Malam itu, di sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rani duduk gelisah di antara lima teman kuliahnya. Daftar menu yang disodorkan pelayan seakan menjelma bom waktu. Angka Rp85 ribu untuk seporsi pasta, Rp45 ribu untuk segelas kopi susu — semua terasa mencekik lehernya. Di dalam dompetnya, hanya tersisa Rp120 ribu untuk bertahan hidup hingga Jumat, tiga hari lagi. Namun mulutnya kelu. Ia tak sanggup berkata tidak.
"Aku cuma bisa senyum sambil pesan air mineral. Rasanya kayak pengkhianatan kecil pada diri sendiri," kenang Rani, kini 26 tahun, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (12/2/2025). Ia mengisahkan bagaimana tiga tahun terakhir hidupnya diwarnai kecemasan diam-diam setiap kali grup percakapan berdering. Ajakan nongkrong, reuni dadakan, atau sekadar kopi sore, selalu diikuti rasa waswas yang mengendap di dada.
Di Balik Meja, Ada Perang yang Tak Terlihat
Apa yang dialami Rani bukan kisah tunggal. Di banyak kota besar, anak muda berjuang di ruang abu-abu antara keinginan menjaga pertemanan dan kenyataan finansial yang tak seindah unggahan media sosial. Gengsi finansial — istilah yang mulai sering dibicarakan di ruang konseling kampus dan komunitas literasi keuangan — menggambarkan tekanan sosial untuk terus terlihat mampu, meski kantong sedang menjerit.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Riana Anggraini, menyebut fenomena ini sebagai bentuk social cost yang kerap diabaikan. "Remaja dan dewasa muda sering merasa harga diri mereka diukur dari kemampuan mengikuti gaya hidup kelompok. Menolak ajakan terasa seperti menolak identitas sosial," paparnya saat ditemui di ruang praktiknya di Depok, beberapa waktu lalu.
Data mendukung kegelisahan itu. Survei literasi keuangan yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan pada 2024 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional baru menyentuh 65,43 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Artinya, banyak orang memiliki akses ke produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelolanya. Jurang inilah yang membuat generasi muda rentan terseret arus gaya hidup.
"Saya sampai menjual kamera kesayangan buat tetap bisa nongkrong. Setelah itu saya nangis semalaman," ujar Dimas, 24 tahun, mahasiswa tingkat akhir di Bandung, yang menuturkan pengalamannya dengan nada getir.
Belajar Berkata Tidak Tanpa Kehilangan Kawan
Pertanyaan besarnya: bisakah seseorang menolak ajakan mahal tanpa harus kehilangan lingkaran pertemanannya? Jawabannya, menurut mereka yang sudah melewati fase sulit ini, ada pada kejujuran yang dibalut kelembutan.
Rani mulai menemukan caranya setahun lalu. Ia memberanikan diri membuka percakapan di grup kecil dengan tiga sahabatnya. "Aku bilang, maaf ya minggu ini aku sedang atur ulang pengeluaran. Kita bikin acara masak bareng di kos, yuk?" kenangnya. Dugaannya meleset. Tidak ada yang menertawakan atau menghakimi. Justru dua dari tiga temannya mengaku merasa lega karena selama ini menyimpan beban serupa.
"Ternyata keberanian untuk jujur itu menular. Satu orang membuka pintu, yang lain ikut masuk dan bernapas lega," kata Rani, yang kini aktif di komunitas literasi keuangan untuk mahasiswa.
Dimas memilih pendekatan berbeda. Ia belajar mengusulkan alternatif sebelum ajakan datang. "Biasanya aku duluan yang bilang, 'Gimana kalau kita jogging bareng akhir minggu?' Jadi bukan menolak, tapi mengalihkan," tuturnya. Cara ini, kata dia, membuat pertemanan tetap hangat tanpa memaksanya membakar uang.
Perencana keuangan independen, Maya Sari, menekankan pentingnya anggaran sosial yang disadari. "Sisihkan pos khusus untuk bersosialisasi. Kalau sudah habis, berarti memang waktunya bilang 'lain kali ya'. Ini bukan pelit, ini merawat masa depan," jelasnya dalam sesi kelas daring, pekan lalu.
Ia juga mengingatkan bahwa pertemanan sejati tidak diukur dari meja restoran mana yang dipilih. "Teman yang baik akan mengerti ketika kamu jujur. Yang pergi karena kamu tidak bisa traktir, mungkin memang bukan teman yang layak diperjuangkan," tegas Maya.
Merawat Diri, Menghargai Persahabatan
Di sudut lain kota Yogyakarta, sekelompok mahasiswa membentuk lingkaran kecil yang mereka sebut "klub hemat bahagia". Setiap Jumat, mereka bergiliran memasak di rumah kontrakan, berbagi cerita, dan sesekali menonton film bersama. Biaya per orang tak lebih dari Rp15 ribu.
"Awalnya iseng. Lama-lama jadi ruang ternyaman. Kami tertawa sampai air mata, tanpa takut dompet menangis," ujar Alya, penggagas klub itu, sambil tersenyum.
Kisah-kisah sederhana ini menyimpan pelajaran besar: nilai sebuah pertemanan tidak terletak pada seberapa mahal tempat duduknya, melainkan pada seberapa tulus telinga yang mendengarkan. Menolak ajakan nongkrong mahal bukan tanda putus asa, tetapi bentuk penghormatan pada diri sendiri dan mimpi yang sedang diperjuangkan.
Bagi Rani, keputusan kecil untuk berkata jujur itu mengubah segalanya. "Aku dulu pikir kehilangan teman itu lebih menakutkan daripada kehilangan kendali atas hidupku. Ternyata salah. Justru ketika aku jujur, aku menemukan teman yang sesungguhnya," tutupnya, suaranya mantap.
Comments (0)