Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, cahaya lampu meja menyorot sepasang tangan yang telaten menyusun manik-manik payet kecil. Sriyatun, perempuan 48 tahun asal Pekalongan, mengisahkan perjalanan panjangnya menekuni kerajinan bros hijab selama hampir dua dekade. Dari ruang sederhana yang dipenuhi gulungan kain, benang, dan aneka mutiara imitasi itu, ia merangkai bukan sekadar aksesori, melainkan potongan-potongan mimpi yang mengubah hidup keluarga.
"Awalnya saya cuma iseng bikin bros buat anak saya yang mulai kuliah. Saya ingin dia tampil percaya diri dengan hijabnya," ujarnya lirih, mata berkaca-kaca saat mengenang momen pertama kali bros buatannya dipuji banyak orang. Sejak itu, pesanan datang bertubi-tubi. Dari satu bros untuk anaknya, kini ia mempekerjakan sepuluh ibu rumah tangga di kampungnya.
Perjalanan Sriyatun tidak selalu mulus. Ia pernah gagal membayar sewa kios karena dagangan sepi, dan hampir menyerah saat pandemi membuat pesanan anjlok. Namun, air mata perjuangan itu justru menjadi bahan bakar. Ia beralih ke penjualan daring, belajar dari nol, hingga kini bros-bros buatannya dikenal hingga mancanegara. Kisahnya adalah potret kecil dari industri aksesori yang kian bergeliat, di mana bros hijab tak lagi hanya pelengkap, tetapi pernyataan gaya dan identitas.
Bros Hijab sebagai Jembatan Gaya dan Makna
Bros hijab kini menjelma elemen penting dalam gaya berpakaian muslimah. Perancang busana sekaligus pemerhati mode Rania Zahra mengungkapkan bahwa bros mampu mengubah kesan sederhana menjadi berkelas. "Bros itu statement kecil yang bisa membuat penampilan stand out. Sesederhana apa pun hijabmu, satu bros cantik bisa bikin look langsung naik kelas," katanya antusias saat ditemui di kawasan Senayan.
Rania menjelaskan, pemilihan bros perlu disesuaikan dengan bahan hijab, warna pakaian, dan acara yang dihadiri. "Untuk acara formal, bros berbahan logam dengan aksen swarovski atau mutiara bisa jadi pilihan. Untuk daily, bros kain atau bros rajut yang playful lebih pas," paparnya. Ia juga mengingatkan pentingnya kenyamanan, agar bros tidak merusak serat kain hijab.
"Bros adalah cara saya bercerita hari itu tanpa harus bicara. Saya sedih, saya pasang bros gelap. Saya bahagia, saya pilih yang berkilau," ujar Rania.
Di Balik Layar: Tangan-Tangan yang Tak Pernah Berhenti
Kisah Sriyatun juga menyentuh Nurhayati, 32 tahun, salah satu perajin yang bergabung semenjak empat tahun lalu. Ia mengaku semula hanya ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan. Kini, ia bisa menyekolahkan anaknya hingga bangku SMA. "Saya dulu cuma bisa menangis kalau butuh uang. Sekarang, melihat bros ini, saya merasa punya harga diri," ucapnya sambil tersenyum tipis.
Para perajin bekerja dengan ritme penuh ketekunan. Ada yang mengerjakan bagian merangkai, menempel, hingga menyelesaikan finishing. Dalam sehari, satu perajin bisa menghasilkan 15 hingga 30 bros, tergantung tingkat kesulitan. Harga jualnya pun bervariasi, mulai dari Rp25 ribu untuk desain sederhana hingga Rp300 ribu untuk bros eksklusif berbahan kristal.
Bagi Sriyatun, angka-angka itu bukan sekadar nominal. Ia bercerita, dari usaha kecilnya, ia dan keluarganya bisa membeli tanah kecil dan merenovasi rumah. "Ini bukan soal uang. Ini soal mimpi yang dulu saya pendam, sekarang keluar jadi kilau-kilau kecil di kerudung orang banyak," katanya dengan mata yang kembali berkaca.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Geliat kerajinan bros hijab juga menarik perhatian generasi muda. Nadia Putri, 22 tahun, mahasiswa desain, mulai merintis merek bros sendiri bersama teman-temannya. "Saya terinspirasi dari ibu-ibu seperti Bu Sriyatun. Mereka memulai dengan sederhana, tapi hasilnya luar biasa. Saya ingin membawa konteks lokal ke kancah modern," tuturnya.
Nadia dan komunitasnya membuat bros dari bahan daur ulang, seperti sisa kain tenun dan plastik bekas yang diubah menjadi manik. Ia percaya, tren bros hijab tidak hanya soal penampilan, tapi juga tanggung jawab lingkungan. "Perjalanan saya masih panjang, tapi saya belajar bahwa kualitas itu dibangun dari ketekunan dan hati," ujarnya penuh semangat.
Rania Zahra menambahkan bahwa tren bros hijab akan terus berkembang, seiring makin banyaknya muslimah yang berani tampil beda. "Jangan takut bereksperimen. Setiap orang punya cerita, dan bros bisa jadi bahasa visual yang menyentuh," pesan Rania. Ia juga menyarankan agar para desainer lokal terus berkolaborasi dengan perajin untuk menciptakan karya yang berkelanjutan.
Di ruang 3x4 meter itu, Sriyatun menutup hari dengan menatap satu bros pesanan terakhir yang baru diselesaikan. Ia berharap, kilau kecil dari tangannya bisa membawa kebahagiaan dan keberanian bagi setiap perempuan yang memakainya. "Saya ingin bros ini jadi pengingat, bahwa dari hal-hal kecil yang kita buat dengan hati, bisa lahir kebahagiaan yang tak terukur," katanya mengakhiri perbincangan.
Comments (0)