Oct 16, 2026
entertainment

Langkah Kecil dari Paris untuk Para Perancang Muda Indonesia

Di sebuah ruangan kecil di Paris, jauh dari gemerlap lampu kota mode dunia, sekelompok perempuan muda Indonesia duduk melingkar. Di tangan mereka tergenggam sketsa kain, benang, dan mimpi yang belum s...

Langkah Kecil dari Paris untuk Para Perancang Muda Indonesia

Di sebuah ruangan kecil di Paris, jauh dari gemerlap lampu kota mode dunia, sekelompok perempuan muda Indonesia duduk melingkar. Di tangan mereka tergenggam sketsa kain, benang, dan mimpi yang belum selesai. Di sudut ruangan berukuran tak lebih dari 4x6 meter itu, Thresia Mareta berdiri memperhatikan mereka satu per satu — matanya berkaca, tetapi bibirnya tersenyum. Inilah momen yang selalu ia tunggu setiap tahun: melihat wajah-wajah baru yang berani membawa karya mereka ke panggung dunia.

"Saya selalu bilang ke mereka, jangan takut mulai dari kain yang paling sederhana," ujar Thresia mengenang. "Yang penting bukan seberapa mahal bahannya, tapi seberapa jujur ceritanya."

Sebuah Perjalanan yang Dimulai dari Ruang Tamu

Kisah PINTU Incubator tidak lahir dari kantor megah atau gedung pencakar langit. Ia tumbuh dari kegelisahan sederhana: mengapa begitu sedikit perancang muda Indonesia yang berani menembus pasar global? Thresia, yang juga dikenal sebagai pencetus gerakan mode berkelanjutan, mengisahkan bahwa pada awalnya ia hanya mengumpulkan beberapa teman di ruang tamunya. Mereka berdiskusi, memotong kain, dan belajar bersama hingga larut malam.

"Dulu kami cuma punya satu mesin jahit dan semangat yang mungkin terlalu besar untuk ukuran ruangan kami," kenangnya sambil tertawa kecil. "Tapi dari situ, mimpi itu mulai punya bentuk."

Kini, PINTU Residency dan PINTU Incubator 2026 menjadi tonggak baru dalam perjalanan itu. Para peserta tidak hanya belajar teknik menjahit atau merancang pola, tetapi juga dibimbing memahami rantai pasok, etika produksi, hingga cara bercerita di depan pembeli internasional.

"Kami tidak mengajarkan mereka menjadi sekadar perancang. Kami mengajarkan mereka menjadi perempuan yang berani berdiri di atas namanya sendiri." — Thresia Mareta

Air Mata di Balik Layar Panggung Paris

Perjalanan menuju Paris bukan perkara mudah. Banyak dari peserta harus meninggalkan keluarga, mengumpulkan tabungan bertahun-tahun, dan menghadapi keraguan orang terdekat. Salah satu momen paling mengharukan terjadi saat seorang peserta menangis di sela sesi foto bersama. Ia baru tahu bahwa ibunya di kampung menjual perhiasan untuk membiayai keberangkatannya.

"Saya tidak tahu harus bilang apa," ujarnya sambil menyeka air mata. "Tapi saya janji, kain ini akan jadi bukti bahwa pengorbanan ibu saya tidak sia-sia."

Thresia mengaku sering menyaksikan adegan semacam itu. Baginya, setiap tangis adalah tanda bahwa perjuangan itu nyata. "Air mata mereka bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa mereka benar-benar peduli," katanya.

Di balik layar panggung mode Paris yang megah, ada cerita-cerita kecil yang jarang tersorot: peserta yang belajar bahasa Prancis dari aplikasi ponsel, peserta yang menjahit ulang gaunnya hingga pukul tiga pagi, dan peserta yang menulis surat untuk anaknya di Indonesia agar tidak menyerah.

Inspirasi yang Menyentuh dan Bangkit Kembali

Bagi Thresia, keberhasilan bukan diukur dari seberapa banyak busana yang terjual, melainkan dari seberapa banyak perempuan muda yang bangkit dan percaya pada dirinya sendiri. "Saya ingin mereka pulang bukan hanya membawa koper penuh kain, tapi juga hati yang penuh keberanian," tuturnya.

PINTU Incubator 2026 dirancang lebih inklusif. Peserta dari daerah terpencil, perajin rumahan, hingga ibu muda yang menekuni tenun tradisional dilibatkan. Mereka dilatih untuk melihat limbah kain sebagai peluang, bukan masalah. "Kami ingin mode Indonesia tidak hanya indah, tapi juga bertanggung jawab," tegas Thresia.

Momen paling mengharukan justru datang di akhir acara. Saat foto bersama digelar, seorang peserta memegang tangan Thresia erat dan berbisik, "Terima kasih sudah percaya pada kami." Thresia hanya mengangguk, tak sanggup berkata banyak.

Kisah dari Paris ini bukan sekadar tentang mode. Ia adalah kisah tentang mimpi yang dirawat dengan sabar, tentang perempuan yang saling menguatkan, dan tentang perjalanan panjang yang dimulai dari kain sederhana di ruang tamu. Dan di situlah, di antara jahitan dan doa, sebuah inspirasi menemukan rumahnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User