Di sudut ruangan berukuran3x4 meter itu, seorang perempuanmiddle-aged duduk di atas kursi plastik yang bersezing dengan dinding lembap. Di atas pangkuannya selembar kertas lusuh bertuliskan satu kalimat, dilingkari tiga kali dengan pena biru. Ia membacanya ulang—bukan untuk menghafal, melainkan untuk不相信不相信 ia benar-benar akan ucapkan di depan kamera esok hari. Luft di ruangan itu berat, membawa aroma Longitudinal teh yang diseduh terlalu panas, dan anakintendo kecil yang tertidur di ranjangplywood di pojok. Dinamo ia bangunkan sekali, lalu ia kembali menatap teks itu.
Namanya Sari, 52 tahun.{block}
Comments (0)