Oct 17, 2026
entertainment

Keringat Dingin Prince Poetiray di Malam Puncak GBK

Di balik gemerlap lampu Stadion Utama Gelora Bung Karno, ada sebuah momen yang jarang terlihat oleh mata penonton. Seorang pemuda berdiri di sudut ruang ganti, kedua tangannya menggenggam erat mikrofo...

Keringat Dingin Prince Poetiray di Malam Puncak GBK

Di balik gemerlap lampu Stadion Utama Gelora Bung Karno, ada sebuah momen yang jarang terlihat oleh mata penonton. Seorang pemuda berdiri di sudut ruang ganti, kedua tangannya menggenggam erat mikrofon yang belum ia nyalakan. Keringat dingin mengalir perlahan di pelipisnya, bukan karena panas, melainkan karena gugup yang luar biasa menusuk jantung. Malam itu, Senin (5/10), ia bukan sekadar penyanyi. Ia adalah bagian dari sejarah.

Prince Poetiray, nama yang mungkin belum sebesar bintang-bintang papan atas negeri ini, dipercaya tampil dalam upacara penutupan final FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK. Sebuah panggung raksasa dengan puluhan ribu pasang mata menatapnya. Sebuah momen yang membuat siapa pun bisa mendadak lunglai. "Jujur, saya deg-degan luar biasa," ujarnya mengisahkan perasaannya saat itu dengan suara yang masih bergetar haru.

Ketika Mimpi Bertemu Kenyataan

Perjalanan Prince menuju panggung itu bukanlah jalan yang mulus. Ia mengisahkan bagaimana ia harus berjuang dari panggung-panggung kecil, kafe-kafe sederhana, hingga akhirnya dipercaya untuk bernyanyi di hadapan ribuan orang dan disaksikan oleh jutaan penonton di seluruh Asia Tenggara. "Ini mimpi yang saya kejar sejak saya masih kecil," tambahnya, matanya berkaca-kaca saat mengenang titik awal kariernya dulu.

Malam itu, suasananya berbeda. Bukan hanya tentang menyanyi dengan nada yang tepat. Ada tekanan besar karena ia membawa nama bangsa di panggung internasional. Ia menyadari bahwa setiap lirik yang ia lantunkan akan menjadi representasi Indonesia di mata negara-negara tetangga. Maka dari itu, meski keringat dingin terus membasahi punggungnya, ia mencoba menguatkan dirinya.

"Saya bilang ke diri saya sendiri, ini bukan tentang saya. Ini tentang Indonesia. Saya harus bangkit, saya harus berani," kenangnya penuh emosi.

Perjuangan di Balik Layar

Latihan demi latihan ia jalani dengan disiplin tinggi. Prince mengisahkan bahwa ia rela mengurangi jam tidur dan meninggalkan waktu berkumpul bersama keluarga demi menyempurnakan penampilannya. Tidak jarang ia merasa lelah, bahkan nyaris menyerah ketika suaranya sempat serak beberapa hari sebelum acara puncak. Namun, dukungan dari tim dan orang-orang terdekat membuatnya kembali bangkit.

Momen mengharukan terjadi ketika ia masuk ke stadion untuk gladi resik. Melihat luasnya SUGBK yang megah, ia sempat terdiam di tengah lapangan. "Saya berdiri di sana, menatap tribun yang kosong, dan tiba-tiba air mata saya menetes. Saya sadar, ini adalah panggung yang jauh lebih besar dari apa yang pernah saya bayangkan," tuturnya dengan nada sendu.

Keringat dingin yang ia rasakan bukanlah tanda kelemahan. Justru itu adalah bukti bahwa ia manusia biasa yang memiliki rasa takut, namun memilih untuk tetap melangkah. Di balik layar, ia berulang kali menarik napas panjang, menenangkan diri, dan meyakinkan hatinya bahwa kerja kerasnya tidak akan sia-sia.

Panggung yang Mengubah Segalanya

Begitu lampu sorot menyorot wajahnya, dan ribuan orang bersorak, semua rasa gugup itu perlahan sirna. Prince menyanyikan lagu-lagu yang telah ia persiapkan dengan sepenuh hati. Setiap lirik ia hayati, setiap nada ia lantunkan dengan penuh perasaan. Penonton yang semula riuh pun ikut terhanyut dalam suasana yang ia bangun. "Saya hanya fokus pada satu hal: memberikan yang terbaik, karena ini kesempatan yang tidak datang dua kali," ujarnya lirih.

Setelah penampilannya usai, ia turun dari panggung dengan perasaan campur aduk. Lega, haru, dan bangga bercampur menjadi satu. Ia menangis di pelukan timnya, sebuah tangis yang mewakili seluruh perjuangan panjang yang akhirnya terbayar sempurna. Momen itu menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang: bahwa keberanian bukanlah tentang tidak memiliki rasa takut, tetapi tentang tetap melangkah meski rasa takut itu nyata.

Kisah Prince Poetiray di atas panggung GBK menjadi inspirasi yang menyentuh. Bahwa dari rasa gugup, keringat dingin, dan air mata, lahirlah sebuah pencapaian yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa mimpi sederhana seorang anak bisa berubah menjadi kenyataan megah, asalkan ia berani berjuang dan tidak pernah menyerah pada keadaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User