Oct 10, 2026
entertainment

Mimpi Yura Yunita di Puncak Rinjani

Kabut tipis menyelimuti pelataran Sembalun saat langit Lombok masih gelap. Di antara deretan tenda yang berdiri megah, seorang perempuan berbaju hangat terlihat sibuk mengikat tali sepatunya. Tanganny...

Mimpi Yura Yunita di Puncak Rinjani

Kabut tipis menyelimuti pelataran Sembalun saat langit Lombok masih gelap. Di antara deretan tenda yang berdiri megah, seorang perempuan berbaju hangat terlihat sibuk mengikat tali sepatunya. Tangannya sempat gemetar, bukan karena dingin semata, melainkan karena debaran mimpi yang selama ini ia simpan rapat-rapat: menapakkan kaki di puncak Gunung Rinjani.

Perempuan itu adalah Yura Yunita. Penyanyi yang suaranya akrab di telinga banyak orang itu bukan sedang bersiap untuk sebuah konser. Ia tengah bersiap menempuh perjalanan panjang menuju salah satu puncak paling ditakuti sekaligus paling dirindukan para pendaki di Indonesia. Di balik panggung gemerlap dan sorotan lampu, ada hasrat sederhana yang tertinggal sejak lama: mendaki.

Perjalanan yang Tertunda Bertahun-tahun

Bagi Yura, Rinjani bukan sekadar gunung biasa. Gunung setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut itu sudah lama menjadi nama yang kerap disebut dalam obrolan bersama orang-orang terdekat. Namun, jadwal manggung yang padat, proses kreatif yang tak pernah benar-benar berhenti, serta ritme hidup di kota besar membuat niat itu selalu tertunda.

“Ini perjalanan yang berjuang banget buat dimulai,” tuturnya suatu ketika, mengenang bagaimana ia harus menyusun ulang jadwal, menjaga kebugaran, dan menyiapkan mental jauh sebelum keberangkatan.

Persiapan itu bukan perkara sepele. Ia berlatih menaiki tangga, berjalan kaki jarak jauh, hingga mengatur pola makan. Semua dilakukan bukan untuk panggung, melainkan untuk medan yang jauh lebih keras: tanjakan berpasir, savana yang terik, dan udara tipis di ketinggian.

Ketika akhirnya ia benar-benar berdiri di titik awal pendakian, Yura mengaku ada perasaan campur aduk. Antara gugup, bahagia, dan haru. Momen mengharukan itu ia bagikan dalam sebuah unggahan di media sosial, memperlihatkan potret dirinya di antara para pendaki lain, tersenyum lebar meski wajahnya jelas kelelahan.

Air Mata di Setiap Tanjakan

Rinjani dikenal tak pernah memberi jalur yang mudah. Pendaki harus melewati Bukit Penyesalan, tanjakan nyaris tanpa ampun yang membuat banyak orang berhenti dan menimbang ulang niatnya. Di sinilah kisah Yura benar-benar diuji.

Langkah demi langkah ia tempuh. Napasnya tersengal. Kakinya berat. Namun ia terus melangkah, ditemani orang-orang yang setia mendampingi. Ada tawa, ada keluh kesah, dan tak jarang air mata mengalir bukan karena sedih, melainkan karena tubuh yang sudah di ambang batas.

“Aku banyak banget belajar soal sabar dan berserah di sini,” ujarnya dalam sebuah cerita perjalanan yang ia bagi. “Ternyata mendaki itu bukan soal sampai secepat mungkin, tapi soal menikmati setiap langkahnya.”

Perempuan kelahiran Bandung itu mengaku, di tengah perjalanan ia sempat bertanya pada diri sendiri mengapa harus melakukan hal seberat ini. Namun jawabannya justru muncul saat ia berhenti sejenak, menatap hamparan savana yang membentang luas, dan mendengar angin berdesir di antara ilalang.

“Di gunung, aku belajar bahwa kekuatan bukan soal seberapa cepat aku berjalan, tapi seberapa besar keberanianku untuk terus melangkah meski lelah,” ucapnya.

Kalimat itu kemudian menjadi pengingat bagi banyak orang yang mengikuti perjalanannya. Bukan hanya tentang Rinjani, tetapi tentang hidup yang juga penuh tanjakan.

Pelukan di Puncak dan Pelajaran yang Dibawa Pulang

Puncak Rinjani akhirnya tercapai. Di ketinggian itu, Yura berdiri di antara lautan awan yang bergulir perlahan. Danau Segara Anak terlihat bagai cermin raksasa di bawahnya, memantulkan cahaya matahari yang baru saja muncul dari balik cakrawala.

Ia tak banyak bicara. Hanya terdiam, menikmati hening yang jarang ia temui di tengah kesibukan kota. Beberapa orang di sekitarnya memeluknya. Ada tangis haru, ada tawa bahagia. Semua bercampur menjadi satu momen yang tak akan pernah ia lupakan.

Bagi Yura, pendakian ini bukan sekadar olahraga atau konten. Ia menyebutnya sebagai perjalanan pulang kepada diri sendiri. Di sana ia kembali mengingat hal-hal sederhana: menghargai tubuh, mensyukuri udara, dan tidak terburu-buru menghakimi proses yang sedang dijalani.

Sesudah turun dari Rinjani, ada perubahan kecil yang ia rasakan. Ia lebih tenang, lebih sabar, dan lebih bisa menikmati hal-hal kecil di sekitarnya. Pengalaman itu ia ceritakan bukan untuk pamer, melainkan untuk mengajak orang lain berani mengambil jeda, menemukan inspirasi, dan mencoba hal yang selama ini tertunda.

Rinjani memang tak memberi jalan yang mudah, tetapi ia memberi pelajaran yang jujur. Dan bagi Yura Yunita, puncak itu bukan akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk bangkit dengan semangat baru — baik di atas panggung maupun dalam kehidupannya sehari-hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User