Oct 10, 2026
entertainment

Seni Sederhana Menghidupkan Beras Berkutu

Di sudut dapur berukuran 3x4 meter itu, Nenek Sri, 72 tahun, mengisahkan bagaimana setiap butir beras yang ia masak selalu ia perlakukan seperti tamu kehormatan. Tangannya yang keriput menggenggam seg...

Seni Sederhana Menghidupkan Beras Berkutu

Di sudut dapur berukuran 3x4 meter itu, Nenek Sri, 72 tahun, mengisahkan bagaimana setiap butir beras yang ia masak selalu ia perlakukan seperti tamu kehormatan. Tangannya yang keriput menggenggam segenggam beras yang tampak kurang sempurna—bercampur serbuk putih halus dan beberapa kutu kecil yang menggeliat pelan. "Dulu, zaman susah, tidak ada yang boleh dibuang," ujarnya lirih. "Bahkan beras yang sudah berdebu pun harus diselamatkan. Kalau tidak, keluarga tidak makan."

Kisah Nenek Sri bukan sekadar nostalgia. Ia mewakili ribuan rumah tangga di Indonesia yang masih menghadapi persoalan klasik: beras berkutu dan berdebu. Bagi sebagian orang, ini mungkin masalah kecil. Namun bagi mereka yang tumbuh dalam kesederhanaan, setiap butir beras adalah perjuangan, dan setiap tetes air bilasan adalah doa.

Di Balik Serbuk Putih yang Menyesatkan

Beras yang disimpan terlalu lama sering kali ditumbuhi kutu beras dan menghasilkan serbuk putih halus—sisa dari aktivitas hama tersebut. Banyak orang langsung membuangnya karena mengira beras sudah rusak. Namun para ibu rumah tangga berpengalaman tahu, ada seni tersendiri untuk menyelamatkannya. Nenek Sri mengingat betul bagaimana ibunya dulu mengajarinya mencuci beras dengan penuh kesabaran.

"Air pertama harus dibuang, jangan dipakai," tuturnya sambil memperagakan. "Serbuk putih itu ringan, dia akan terapung. Bilas satu kali, buang. Baru kemudian digosok pelan-pelan." Ia menambahkan bahwa beras yang berkutu sebaiknya tidak langsung dimasak. Diperlukan proses perendaman agar kotoran dan sisa kutu benar-benar terlepas.

Trik Bilas yang Menyelamatkan Cita Rasa

Bagi Nenek Sri, mencuci beras bukan pekerjaan mekanis. Ada perasaan yang ia sisipkan di setiap gerakan. "Kalau mencuci sambil marah, nasi jadi apek," katanya setengah bercanda. Namun di balik gurauan itu tersimpan kearifan: ketenangan dalam mengolah bahan menentukan hasil akhir. Ia menyarankan agar beras dibilas tidak lebih dari tiga kali. "Terlalu banyak bilas, zat gizinya hilang, nasinya juga jadi lembek tidak enak."

Untuk beras yang sudah berdebu dan berkutu, ia memiliki trik tambahan: merendam beras dalam air garam selama beberapa menit. Kutu akan mati dan mengapung, serbuk putih larut, sementara tekstur beras tetap utuh. Setelah itu, tiriskan dan bilas dengan air bersih mengalir. "Jangan pakai air panas," pesannya. "Nanti berasnya matang di luar, mentah di dalam."

Momen Mengharukan di Meja Makan

Ketika ditanya mengapa ia begitu telaten, mata Nenek Sri berkaca. Ia mengenang almarhum suaminya yang selalu menunggu nasi hangat di meja makan. "Dulu, setiap kali saya masak, dia bilang, 'Nasinya pulen sekali, Bu.' Itu kalimat paling indah yang pernah saya dengar," ujarnya terbata. Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu, ia tetap memasak dengan cara yang sama. "Supaya kalau dia melihat dari sana, dia masih tahu, saya masih memasak seperti dulu."

Kisah Nenek Sri mengajarkan bahwa hal-hal sederhana bisa menyimpan makna mendalam. Mencuci beras, yang sering dianggap remeh, ternyata menyimpan perjalanan panjang tentang ketekunan, cinta, dan penghormatan pada rezeki. Di zaman serba instan ini, kesabaran seperti itu kian jarang ditemui. Padahal, dari dapur yang sederhana, seorang nenek berusia 72 tahun masih berjuang menjaga warisan rasa—bukan hanya rasa nasi, tetapi rasa cinta yang tak pernah apek ditelan waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User