Di sebuah ruang tamu sederhana di pelosok Jawa Timur, seorang bocah perempuan berdiri di atas kursi plastik karena tubuhnya belum cukup tinggi untuk menjangkau mikrofon ayahnya. Usianya baru empat tahun. Tangannya mungil menggenggam ujung kain kebaya yang kebesaran, sementara bibir kecilnya sudah lancar melafalkan cengkok sinden yang terdengar asing di telinga anak-anak seusianya. Di sudut ruangan, sang ibu menutup mulut dengan kedua tangan, menahan haru yang tiba-tiba menyesak di dada. Momen itu bukan sekadar latihan biasa — ia adalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang yang kelak mengubah hidup Niken Salindry.
Bagi sebagian orang, belajar sinden di usia empat tahun terdengar seperti paksaan ambisi orang tua. Namun yang terjadi di rumah kecil itu justru sebaliknya. Niken tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan gamelan, tembang, dan lantunan sinden dari radio tua yang selalu menyala di ruang tengah. Ia tidak dipaksa. Ia jatuh cinta pada suara itu perlahan-lahan, seperti anak lain jatuh cinta pada lagu kartun favoritnya.
"Dia tidak pernah menangis kalau disuruh latihan. Justru dia yang menagih, 'Bu, ayo nyinden lagi,'" kenang sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Belajar dari Suara yang Tak Sempurna
Perjalanan Niken tidak selalu mulus. Di usia yang masih sangat belia, ia harus berhadapan dengan cengkok yang rumit, nada tinggi yang membuat tenggorokannya perih, dan lirik-lirik berbahasa Jawa kuno yang belum ia pahami sepenuhnya. Ada hari-hari ketika suaranya serak, ketika ia salah nada di depan kerabat, dan ketika air mata mengalir karena merasa belum bisa menyenangkan hati gurunya. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tak pernah padam: mimpi kecil untuk bisa menyanyi seperti sinden-sinden yang ia dengar di rekaman kaset lawas milik neneknya.
Sang ayah, seorang pegiat seni tradisional, mengisahkan bagaimana ia sengaja tidak memakai metode latihan yang keras. Ia membiarkan putrinya menemukan ritmenya sendiri. "Saya hanya menemani. Kalau dia lelah, kami berhenti. Kalau dia ingin lanjut, kami lanjut sampai larut," ujarnya. Pendekatan sederhana itu ternyata membentuk karakter Niken yang kuat, disiplin, tetapi tetap mencintai apa yang ia kerjakan.
Ketika Panggung Pertama Terasa Sebesar Dunia
Panggung pertama Niken bukanlah gedung megah atau festival bergengsi. Ia tampil di hajatan tetangga, di atas panggung kayu yang berderit, dengan lampu minyak sebagai penerang. Tangannya gemetar. Suaranya nyaris tak terdengar di awal. Namun begitu gending pertama mengalun, sesuatu berubah. Tubuh kecilnya menegak, matanya menatap jauh ke depan, dan suaranya keluar dengan kekuatan yang membuat hadirin yang sedang menyantap hidangan menghentikan kunyahan mereka. Seorang kakek di barisan belakang menyeka matanya. "Suara itu seperti membawa saya kembali ke masa muda," katanya lirih.
Sejak malam itu, pintu-pintu baru mulai terbuka. Niken diundang ke berbagai acara, dari pernikahan hingga festival budaya. Namun yang paling mengharukan bukanlah sorak tepuk tangan, melainkan momen ketika neneknya yang sudah renta, yang selama ini hanya bisa mendengar cucunya berlatih dari balik pintu, akhirnya menyaksikan langsung penampilan sang cucu. Di balik layar, sebelum naik panggung, Niken sempat memeluk neneknya erat-erat dan berbisik, "Mbah, ini untuk Mbah."
Perjuangan di Balik Senyum Manis
Di balik senyum manis dan suara merdu yang menghipnotis banyak orang, ada perjuangan yang jarang terlihat. Niken harus membagi waktu antara sekolah, latihan, dan istirahat yang sering kali kurang. Ia pernah tertidur di atas buku pelajarannya karena kelelahan setelah tampil hingga tengah malam. Ia juga pernah harus menolak ajakan bermain teman-temannya karena harus berlatih untuk sebuah pentas penting. Namun ketika ditanya apakah ia menyesal, ia hanya menggeleng sambil tersenyum. "Saya senang. Kalau nyinden, saya merasa jadi diri saya sendiri," ucapnya polos.
Kisah Niken Salindry adalah pengingat bahwa bakat besar tidak selalu lahir dari fasilitas mewah atau panggung bergengsi. Kadang, ia tumbuh dari bilik sempit penuh kenangan, dari kursi plastik yang dipakai berdiri karena tubuh belum cukup tinggi, dan dari suara kecil yang berani bernyanyi meski dunia belum mengenalnya. Di tengah arus budaya populer yang deras, langkah Niken menjadi oase yang menghangatkan hati — bukti bahwa warisan leluhur masih hidup, bernapas, dan kini dirawat oleh tangan-tangan mungil generasi baru.
Setiap kali ia membuka suara, ia tidak hanya menyanyikan tembang. Ia sedang mengisahkan keberanian, ketekunan, dan cinta yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dan bagi mereka yang pernah mendengarnya, suara Niken akan selalu menjadi pengingat bahwa mimpi, sekecil apa pun, layak untuk diperjuangkan.
Comments (0)