Oct 10, 2026
entertainment

Langkah Sunyi Sarwendah di Lorong Pengadilan

Lorong itu panjang dan sepi ketika Sarwendah melangkah masuk. Kamera-kamera wartawan sudah menunggu sejak pagi, berjejer rapi di balik garis pembatas. Namun perempuan itu hanya menunduk, ditemani seor...

Langkah Sunyi Sarwendah di Lorong Pengadilan

Lorong itu panjang dan sepi ketika Sarwendah melangkah masuk. Kamera-kamera wartawan sudah menunggu sejak pagi, berjejer rapi di balik garis pembatas. Namun perempuan itu hanya menunduk, ditemani seorang kuasa hukum, sambil terus berjalan menuju ruang sidang. Tidak ada senyum, tidak ada pernyataan. Hanya langkah tenang yang menyimpan begitu banyak cerita.

Momen di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu adalah salah satu babak dalam perjalanan hidup yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di atas panggung, ia dikenal sebagai penyanyi dan bagian dari keluarga yang selalu tampil hangat. Di ruang sidang, semua berbeda. Ia hanyalah seorang ibu yang berjuang mempertahankan apa yang dianggapnya paling berharga: anak-anaknya.

Di Balik Pintu yang Tertutup

Bagi banyak orang, gedung pengadilan hanyalah bangunan tua penuh dokumen. Tetapi di dalamnya, setiap sudut menyimpan kisah manusiawi yang jarang tersorot kamera. Ada ayah dan ibu yang datang dengan wajah letih, ada keluarga yang duduk berjarak satu kursi namun tak saling menyapa. Sarwendah adalah satu dari sekian banyak orang yang pernah merasakan dinginnya ruang tunggu itu.

Setiap kali sidang digelar, ia datang tanpa banyak bicara. Pakaiannya sederhana, rambutnya ditata rapi, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Ia tahu, di luar sana banyak yang menghakimi tanpa mengenal isi hatinya. Namun ia memilih untuk tetap melangkah, sebab ia percaya, perjuangan seorang ibu tidak pernah sia-sia.

“Yang saya inginkan cuma yang terbaik buat anak-anak. Itu saja,” ujarnya suatu ketika dengan suara pelan, hampir berbisik, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh. Di balik gelimang popularitas, ia hanyalah perempuan yang ingin anak-anaknya tumbuh bahagia. Ia tak menuntut banyak. Ia hanya memohon agar waktu kebersamaan yang telah ia rawat bertahun-tahun tidak hilang begitu saja.

Ketika Kesabaran Diuji

Perjalanan ini bukan perjalanan singkat. Setiap panggilan sidang membawa emosi yang berbeda. Ada hari-hari ketika ia terlihat tegar, ada pula hari-hari ketika langkahnya terasa berat. Wartawan yang menunggu di luar sering menangkap momen ketika ia menghela napas panjang sebelum masuk ke mobil. Momen-momen kecil seperti itu jarang tersiar, padahal justru di sanalah letak kemanusiaannya.

Orang-orang terdekat mengisahkan bahwa Sarwendah berusaha menjaga rutinitas anak-anak sebaik mungkin. Pagi tetap dimulai dengan sarapan bersama, meski jadwal sidang harus disisipkan di antara aktivitas. Malam-malam diisi dengan menemani belajar dan mendengarkan cerita-cerita kecil dari buah hatinya. Ia tak ingin proses hukum mengubah suasana rumah menjadi muram.

“Dia selalu berusaha terlihat kuat di depan anak-anak,” kata seseorang yang mengenalnya baik, seperti dikutip dari lingkaran terdekatnya. “Tapi kalau sudah sendirian, kadang air matanya jatuh juga. Dia cuma manusia biasa.”

Mimpi yang Tak Pernah Padam

Di tengah semua tekanan, Sarwendah tetap menyimpan mimpi. Ia ingin suatu hari nanti bisa mengenang semua ini sebagai cerita yang membesarkan hatinya, bukan luka yang menenggelamkan. Ia ingin anak-anaknya tahu bahwa ibunya pernah berjuang, bukan menyerah.

Perjalanan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mungkin belum menemui titik akhir. Namun bagi Sarwendah, setiap langkah adalah bukti cinta. Ia sadar, tak semua orang akan memahami pilihannya. Tetapi ia tak perlu pengakuan dari banyak orang. Ia hanya perlu ketenangan hati untuk terus bangkit dan berjuang.

Di sudut lain kota itu, ribuan ibu mungkin sedang berjuang dengan cara masing-masing. Ada yang bertahan dalam rumah tangga yang retak, ada yang berjuang mencari nafkah, ada pula yang berjuang mempertahankan hak atas anak-anaknya. Sarwendah adalah satu dari mereka. Mungkin wajahnya dikenal banyak orang, tetapi hatinya sama seperti ibu-ibu lain di luar sana: sederhana, penuh cinta, dan tak pernah lelah berharap.

Saat ia keluar dari gedung pengadilan sore itu, langit Jakarta sedikit mendung. Ia berjalan cepat menuju mobil, dikelilingi sorak pertanyaan yang tak dijawabnya. Namun di dalam hatinya, ada satu hal yang pasti: sebesar apa pun badai yang harus dilewati, ia akan tetap melangkah, karena di ujung perjalanan ada anak-anak yang menunggu pelukannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User