Oct 10, 2026
entertainment

Ketika Anggun dan Prince Poetiray Menyatu di Panggung Final ASEAN Cup

Lampu sorot belum sepenuhnya menyala ketika langkah seorang perempuan berusia lima dekade lebih itu menyentuh tepi panggung. Di belakangnya, ribuan kursi stadion masih bergelombang oleh suara penonton...

Ketika Anggun dan Prince Poetiray Menyatu di Panggung Final ASEAN Cup

Lampu sorot belum sepenuhnya menyala ketika langkah seorang perempuan berusia lima dekade lebih itu menyentuh tepi panggung. Di belakangnya, ribuan kursi stadion masih bergelombang oleh suara penonton yang belum berhenti bernyanyi. Namun begitu mikrofon diangkat, seisi arena seakan menahan napas. Anggun Cipta Sasmi, penyanyi yang telah menembus panggung internasional sejak era 1990-an, berdiri di sana bukan sekadar sebagai bintang tamu. Ia datang membawa beban emosional sebuah bangsa yang tengah menanti pertandingan paling menentukan.

Malam itu, final turnamen sepak bola antarnegara ASEAN mempertemukan Indonesia dan Thailand. Namun sebelum wasit meniup peluit, panggung hiburan lebih dulu menjadi medan perasaan. Anggun membuka penampilannya dengan tembang yang ia dedikasikan untuk para pemain. "Saya menyanyi untuk kalian semua, untuk anak-anak yang bermimpi memakai jersey merah putih," ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar, seperti dikutip dari suasana di stadion.

Dua Generasi, Satu Panggung

Tak lama berselang, Prince Poetiray muncul dari sisi kanan panggung. Penyanyi muda yang namanya melesat lewat ajang pencarian bakat itu membawa energi yang berbeda. Jika Anggun hadir dengan wibawa dan keheningan yang menyentuh, Prince datang dengan langkah ringan dan senyum yang seakan menularkan semangat kepada ribuan pasang mata di tribun.

Kolaborasi keduanya bukan sekadar menyatukan dua nama besar dari generasi yang berbeda. Di balik layar, keduanya sempat berlatih bersama selama tiga hari sebelum malam final. "Saya belajar banyak dari sosok yang sudah puluhan tahun bernyanyi di panggung dunia. Beliau mengajarkan saya bahwa menyanyi bukan soal nada, tapi soal hati," kisah Prince usai sesi latihan. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan perjalanan seorang anak muda yang tumbuh dari kota kecil dan kini berdiri di panggung yang disaksikan jutaan orang.

Penampilan mereka menjadi momen mengharukan bagi sebagian penonton. Seorang ibu paruh baya di tribun timur terlihat menitikkan air mata ketika Anggun menyanyikan lagu bertema perjuangan. Di sebelahnya, seorang anak lelaki berseragam merah putih menggenggam bendera kecil, matanya tak lepas dari panggung. Dua generasi penonton itu, sama seperti dua penyanyi di atas panggung, seakan dipertemukan oleh satu hal: harapan.

Lebih dari Sekadar Hiburan

Dalam banyak perhelatan besar, penampilan prapertandingan sering dianggap sekadar pelengkap. Namun malam itu terasa berbeda. Panitia sengaja memilih dua penyanyi yang mewakili dua fase perjalanan musik Indonesia. Anggun adalah simbol keberanian menembus batas negara, sementara Prince menggambarkan generasi baru yang tumbuh di era digital tanpa kehilangan akar.

"Kami ingin penonton merasakan bahwa sepak bola dan musik sama-sama berbicara tentang mimpi. Keduanya menyatukan orang dari latar belakang apa pun," tutur seorang penanggung jawab acara yang enggan disebut namanya. Pilihan itu ternyata tepat. Ketika keduanya menyanyikan bagian akhir lagu bersama-sama, tribun yang tadinya terpecah oleh warna dan asal daerah larut dalam satu suara.

Bagi Prince, kesempatan itu bukan hanya soal karier. Ia mengaku sempat gugup hingga berkali-kali mengecek nada di belakang panggung. "Ada satu titik di mana saya ingin menangis. Bukan karena takut, tapi karena sadar saya sedang berdiri di tempat yang dulu hanya saya lihat di televisi," ujarnya.

Momen yang Tinggal di Ingatan

Ketika lagu terakhir usai dan kedua penyanyi meninggalkan panggung, stadion masih bergemuruh. Para pemain mulai memasuki lapangan, tetapi sebagian penonton masih mengabadikan momen tadi lewat ponsel mereka. Ada yang mengunggahnya ke media sosial dengan kalimat singkat: "Malam ini kita menang, apa pun hasilnya."

Dalam dunia yang sering kali sibuk menghitung skor dan trofi, penampilan Anggun dan Prince mengingatkan bahwa pertandingan sepak bola juga tentang cerita manusia. Tentang seorang perempuan yang telah lama melangkah jauh, dan seorang pemuda yang baru memulai perjalanannya. Tentang penonton yang datang membawa harapan, lalu pulang membawa kenangan.

Malam itu, sebelum bola ditendang, dua suara telah lebih dulu menyentuh hati. Dan bagi banyak orang di stadion, itulah kemenangan pertama yang mereka rasakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User