Di sudut kota yang sudah lama lelah oleh perang, suara itu kembali terdengar. Bukan suara azan yang biasanya membangunkan warga Sanaa di pagi hari, melainkan dentuman yang mengguncang tanah dan membuat kaca-kaca jendela bergetar. Senin, 13 Juli 2026, langit di atas Bandara Internasional Sanaa kembali menyalak. Asap hitam membubung tinggi, menutupi langit yang seharusnya biru. Warga yang tinggal tak jauh dari kompleks bandara mengisahkan bagaimana mereka berlarian keluar rumah, mencari tempat berlindung, sambil memeluk anak-anak mereka erat-erat.
Seorang ibu bernama Ummu Khalid mengaku hanya bisa menangis saat ledakan itu mengguncang dinding rumahnya yang sederhana. "Kami sudah terlalu sering mendengar suara seperti ini. Setiap kali ada ledakan, saya selalu memikirkan apakah ini saat terakhir saya bisa melihat anak-anak saya," ujarnya dengan suara bergetar kepada kerabatnya, seperti dikutip dari laporan yang beredar di kalangan warga setempat. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Suara yang Tak Pernah Hilang dari Ingatan
Bandara Internasional Sanaa bukan hanya bangunan beton dan landasan pacu. Bagi banyak warga, tempat itu menyimpan mimpi. Ada yang pernah berangkat dari sana untuk pertama kali menunaikan ibadah haji. Ada yang mengantar anaknya merantau demi mencari kehidupan yang lebih baik. Kini, kompleks itu kembali menjadi saksi bisu dari rentetan serangan udara yang disebut dilakukan oleh Arab Saudi. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyatakan bahwa ledakan-ledakan tersebut merupakan bagian dari serangan udara yang terus berlanjut.
Di balik layar konflik yang tak kunjung usai, ada kisah-kisah kecil yang jarang terdengar. Seorang petugas kebersihan bandara, yang enggan disebut namanya, mengisahkan bagaimana ia dan rekan-rekannya sempat berharap situasi akan membaik. "Kami sudah mulai membersihkan lagi, menata kursi-kursi, berharap penumpang akan datang kembali. Tapi hari ini, semua mimpi itu hancur lagi," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kami bukan tentara. Kami hanya ingin hidup tenang, ingin anak-anak kami bisa sekolah tanpa takut suara pesawat yang bukan membawa penumpang, melainkan bom."
Kalimat itu keluar dari mulut seorang guru bernama Ahmed, yang rumahnya hanya berjarak beberapa ratus meter dari bandara. Ia mengaku sudah kehilangan dua saudara dalam konflik bertahun-tahun. Namun, rasa kehilangan itu tidak pernah membuatnya terbiasa. "Setiap ledakan selalu terasa seperti yang pertama," ujarnya.
Perjuangan Warga di Tengah Reruntuhan Harapan
Di rumah sakit-rumah sakit sekitar Sanaa, para tenaga medis kembali bekerja dalam tekanan. Mereka menyiapkan ruang gawat darurat, menata obat-obatan yang stoknya semakin menipis. Seorang perawat muda mengisahkan bagaimana ia harus memilih antara menenangkan pasien yang panik atau menahan air matanya sendiri. "Kami belajar untuk tidak menangis di depan pasien. Tapi di ruang istirahat, kami semua pernah menangis bersama," katanya lirih.
Ledakan di kompleks bandara itu bukan sekadar peristiwa militer. Ia adalah pengingat pahit bahwa perang di Yaman belum menemukan titik akhir. Anak-anak yang seharusnya bermain di halaman sekolah kini lebih akrab dengan suara sirene dan asap. Para ibu yang seharusnya sibuk menyiapkan makan malam kini sibuk menghitung apakah persediaan air dan makanan cukup untuk beberapa hari ke depan.
Seorang fotografer lokal yang sempat mengabadikan momen-momen sebelum ledakan mengisahkan bahwa bandara itu pernah menjadi simbol harapan. "Saya pernah memotret seorang kakek yang menangis haru karena akhirnya bisa mengantar cucunya naik pesawat. Sekarang, saya hanya bisa memotret asap dan puing-puing," ujarnya dengan nada getir.
Mimpi yang Masih Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Meski begitu, tidak semua harapan padam. Di kamp-kamp pengungsian, anak-anak masih menyanyikan lagu-lagu sederhana. Para perempuan masih berbagi roti meski hanya sepotong. Seorang remaja bernama Salma mengaku masih bermimpi menjadi dokter. "Saya ingin menyembuhkan orang-orang yang terluka. Saya tidak mau menyerah hanya karena bom," katanya dengan mata berbinar, meski suaranya sedikit gemetar.
Kisah-kisah seperti Salma adalah alasan mengapa banyak warga Sanaa tetap bertahan. Mereka bangkit setiap kali dijatuhkan. Mereka merawat luka, lalu kembali menata hidup yang berkali-kali porak-poranda. Di balik setiap ledakan, ada doa yang tak pernah putus. Di balik setiap reruntuhan, ada mimpi yang masih ingin diwujudkan.
Hingga kini, situasi di Sanaa masih belum sepenuhnya jelas. Namun satu hal yang pasti: warga Yaman, khususnya mereka yang tinggal di sekitar bandara, kembali harus menghadapi malam-malam panjang penuh ketidakpastian. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin hidup tanpa rasa takut, ingin anak-anak mereka tumbuh tanpa trauma, dan ingin bandara itu kembali menjadi tempat perpisahan yang mengharukan, bukan tempat ledakan yang mengerikan.
Perjalanan panjang warga Sanaa adalah cermin bagi dunia bahwa di balik berita-berita konflik, ada manusia-manusia nyata dengan air mata, harapan, dan keberanian yang luar biasa. Mereka berjuang bukan untuk kemenangan, melainkan untuk sekadar bisa tersenyum lagi tanpa rasa cemas.
Comments (0)