Oct 11, 2026
entertainment

NAZA, Kisah Pilu dan Harapan di Balik Layar Lebar

Di sebuah ruangan kecil yang penuh dengan poster film dan cangkir kopi yang mulai dingin, seorang sutradara muda menatap layar monitor. Matanya sembab, bukan karena kurang tidur, melainkan karena haru...

NAZA, Kisah Pilu dan Harapan di Balik Layar Lebar

Di sebuah ruangan kecil yang penuh dengan poster film dan cangkir kopi yang mulai dingin, seorang sutradara muda menatap layar monitor. Matanya sembab, bukan karena kurang tidur, melainkan karena haru. Ia baru saja menyelesaikan proses penyuntingan akhir film yang telah menelan air mata, keringat, dan sebagian besar tabungannya. Film itu berjudul NAZA, dan kini siap menyapa penonton di seluruh Indonesia mulai 16 Oktober mendatang.

Perjalanan NAZA bukanlah perjalanan yang mulus. Berawal dari sebuah catatan kecil di buku harian, sang sutradara mengisahkan bagaimana ia terinspirasi oleh kehidupan seorang perempuan sederhana yang tinggal di pinggiran kota. Perempuan itu, sebut saja Naza, adalah sosok yang gigih meski diterpa berbagai cobaan hidup. “Saya bertemu dengannya di sebuah pasar tradisional. Ia menjual kue buatan sendiri sambil menggendong anaknya yang masih balita. Ada sesuatu di matanya yang membuat saya tidak bisa berhenti memikirkannya,” ujar sang sutradara dengan suara bergetar saat ditemui di ruang kerjanya.

Dari Pasar Tradisional ke Layar Lebar

Kisah Naza kemudian diangkat ke atas kertas. Proses penulisan skenario memakan waktu hampir dua tahun. Sang sutradara rela bolak-balik ke rumah Naza, mendengarkan curahan hatinya, dan merekam setiap detail kehidupan yang penuh liku. “Saya ingin film ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga cermin bagi banyak orang yang mungkin merasa hidupnya tidak adil,” tuturnya.

Namun, jalan menuju produksi tidak semudah yang dibayangkan. Pendanaan menjadi kendala utama. Sang sutradara harus menggadaikan sepeda motornya dan meminjam uang dari kerabat. “Ada masa di mana saya hanya makan sekali sehari. Tapi saya percaya, cerita Naza harus sampai ke penonton,” katanya sambil tersenyum getir. NAZA akhirnya diproduksi dengan tim yang sangat terbatas, hanya terdiri dari tujuh orang yang semuanya bekerja tanpa bayaran di awal.

Air Mata di Ruang Penyuntingan

Momen paling mengharukan terjadi saat proses penyuntingan. Sang editor, yang juga sahabat sang sutradara, mengaku tidak bisa menahan air mata saat menyusun adegan klimaks. “Ada satu adegan di mana Naza harus melepas anaknya untuk merantau. Saya menangis berkali-kali. Itu bukan akting, itu nyata,” ujar sang editor. Adegan itu, menurutnya, adalah adegan yang paling sulit disunting karena melibatkan emosi yang sangat dalam.

Tak hanya di balik layar, para pemain juga merasakan hal serupa. Aktris yang memerankan Naza mengaku sempat jatuh sakit karena terlalu menghayati perannya. “Saya sampai tidak bisa tidur selama seminggu. Saya benar-benar masuk ke dalam jiwa Naza. Rasanya seperti saya yang kehilangan segalanya,” tuturnya. Ia berharap penonton bisa merasakan perjuangan yang dialami oleh Naza, yang meskipun sederhana, memiliki kekuatan luar biasa untuk bangkit.

Harapan Baru di Bulan Oktober

Kini, NAZA siap tayang di berbagai jaringan bioskop Indonesia mulai 16 Oktober. Sang sutradara berharap film ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama mereka yang sedang berjuang menghadapi kerasnya hidup. “Saya tidak berharap film ini menjadi box office. Saya hanya ingin orang-orang yang menontonnya pulang dengan hati yang lebih hangat dan semangat untuk bangkit,” harapnya.

Naza sendiri, yang kini masih berjualan kue di pasar yang sama, mengaku tidak pernah menyangka kisah hidupnya akan diangkat ke layar lebar. “Saya hanya perempuan biasa. Tapi kalau cerita saya bisa membuat orang lain tidak menyerah, itu sudah hadiah terbesar bagi saya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Film NAZA bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah perayaan atas ketangguhan manusia dalam menghadapi cobaan. Sebuah kisah sederhana yang menyentuh, yang akan mengingatkan kita bahwa di balik setiap perjuangan, selalu ada harapan yang menanti untuk tumbuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User