Jam telah menunjukkan pukul dua pagi. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan hanyalah lampu bohlam redup yang sudah berkali-kali diganti. Suara tuts keyboard yang sudah lama usang terdengar pelan, beradu dengan keheningan malam yang hanya sesekali dipecahkan oleh dengkuran anak-anak yang telah terlelap di kamar sebelah. Inilah waktu paling berharga bagi Mak Vera. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk kembali pulang ke satu-satunya tempat yang selalu menjadi pelariannya: musik.
Sudah bertahun-tahun lamanya, jeda waktu yang hanya beberapa jam ini menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan yang tak pernah berhenti. Setelah seharian berkeliling untuk mencari nafkah, mencuci, memasak, serta memastikan setiap kebutuhan keluarganya terpenuhi, Mak Vera masih menyisakan sisa tenaganya untuk duduk di hadapan keyboard tuanya. Bagi kebanyakan orang, kelelahan akan langsung membawa mereka ke atas kasur. Namun, baginya, melodi-lah yang justru mampu mengembalikan tenaganya untuk terus melangkah keesokan hari.
Perjalanan yang Panjang
Untuk bisa sampai pada titik ini, kisah yang mengisahkan perjalanan hidup Mak Vera tidaklah semulus melodi yang kini akan didengarkan oleh banyak orang. Terlahir dari keluarga sederhana, mimpi untuk bisa berkarya di bidang musik harus ia kubur dalam-dalam ketika realita kehidupan menuntutnya untuk lebih dulu bertahan hidup. Ketika banyak anak seusianya dapat berlatih dengan leluasa, ia harus belajar untuk berjuang agar bisa tetap melanjutkan sekolah sembari membantu orang tuanya. Impiannya untuk memiliki sebuah album, kala itu, hanya bisa ia simpan rapat-rapat di sudut hatinya yang paling dalam.
Waktu terus berlalu dan peran barunya sebagai seorang ibu menjadi prioritas utamanya. Setiap rupiah yang ia hasilkan, ia korbankan untuk masa depan anak-anaknya. Tak ada ruang untuk membeli alat musik baru, tak ada waktu untuk mengikuti audisi, dan tak ada kesempatan untuk sekadar meluangkan waktu berjam-jam untuk berlatih. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, api untuk bermusik tidak pernah padam barang sedetik pun. Justru, melalui setiap tangisan, tawa, serta lelah yang ia lalui bersama keluarganya, api tersebut kian membesar dan berubah menjadi sebuah sumber inspirasi yang tak akan pernah habis.
Di Balik Layar Setiap Melodi
Setelah puluhan tahun menyimpan ratusan lirik di dalam buku catatan lusuh yang kini hampir robek di beberapa halamannya, Mak Vera akhirnya memutuskan untuk mewujudkan mimpinya yang telah lama tertunda. Kali ini, bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk membagikan seluruh kisah hidupnya melalui sepuluh buah lagu yang akan menghiasi album barunya. Setiap lagu yang tercipta merupakan potongan kecil dari kehidupannya, yang mengisahkan segala hal mulai dari perjuangan, harapan, hingga momen mengharukan yang hanya bisa dimengerti oleh seorang ibu.
Proses kreatif yang dijalaninya pun jauh dari kata mudah. Di balik layar, ia harus membagi waktu di antara pekerjaannya, rumah tangganya, serta sesi rekaman yang kerap kali dimulai ketika seluruh rumah telah sunyi. Ada kalanya, rasa lelah begitu menghampirinya hingga air mata tak bisa ia bendung. Namun, setiap kali ia mendengarkan kembali melodi yang baru saja ia rekam, semua kelelahan itu seolah luruh begitu saja. Setiap nada yang terlahir, baginya, adalah bukti bahwa ia masih mampu bangkit dan terus bermimpi.
"Aku ingin anak-anakku tahu, bahwa ibu mereka tidak hanya berjuang untuk memberi mereka makan dan tempat berteduh. Aku juga ingin mereka tahu, bahwa ibu mereka pernah bermimpi. Dan mimpi itu, layak untuk diperjuangkan."
Sebuah Hadiah untuk Mereka yang Pernah Berjuang
Album yang terdiri dari sepuluh lagu ini bukanlah sebuah pencapaian untuk mencari kemegahan. Bagi Mak Vera, karya ini jauh lebih berharga dari itu. Ia ingin album ini menjadi sebuah hadiah, khususnya bagi para ibu di luar sana yang setiap harinya berjuang tanpa pernah mengharapkan tepuk tangan. Bagi mereka yang rela mengorbankan mimpinya demi orang yang mereka cintai, namun di dalam hatinya masih menyimpan kerinduan untuk kembali berkarya. Bagi siapa saja yang merasa bahwa mimpinya sudah terlalu tua untuk diwujudkan, ia ingin karya ini menjadi sebuah pengingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk bangkit.
Ketika ditanya tentang perasaannya yang kini dapat melihat mimpinya terwujud, Mak Vera hanya tersenyum sambil menatap foto anak-anaknya yang terpajang di dinding kamarnya. Senyum itu sarat akan rasa syukur, namun juga sarat akan haru. Setelah sekian lama, momen sederhana seperti ini terasa begitu menyentuh hatinya. Bukan karena sorak sorai, melainkan karena ia tahu, sebagian dari hatinya yang telah lama ia simpan, akhirnya dapat ia bagikan kepada dunia.
Kisah yang Akan Terus Hidup
Ada sesuatu yang sangat istimewa dari musik yang lahir dari pengalaman nyata. Melodi dapat dibuat, namun ketulusan tidak bisa dipalsukan. Itulah yang menjadi kekuatan terbesar dari sepuluh lagu yang telah Mak Vera persiapkan dengan sepenuh hatinya. Setiap baitnya mengandung jejak hidup, setiap reffnya membawa kenangan, dan setiap jeda di antaranya seolah berbisik tentang ketabahan seorang ibu yang tak pernah menyerah.
Di ruangan berukuran 3x4 meter itu, malam demi malam telah terlewati. Namun, kini cahaya redup yang sama akan menerangi sesuatu yang jauh lebih besar. Melalui karyanya, suara seorang ibu yang selama ini hanya terdengar di sudut kamarnya, akan berkelana dan sampai ke telinga banyak orang. Bukan untuk menjadi terkenal, melainkan untuk menghangatkan hati mereka yang mungkin sedang kelelahan, untuk menguatkan mereka yang sedang berjuang, dan untuk mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap kehidupan yang terlihat sederhana, tersimpan sebuah kisah yang luar biasa untuk diabadikan.
Ketika akhirnya lagu pertamanya mengalun, tak ada yang lebih berharga bagi Mak Vera selain harapannya yang sederhana: semoga, melalui musiknya, ada setidaknya satu hati yang merasa dipahami, dikuatkan, dan diingatkan untuk kembali bermimpi.
Comments (0)