Jam dua belas malam di Alun-alun Bandung, kabut tipis mulai turun dan membungkus seluruh lapangan dengan selimut putihnya. Di antara deretan lampu jalan yang mulai meredup, terlihat sosok-sosok berbalut kain putih melangkah dengan tertatih. Tangan mereka terjulur ke depan, punggung mereka membungkuk dan langkah mereka dibuat sepelan mungkin. Bagi kebanyakan orang yang lewat, bulu kuduk mereka langsung berdiri. Namun, jauh di balik sosok menyeramkan itu, tersembunyi sebuah kisah yang begitu hangat dan menyentuh hati.
Di sudut kamar berukuran 3x4 meter itu, Dimas duduk bersila di atas kasurnya sembari menatap layar ponsel dengan mata yang sembab. Sudah tiga bulan lamanya ia mengurung diri di sana. Setelah kehilangan pekerjaannya secara tiba-tiba, seluruh dunia yang ia bangun runtuh dalam sekejap. Rasa malu, cemas dan kosong terus berputar di kepalanya setiap harinya. Ia berhenti menjawab pesan teman, berhenti keluar rumah, bahkan ia lupa kapan terakhir kali sudut bibirnya terangkat untuk sekedar tersenyum.
Hingga pada suatu malam, rasa penasarannya membawa kakinya keluar rumah untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. Tanpa arah yang pasti, ia berakhir di Alun-alun Bandung. Di sanalah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertawa. Bukan karena lelucon, melainkan karena melihat sekelompok orang berbalut kain putih justru saling bercanda, tertawa terbahak-bahak dan bahkan berguling di rerumputan basah layaknya anak kecil yang baru saja bebas bermain. Pemandangan sederhana itu berhasil menembus tembok sunyi yang telah ia bangun dengan susah payah.
Sunyi yang Sama, Hangat yang Berbeda
Setelah malam itu, Dimas kembali lagi keesokan harinya. Lalu keesokan harinya lagi, hingga tanpa disadari, kakinya selalu melangkah menuju kerumunan hangat tersebut. Perlahan, pintu obrolan mulai terbuka untuknya. Ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki luka yang berbeda, namun memiliki satu hal yang sama dengannya: mereka pernah merasa bahwa dunia terlalu berat untuk mereka jalani sendirian.
Di sana, tidak ada yang memaksanya untuk bercerita tentang kegagalannya. Tidak ada tatapan iba yang biasanya ia dapatkan ketika orang lain tahu bahwa ia sedang berjuang. Yang ada hanyalah tawa, candaan receh, serta uluran tangan untuk membantunya melipat kain putih yang akan ia pakai untuk pertama kalinya. "Di sini, kita nggak disuruh terlihat kuat. Kita cuma disuruh hadir, dengan apa adanya." ucap salah satu anggota komunitas itu sambil tersenyum kepadanya. Kalimat sederhana itu sontak membuat air mata Dimas jatuh untuk pertama kalinya karena kelegaan, bukan karena kesedihan.
Di Balik Layar yang Penuh Kasih
Menjadi salah satu sosok menyeramkan di tengah keramaian ternyata bukanlah hal yang mudah. Di balik layar, ada perjuangan kecil yang jarang dilihat orang lain. Mulai dari melipat kain dengan presisi agar bisa menutupi seluruh tubuh, mengatur napas agar langkah terlihat tertatih dengan natural, hingga menahan tawa ketika ada anak kecil yang justru berani mendekat dan mengajak mereka bermain petak umpet.
Namun, momen mengharukan justru selalu datang dari hal-hal terkecil. Dimas masih ingat jelas ketika seorang anak berusia lima tahun berlari menghampirinya dengan mata berbinar, lalu memeluk kakinya sambil tertawa riang. Bagi anak itu, ia hanyalah sosok lucu yang sedang bermain dengannya. Bagi Dimas, pelukan itu adalah pengingat pertama setelah bertahun-tahun bahwa keberadaannya bisa membawa kebahagiaan untuk orang lain. Hal itu menjadi salah satu inspirasi terbesar dalam perjalanannya untuk bangkit kembali.
Komunitas ini mengisahkan banyak hal melalui tawa mereka. Mereka mengajarkan bahwa luka tidak harus selalu dibicarakan dengan wajah murung. Kadang, luka itu cukup diletakkan sejenak, untuk kemudian tertawa bersama di rerumputan basah sambil menikmati angin malam yang sejuk.
Belajar Mencintai Diri Kembali
Seiring berjalannya waktu, Dimas mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia lupakan. Selama berbulan-bulan ia hanya fokus pada semua hal yang telah hilang darinya. Ia lupa bahwa masih banyak hal sederhana yang bisa membuat hatinya hangat kembali. Seperti suara tawa teman-temannya, embusan angin malam, atau rasa puas ketika berhasil membuat sekelompok remaja histeris ketakutan, hanya untuk kemudian tertawa bersama setelah mereka tahu bahwa yang mereka takuti adalah orang-orang yang penuh kasih.
"Aku pikir, untuk bisa disayang, aku harus jadi versi terbaikku. Ternyata, di sini aku disayang justru karena aku jadi diriku apa adanya, lengkap dengan lukaku."ujar Dimas dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan perasaannya.
Sekarang, ketika malam tiba, Dimas tidak lagi bersembunyi di balik tirai kamarnya. Ia berlari keluar dengan semangat, membawa gulungan kain putihnya, siap untuk bergabung dengan keluarganya. Bukan untuk melarikan diri dari hidupnya, melainkan untuk menguatkan dirinya agar berani melanjutkan hidup itu kembali.
Di tengah hiruk pikuk kota yang kerap membuat banyak orang merasa kesepian, sekelompok pocong telah membuktikan bahwa rumah bisa dibangun dari tawa. Bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari tempat yang megah, namun bisa datang dari rerumputan basah, pelukan seorang anak kecil, serta tangan hangat yang meraihmu ketika kamu pikir tidak ada lagi yang peduli. Dan bagi Dimas, itu sudah lebih dari cukup untuk kembali belajar tersenyum, hingga akhirnya, ia benar-benar bahagia untuk hidup kembali.
Comments (0)