Oct 10, 2026
entertainment

Sembuh dari Luka dengan Berubah Jadi Pocong di Alun-alun

Malam itu, di pelataran Alun-alun Bandung, seorang pria berbalut kain putih berdiri di antara kerumunan. Wajahnya tinggal segumpal kain, matanya hanya dua lubang kecil, dan tangannya terlipat rapat di...

Sembuh dari Luka dengan Berubah Jadi Pocong di Alun-alun

Malam itu, di pelataran Alun-alun Bandung, seorang pria berbalut kain putih berdiri di antara kerumunan. Wajahnya tinggal segumpal kain, matanya hanya dua lubang kecil, dan tangannya terlipat rapat di depan dada. Anak-anak menunjuk sambil tertawa, orang dewasa mengambil ponsel, ada yang mundur selangkah karena kaget. Namun di balik kain kafan itu, ada seorang manusia yang sedang belajar bernapas lega kembali.

Ia datang bukan untuk menakut-nakuti. Ia datang karena selama berminggu-minggu hidupnya terasa seperti ruang gelap tanpa pintu. Pekerjaan berantakan, hubungan dengan keluarga renggang, pikiran terus menyalahkan diri sendiri. Sampai suatu hari ia berjalan ke alun-alun, melihat rombongan orang berdandan jadi pocong, kuntilanak, dan tuyul sedang berfoto bersama warga, dan merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan dalam waktu lama: tawa yang tulus keluar dari perutnya.

Begitulah kisah yang diangkat dalam karya berjudul Conjurig, sebuah cerita tentang seseorang yang berada di titik terberat hidupnya lalu memilih menyembuhkan diri dengan cara yang tak lazim: bergabung dengan komunitas cosplayer jurig.

Komunitas yang Menyamar Jadi Ketakutan

Di banyak kota, alun-alun adalah ruang publik paling jujur. Di sana orang berjualan gorengan, anak-anak berlarian, remaja duduk sambil menunggu teman, dan keluarga menggelar tikar. Di Bandung, ruang itu juga punya tradisi tersendiri: setiap malam, selalu saja ada penampakan mahluk-mahluk dari cerita rakyat berlalu-lalang. Bukan yang asli, tentu saja. Mereka adalah para cosplayer yang rela berkeringat di balik kostum tebal demi senyum orang lain.

Komunitas ini punya aturan sederhana: siapa pun boleh bergabung, asal bersedia mengalah. Tidak ada gaji, tidak ada kontrak, yang ada hanya jadwal, kostum pinjaman, dan urutan piket menjaga area agar tidak mengganggu pedagang. Bagi orang luar, mereka terlihat aneh. Bagi para anggotanya, tempat itu adalah rumah kedua.

Sang tokoh awalnya datang hanya sebagai penonton. Ia berdiri di pinggir, memperhatikan seorang perempuan yang sedang merapikan bulu mata palsu sambil bercerita tentang hari kerjanya yang melelahkan. Lalu datang seorang bapak paruh baya yang mengenakan kostum kuntilanak dan ternyata sedang menabung untuk biaya sekolah anaknya. Mereka tertawa lepas, tanpa menghakimi, tanpa menanyakan mengapa ia terlihat murung.

Tidak ada yang menghakimi di sini. Semua orang datang dengan lukanya masing-masing, lalu memilih berdiri di tengah keramaian dengan wajah yang tertutup kain.

Kain Kafan yang Jadi Perisai

Ada ironi yang halus dalam kisah ini. Pocong adalah salah satu sosok yang paling ditakuti dalam khayalan masyarakat, namun justru balutan itulah yang membuat sang tokoh merasa aman. Ketika wajah tertutup, ia tak perlu tersenyum palsu. Ketika tubuh terbungkus, ia tak perlu menunjukkan bahwa dadanya sesak. Ia bisa bergerak, melompat kecil, melambai, tanpa takut dinilai.

Perlahan, kebiasaan buruknya mulai bergeser. Ia bangun lebih pagi untuk mencuci kostum yang belum kering. Ia belajar menempelkan rambut wig yang rontok. Ia mulai menjawab pesan dari adiknya yang selama ini ia abaikan. Di balik kain putih, ia menemukan versi dirinya yang lebih lembut.

Malangnya, jalan penyembuhan tidak pernah lurus. Suatu malam, ia kembali teringat kegagalan yang selama ini ia hindari. Ia duduk di pinggir trotoar, kostumnya belum dilepas, dan air matanya jatuh di balik kain. Seorang teman datang, duduk di sebelahnya, dan hanya berkata bahwa menangis tidak membuat siapa pun gagal. Momen mengharukan itu menjadi titik balik yang pelan namun pasti.

Sederhana, Namun Menyentuh

Tidak ada adegan besar dalam kisah ini. Tidak ada perubahan dramatis dalam semalam. Yang ada hanyalah rutinitas kecil yang diulang setiap akhir pekan: berangkat, berdandan, berfoto, pulang, mencuci, tidur. Dari rutinitas itu, ia menemukan kembali rasa memiliki. Ia punya jadwal. Ia punya teman yang menunggu. Ia punya alasan untuk keluar rumah.

Pada adegan penutup, ia berdiri di tempat yang sama, di alun-alun itu, dengan kostum yang sama. Kali ini ia melambai lebih tinggi, dan tawanya terdengar jelas meski wajahnya tertutup. Kerumunan membalas lambaian itu. Di antara cahaya lampu dan riuh anak-anak, ia memahami bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari ruang perawatan. Terkadang ia datang dari tempat paling sederhana, dari orang-orang yang tak pernah ia duga, dan dari kain putih yang menutupi segalanya namun justru membuka hatinya.

Kisah Conjurig mengingatkan kita bahwa mimpi untuk bangkit sering kali dimulai dari langkah kecil yang terlihat aneh bagi orang lain. Yang penting bukan bagaimana dunia memandang kita, melainkan apakah kita berani melangkah keluar, memakai kostum apa pun yang kita butuhkan, dan kembali menjadi diri sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User