Oct 11, 2026
entertainment

Kisah Krisjiana Baharudin dan Pilihan Vasektomi yang Dituding Sempit

Di sudut sebuah ruangan yang tidak begitu luas, percakapan tentang cinta, tanggung jawab, dan pilihan hidup bergulir tanpa jeda. Krisjiana Baharudin, pria yang selama ini dikenal sebagai pendamping pe...

Kisah Krisjiana Baharudin dan Pilihan Vasektomi yang Dituding Sempit

Di sudut sebuah ruangan yang tidak begitu luas, percakapan tentang cinta, tanggung jawab, dan pilihan hidup bergulir tanpa jeda. Krisjiana Baharudin, pria yang selama ini dikenal sebagai pendamping pedangdut Siti Badriah, mengisahkan perjalanan batinnya ketika memutuskan menjalani vasektomi. Keputusan itu bukanlah hal yang lahir dalam semalam. Ada diskusi panjang, ada keraguan, dan ada keyakinan yang perlahan tumbuh bahwa keluarga kecilnya harus dilindungi dengan cara yang mungkin tidak dipahami banyak orang.

Namun, apa yang ia kira sebagai wujud tanggung jawab justru menuai badai tudingan. Di kolom komentar media sosial, kata-kata pedas menghampiri. Banyak yang menyebut keputusannya sebagai langkah aneh. Bahkan, muncul tuduhan bahwa ia memilih vasektomi agar bisa bebas berselingkuh tanpa khawatir kehamilan. Krisjiana mendengar semua itu. Ia tidak lari. Ia memilih berdiri dan menjawab dengan kepala tegak, meski ada rasa perih yang menyelinap di dada.

Antara Cinta dan Tuduhan yang Membelah

"Pikiran sempit," ujar Krisjiana dengan nada tenang, seperti dikutip dari pernyataannya. Kalimat itu bukan sekadar balasan. Ada kekecewaan yang mengendap di baliknya. Seorang pria yang berusaha menjadi suami bertanggung jawab justru dicurigai memiliki niat buruk. Ia mengisahkan bahwa dirinya dan Siti Badriah telah melalui pembicaraan matang. Vasektomi bukan pelarian, melainkan jalan untuk memastikan keluarga mereka tetap utuh, sehat, dan bahagia tanpa kekhawatiran yang tidak perlu.

Ia menyadari, di tengah masyarakat, pembicaraan tentang alat kontrasepsi pria masih sering dianggap tabu. Banyak yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap kejantanan. Krisjiana melihatnya berbeda. Baginya, kejantanan bukan soal kemampuan biologis semata, melainkan keberanian mengambil peran dalam merencanakan keluarga. "Ini bukan soal siapa yang lebih kuat, tapi soal siapa yang mau bertanggung jawab," ujarnya menggambarkan prinsip yang ia pegang.

Perjalanan Sebuah Keputusan yang Tak Populer

Jauh sebelum tudingan itu muncul, Krisjiana telah melewati perjalanan panjang penuh pertimbangan. Ia membaca, bertanya kepada dokter, dan berdiskusi dengan istrinya. Ada momen ketika ia harus menenangkan diri di tengah keraguan. Ia mengingat kembali mimpi-mimpi sederhana: melihat anak-anak tumbuh, menjaga kesehatan istri, dan membangun rumah tangga yang kokoh. Dari sanalah keyakinan itu menguat.

Yang paling mengharukan, menurut Krisjiana, adalah dukungan Siti Badriah. Sang istri tidak sekadar menyetujui, tetapi juga menemani setiap proses. Mereka duduk bersama, berbicara dari hati ke hati, dan memutuskan bahwa ini adalah langkah terbaik. "Kami memilih ini bukan karena tidak ingin punya anak lagi, tapi karena kami ingin fokus pada kualitas hidup keluarga kami," tuturnya. Air mata sempat menetes ketika keduanya menyadari bahwa keputusan ini akan mengundang banyak pandangan sinis dari luar.

"Kalau memang tujuannya selingkuh, kenapa harus repot-repot begini? Logika seperti itu hanya muncul dari pikiran yang sempit," tegas Krisjiana, dikutip dari pernyataannya.

Ia mengisahkan bahwa tuduhan itu justru menjadi cermin bagi masyarakat. Betapa masih banyak yang sulit memahami bahwa pria juga bisa mengambil peran aktif dalam keluarga berencana. Ia berharap, perlahan, stigma itu luntur. Bukan karena ia ingin dipuji, tetapi karena ia ingin generasi berikutnya lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan reproduksi tanpa rasa malu.

Bangkit dari Hujatan dengan Kepala Tegak

Hari-hari setelah pernyataannya menyebar tidak mudah. Krisjiana mengaku sempat lelah membaca komentar pedas. Namun, ia memilih bangkit. Ia kembali menjalani aktivitas, menemani istri, dan merawat keluarga. Baginya, kebahagiaan tidak diukur dari validasi orang lain, melainkan dari ketenangan hati. Ia ingin menjadi inspirasi, bukan untuk melakukan hal yang sama, tetapi untuk berani mengambil keputusan berdasarkan cinta dan tanggung jawab.

Kisah Krisjiana adalah potret sederhana tentang keberanian. Di balik layar, ia hanyalah suami yang ingin melindungi keluarganya. Ia tidak sempurna, dan ia tidak pernah mengklaim demikian. Yang ia tahu, setiap pilihan punya konsekuensi, dan ia siap menanggungnya. "Saya hanya ingin jadi suami dan ayah yang baik. Kalau itu salah di mata orang lain, saya tetap akan berjalan," ujarnya menutup perbincangan dengan senyum tipis, menyisakan ruang bagi kita untuk merenung tentang arti cinta yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, perjalanan Krisjiana mengajarkan satu hal: di tengah dunia yang cepat menghakimi, ada kekuatan luar biasa dalam kesetiaan dan komunikasi. Ia tidak meminta pengertian dari semua orang. Ia hanya ingin agar keputusannya dihargai sebagai bagian dari mimpi membangun keluarga yang penuh kasih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User