Di sudut Embung Doho, Wonogiri, Jawa Tengah, angin sore berembus pelan menyapu permukaan air yang tenang. Di sana, di sebuah taman yang baru saja dibuka, Siti Rahayu—seorang ibu muda—mengusap peluh di dahinya sambil menata dagangan. Sejak pagi ia sudah sibuk menyiapkan nasi liwet dan aneka gorengan. "Dulu saya hanya jualan di depan rumah, sepi pembeli. Sekarang, di sini, ramai terus," ujarnya dengan mata berbinar.
Peresmian Taman Kuliner Doho pada 7 Oktober 2026 menjadi momen yang mengharukan bagi warga sekitar. Bukan sekadar tempat makan, taman ini adalah simbol kebangkitan ekonomi kecil di kawasan pedesaan. Coca-Cola Foundation Indonesia, melalui program tanggung jawab sosialnya, meresmikan taman ini setelah melalui perjalanan panjang yang melibatkan warga setempat. Di balik gemerlap acara, ada kisah perjuangan yang tak banyak orang tahu.
Ketika Mimpi Warga Mulai Tumbuh
Sebelum taman kuliner berdiri, area Embung Doho hanya berupa tanah lapang yang jarang dikunjungi orang. Beberapa pedagang keliling sempat mencoba peruntungan, tetapi tidak ada tempat tetap. "Kami sering diusir, karena dianggap mengganggu pemandangan. Tapi di sini kami bertahan, karena inilah satu-satunya cara kami mencari makan," kenang Warsito, seorang pedagang bakso yang sudah belasan tahun mangkal di sekitar embung.
Kisah Warsito adalah kisah banyak orang. Mereka bukan hanya pedagang, tetapi juga tulang punggung keluarga. Ketika program pemberdayaan dari Coca-Cola Foundation Indonesia masuk, warga diajak bermusyawarah. Bukan sekadar membangun fisik, pendekatan yang dilakukan adalah mendengarkan kebutuhan mereka. "Awalnya kami ragu. Tapi ketika mereka bertanya, 'Apa yang paling Anda butuhkan?' hatiku tersentuh. Itu pertanyaan sederhana yang jarang kami dengar," tambah Warsito.
Pembangunan taman kuliner ini melibatkan puluhan tenaga kerja lokal. Mereka tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga pemilik masa depan. Setiap kios dibangun dengan desain sederhana namun fungsional, menghadap langsung ke embung. Pemandangan air yang tenang seolah menjadi latar yang menenangkan bagi siapa pun yang datang.
Momen Mengharukan di Hari Peresmian
Hari peresmian itu, tangis haru tak bisa dibendung. Beberapa ibu-ibu yang dulunya hanya berjualan dengan gerobak kecil, kini memiliki tempat usaha sendiri. "Saya tidak pernah membayangkan punya kios seperti ini. Dulu saya hanya berjualan di trotoar, sekarang anak saya bisa ikut membantu di sini," ujar Siti Rahayu sambil menyeka air mata.
Acara peresmian dihadiri oleh perwakilan Coca-Cola Foundation Indonesia, pemerintah daerah, dan warga setempat. Dalam sambutannya, perwakilan yayasan menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar bantuan, melainkan investasi jangka panjang untuk masyarakat. "Kami ingin masyarakat Doho tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama perubahan. Taman ini adalah milik Anda semua," ucapnya, disambut tepuk tangan meriah.
Bagi warga, kehadiran taman kuliner ini bukan hanya soal ekonomi. Ada rasa bangga yang muncul. Embung Doho yang dulu hanya dikenal sebagai tempat pemancingan, kini menjadi destinasi kuliner keluarga. Anak-anak muda yang tadinya merantau ke kota, mulai tertarik pulang untuk membuka usaha.
Perjalanan Panjang yang Baru Dimulai
Meski taman sudah berdiri, perjalanan belum selesai. Tantangan tetap ada, mulai dari pengelolaan sampah, promosi, hingga menjaga kualitas rasa. Namun semangat warga sudah terbentuk. Mereka membentuk kelompok sadar wisata yang bertugas mengelola taman secara mandiri. "Kami belajar banyak hal, dari kebersihan sampai pelayanan. Ini bukan hanya soal jualan, tapi soal menjaga nama baik kampung kami," kata Warsito.
Pemerintah daerah berjanji akan terus mendukung dengan akses jalan dan fasilitas pendukung. Sementara itu, Coca-Cola Foundation Indonesia berkomitmen melakukan pendampingan selama beberapa tahun ke depan. Harapannya, Taman Kuliner Doho bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
Di tepi embung yang tenang, Siti Rahayu kembali melayani pembeli. Senyumnya lebar. Ia menyimpan mimpi sederhana: menyekolahkan anaknya sampai sarjana. "Dari sini, saya yakin mimpi itu bisa terwujud. Tuhan tidak tidur, dan rezeki selalu ada," ujarnya.
Kisah Embung Doho adalah kisah tentang harapan yang tumbuh dari tempat sederhana. Di balik setiap kios dan setiap senyum pedagang, ada perjuangan, air mata, dan mimpi yang tak pernah padam. Taman Kuliner Doho bukan sekadar taman, melainkan bukti bahwa ketika masyarakat diberi ruang dan kepercayaan, mereka mampu bangkit dan menginspirasi.
Comments (0)