Oct 11, 2026
entertainment

Rasa Hangat yang Dibagikan

Hawa dingin Jakarta mulai menusuk kulit ketika jam menunjukkan hampir tengah malam. Namun, di balik pintu kayu yang tertutup rapat, terdapat sebuah ruangan yang tidak pernah tidur. Di sudut ruangan be...

Rasa Hangat yang Dibagikan

Hawa dingin Jakarta mulai menusuk kulit ketika jam menunjukkan hampir tengah malam. Namun, di balik pintu kayu yang tertutup rapat, terdapat sebuah ruangan yang tidak pernah tidur. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, hawa panas dari oven terus mengalir, bercampur dengan aroma vanila, mentega dan cokelat yang begitu kuat hingga mampu menghangatkan tubuh yang kedinginan dari luar. Aroma itu bukanlah sekedar aroma makanan, namun aroma penuh cinta yang telah lama dirawat oleh seorang anak muda yang terus berjuang untuk membuat orang lain merasa pulang.

Mentega Hangat yang Mengingatkan Rumah

Bagi sebagian orang, rumah dapat diwakilkan melalui sebuah benda. Bukan dinding ataupun atap, melainkan sebuah gigitan kue yang mampu membawa mereka kembali ke pelukan ibu di masa kecil. Hal inilah yang selalu menjadi pegangan bagi Chef Reynold Poernomo. Sejak kecil, momen mengharukan baginya selalu terjadi di sekitar meja makan. Ia mengisahkan bagaimana suara piring yang berdenting, tawa keluarga, serta secangkir teh hangat kerap kali menjadi kemewahan yang paling berharga bagi hidupnya. "Saya tidak pernah ingin orang merasa lapar akan kasih sayang. Cukup dengan satu gigitan, saya ingin mereka merasa dipeluk oleh rumah mereka sendiri." ungkapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kalimat sederhana itu menjadi benih yang hingga kini terus ia tanam kedalam setiap adonan yang dibentuk oleh tangannya.

Perjalanan Panjang Sebelum Bangkit

Tidak semua mimpi dapat langsung dibentuk dengan oven yang sudah panas. Di balik layar kesuksesan yang kini dapat dilihat banyak orang, terdapat kisah perjuangan yang begitu panjang. Terpisah dari keluarga untuk mengejar mimpinya, Reynold kerap kali harus tidur hanya dengan dua jam setiap harinya. Tangannya yang semula lembut, perlahan mengeras akibat terus menerus menguleni adonan hingga pagi. Air mata kerap kali jatuh di antara tumpukan loyang ketika rindu akan masakan ibu menyerangnya di saat-saat terberat. Namun, alih-alih menyerah, ia menjadikan kerinduan tersebut sebagai bahan bakar terkuat untuknya. Ia percaya bahwa setiap tetes keringat yang jatuh kedalam adonannya, akan ikut berubah menjadi rasa hangat yang kelak akan dinikmati oleh orang lain. Sebuah inspirasi yang lahir dari kesederhanaan, namun tumbuh menjadi tekad yang sangat besar untuk bangkit dari setiap jatuhnya.

Sebuah Pelukan Dalam Lima Kreasi

Ketika kesempatan untuk berkolaborasi datang, Reynold tidak ingin sekedar membuat kue yang indah untuk dilihat. Ia ingin mengisahkan sebuah cerita melalui rasa. Bersama Harvest, ia mempersembahkan lima kreasi cake dan pastry yang masing-masing memiliki jiwa dan kenangan tersendiri. Layaknya bab dari sebuah album kenangan, kelima kreasi tersebut membawa nuansa yang berbeda, namun tetap satu tujuan yang sama, yaitu menyentuh hati. Ada yang mengingatkan akan manisnya kue ulang tahun yang dibeli dengan uang saku ibu. Ada pula yang membawa kembali sensasi hangat dari roti yang baru saja keluar dari oven, saat seluruh rumah masih terlelap dan hanya aroma tersebut yang menyambutmu. Setiap lapisan, krim, hingga taburan yang menghiasi kue tersebut tidak pernah diciptakan secara asal. Ia merancangnya dengan hati-hati, seolah sedang merajut kembali kenangan masa lalunya untuk ia hadiahkan kepada setiap orang yang mengambil satu gigitan darinya.

"Bukan soal sempurna atau tidaknya hiasan di atasnya. Namun, soal apakah kue ini mampu membuat seseorang tersenyum sendirian karena teringat rumahnya."

Menjaga Api Agar Tetap Hangat

Kini, oven itu masih terus menyala. Namun, bukan untuk membuktikan siapa yang tercepat ataupun terpopuler. Api itu dijaga dengan tulus agar dapat terus menghangatkan orang lain. Melihat seseorang terdiam sesaat setelah menggigit kreasinya, kemudian tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, merupakan momen mengharukan yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh apapun. Bagi Reynold, itu adalah hadiah terindah yang bisa ia terima setelah bertahun-tahun berjuang untuk mimpinya. Ia tidak ingin api tersebut padam, ia ingin api itu terus ia bagikan. Dari satu oven kecil, menuju hati sebanyak-banyaknya. Sebab, di dunia yang kian sibuk ini, terkadang kita tidak membutuhkan hal yang mewah. Kita hanya membutuhkan sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang mampu membawa kita pulang kembali, hanya melalui sebuah gigitan kue.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User