Oct 10, 2026
entertainment

Makki Ungu dan Panggung Perpisahan Tiga Dekade

Di sebuah ruangan yang dipenuhi sorot lampu dan sorakan awak media, seorang pria bertubuh tegap berdiri memegang mikrofon. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup, melainkan karena beban emosi y...

Makki Ungu dan Panggung Perpisahan Tiga Dekade

Di sebuah ruangan yang dipenuhi sorot lampu dan sorakan awak media, seorang pria bertubuh tegap berdiri memegang mikrofon. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup, melainkan karena beban emosi yang ia tahan sejak pagi. Makki Ungu, gitaris yang telah menemani perjalanan band Ungu selama tiga dekade, menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. Senin (6/10/2026) itu bukan sekadar tanggal rilis album atau tur baru. Hari itu adalah penanda sebuah akhir yang telah lama ia dan sahabat-sahabatnya persiapkan dengan hati-hati.

"Ini bukan keputusan yang diambil dalam semalam," ujarnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh pendingin ruangan di kawasan Jakarta tempat konferensi pers digelar. "Kami sudah berbicara dari hati ke hati, dan kami merasa inilah waktu yang tepat untuk mengucapkan terima kasih dengan cara yang paling indah."

Sebuah Perjalanan yang Dimulai dari Panggung Kecil

Nama Ungu mungkin kini identik dengan panggung-panggung besar, lagu-lagu yang dinyanyikan jutaan orang, dan penghargaan yang bertumpuk. Namun Makki mengisahkan bagaimana semuanya berawal dari mimpi sederhana sekelompok anak muda yang tak punya apa-apa selain keberanian. Mereka bermain dari kafe ke kafe, dari satu panggung kecil ke panggung kecil lainnya, sering kali hanya ditemani peralatan seadanya dan doa yang tak putus.

"Dulu kami bahkan tidak punya kendaraan untuk mengangkut alat. Kami berjalan kaki, menenteng gitar, dan itu sudah cukup membuat kami bahagia," kenangnya sambil tersenyum tipis. Ada kerutan di sudut matanya yang menyimpan ribuan cerita yang tak sempat ia ucapkan. "Yang kami punya waktu itu hanya keyakinan bahwa suatu hari, suara kami akan didengar."

Keyakinan itu berbuah. Album demi album lahir, membawa nama Ungu melesat ke puncak industri musik tanah air. Lagu-lagu mereka menjadi teman bagi banyak orang dalam suka dan duka, mengiringi perjalanan cinta, kehilangan, dan harapan. Namun di balik gemerlap panggung, ada harga yang harus dibayar.

"Kami kehilangan banyak waktu bersama keluarga. Ada momen ketika aku harus memilih antara menonton anakku tumbuh atau berdiri di atas panggung. Itu pilihan yang tidak pernah mudah."

Di Balik Layar Konser Perpisahan

Konferensi pers yang bertajuk "Antam presents 30 Tahun Berkarya Ungu Waktu Yang Dinanti Final Chapter" bukan sekadar pengumuman. Bagi Makki, ini adalah babak akhir yang ingin ia jalani dengan penuh rasa syukur. Ia menyebut persiapan konser perpisahan ini sebagai salah satu masa paling emosional dalam hidupnya. Setiap latihan menghadirkan kembali memori-memori lama, dari tawa lepas di belakang panggung hingga air mata saat menghadapi masa sulit bersama.

"Kami ingin konser ini menjadi perayaan, bukan kesedihan," tegasnya. "Kami ingin orang-orang yang datang pulang dengan hati yang hangat, mengenang bahwa mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan ini."

Pria yang dikenal rendah hati itu juga menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada para penggemar. Menurutnya, tanpa dukungan mereka, Ungu tidak akan pernah sampai di titik ini. Ia menyebut para penggemar sebagai keluarga kedua yang selalu ada, baik saat band berada di atas angin maupun ketika diterpa badai.

Warisan yang Tak Akan Pernah Hilang

Meski kata perpisahan terasa berat, Makki yakin bahwa musik Ungu akan terus hidup. Lagu-lagu yang telah mereka ciptakan, menurutnya, bukan milik band semata. Mereka telah menjadi milik siapa saja yang pernah merasakan getaran emosinya. Ia berharap generasi baru tetap menyanyikan lagu-lagu itu, membawanya ke panggung-panggung baru, dan meneruskan semangat yang selama ini mereka pegang.

"Tubuh kami mungkin berhenti tampil bersama, tetapi musik ini akan selalu ada di hati," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kami hanya menutup satu bab, bukan menutup buku."

Di akhir sesi, Makki meletakkan mikrofon perlahan, seolah memberi hormat pada tiga dekade perjalanan yang penuh liku. Ada keheningan sesaat di ruangan itu, sebelum tepuk tangan menggema. Sebuah tepuk tangan yang bukan hanya untuk Makki, tetapi untuk seluruh kisah, perjuangan, dan mimpi yang telah ia dan sahabat-sahabatnya rawat selama tiga puluh tahun. Perjalanan mungkin akan berakhir, namun jejaknya akan terus menyala, menghangatkan hati siapa pun yang pernah mendengarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User