layanan, kebersihan pantai, hingga pengelolaan ekowisata. Terumbu karang yang sempat rusak dirawat kembali, dan edukasi tentang lingkungan diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak sekolah. Bagi mereka, menjaga alam bukan sekadar program, melainkan menjaga sumber penghidupan.

"Kalau laut bersih, tamu senang, anak-anak kami nanti masih bisa cari nafkah di sini. Itu mimpi kami yang paling sederhana," kata Hendra dengan suara bergetar.

Perjalanan Tanjung Lesung mengajarkan satu hal sederhana: sebuah tempat tidak dikenal karena fasilitas mewahnya semata, melainkan karena manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Dari Rosmawati yang membuka warung sebelum matahari terbit, hingga Hendra yang kembali mendayung perahu setelah badai berlalu, semuanya menautkan hidup mereka dengan pantai ini.

Bagi siapa pun yang sedang menyusun rencana liburan, kawasan ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan indah. Ada kisah, ada perjuangan, dan ada undangan tulus untuk duduk bersama warga, menikmati ikan bakar, sambil mendengar suara ombak yang tak pernah berhenti bercerita.

Tanjung Lesung membuktikan bahwa bangkit dari keterpurukan selalu mungkin, asalkan ada tangan yang saling menggenggam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User