Oct 10, 2026
entertainment

Ketika Mimpi Seniman Asia Menemukan Panggungnya di Kemayoran

Di sudut salah satu bilik pameran berukuran sekitar 4x6 meter, seorang seniman muda berdiri termangu. Matanya menatap lukisan kanvas selebar dua meter yang baru saja dipasang. Sebuah karya yang ia ker...

Ketika Mimpi Seniman Asia Menemukan Panggungnya di Kemayoran

Di sudut salah satu bilik pameran berukuran sekitar 4x6 meter, seorang seniman muda berdiri termangu. Matanya menatap lukisan kanvas selebar dua meter yang baru saja dipasang. Sebuah karya yang ia kerjakan selama hampir delapan bulan, melewati malam-malam tanpa tidur dan air mata yang jatuh tanpa suara di kamar kontrakannya. Kini, lukisan itu menggantung megah di bawah lampu sorot, dikelilingi penikmat seni dari berbagai negara. Momen mengharukan itu menjadi salah satu potret paling menyentuh dari perhelatan seni rupa terbesar di Asia Tenggara yang kembali digelar di Kemayoran, Jakarta.

Panggung seni rupa kawasan Asia sekali lagi memusatkan perhatian dunia ke jantung ibu kota. Jakarta menjadi rumah bagi ratusan perupa, galeri, dan kolektor yang datang dari berbagai penjuru benua. Bukan sekadar ajang jual-beli karya, perhelatan ini mengisahkan perjalanan panjang para seniman yang berjuang menghidupkan bahasa visual mereka sendiri, dari kota kecil hingga ruang pameran bergengsi.

Ruang Sederhana yang Menyimpan Mimpi Besar

Di balik gemerlap lampu dan dinding putih bersih, tersimpan kisah-kisah yang jarang tersentuh kamera. Seorang pelukis asal Yogyakarta mengisahkan bagaimana ia harus menjual sepeda motornya demi membiayai pengiriman karya ke Jakarta. "Saya tidak punya pilihan lain. Kalau bukan sekarang, kapan lagi mimpi ini saya perjuangkan?" ujarnya sembari tersenyum getir, mengenang perjalanan sembilan jam dengan bus ekonomi bersama dua kardus lukisan.

Kisah serupa datang dari perupa asal Makassar yang membawa serta ibunya sebagai pendamping. Perempuan paruh baya itu duduk setia di sudut ruangan, memandangi karya anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Saya dulu cuma tukang jahit. Tidak pernah membayangkan anak saya punya karya yang dipamerkan di Jakarta," tuturnya lirih. Air mata yang jatuh di pipinya bukan karena sedih, melainkan kebanggaan yang tak mampu lagi ia tahan.

"Seni bukan soal siapa yang paling terkenal, tetapi soal siapa yang berani bertahan ketika tidak ada seorang pun yang percaya."

Asia Berbicara dalam Bahasa Visual yang Beragam

Perhelatan ini juga menghadirkan narasi lintas negara. Sejumlah galeri dari Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan Singapura membawa karya yang menggambarkan kegelisahan zaman. Ada yang mengangkat isu lingkungan lewat instalasi dari limbah plastik, ada pula yang menyuarakan identitas budaya lewat tenun dan ukiran tradisional yang dipadukan dengan teknologi digital. Keberagaman itu justru memperkuat pesan bahwa seni mampu menjadi jembatan antar manusia.

Seorang kurator asal Manila menyebut momentum ini sebagai kebangkitan seni rupa Asia yang selama ini sering berada di bawah bayang-bayang pasar Barat. "Kami tidak lagi hanya meniru. Kami bercerita dengan akar kami sendiri," ujarnya penuh semangat. Ia menyoroti bagaimana seniman-seniman muda kini berani mengangkat cerita keluarga, kampung halaman, dan luka sejarah menjadi karya yang menyentuh.

Inspirasi yang Tumbuh dari Lantai Pameran

Bagi banyak pengunjung, apa yang mereka saksikan bukan sekadar tontonan. Seorang mahasiswa seni dari Bandung mengaku hampir menyerah sebelum datang ke perhelatan ini. "Saya pikir dunia seni terlalu keras dan tidak berpihak pada orang seperti saya. Tapi setelah melihat perjuangan mereka, saya jadi ingin bangkit lagi," katanya dengan mata berbinar.

Di sudut lain, seorang kolektor senior berbagi pandangan bahwa nilai sebuah karya tidak hanya diukur dari harga. "Yang paling berharga adalah cerita di baliknya. Setiap goresan punya perjalanan," ujarnya. Ia berharap panggung seperti ini terus hadir, bukan hanya di kota besar, tetapi juga menyapa daerah-daerah yang selama ini jarang tersentuh panggung seni nasional.

Menjelang malam, lampu-lampu mulai diredupkan. Namun di sudut ruangan berukuran 4x6 meter itu, seniman muda tadi masih berdiri. Kali ini ia tidak termangu, melainkan menggenggam tangan ibunya yang baru datang dari kampung. Di tengah riuhnya pengunjung, mereka berdua hanya diam, menatap lukisan yang kini menjadi saksi bahwa mimpi-mimpi sederhana bisa menemukan panggungnya sendiri. Sebuah perjalanan panjang yang akhirnya berbicara tanpa perlu banyak kata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User