Di sebuah dapur rumah kontrakan berukuran 3x4 meter di kawasan Depok, Jawa Barat, aroma daun seledri dan bawang goreng menyusup pelan ke sela-sela jendela. Siti Rohmah, 54 tahun, berdiri di depan kompor dengan tangan yang tak pernah berhenti bergerak. Ia sedang memasak soto ayam kuah bening, hidangan yang sudah ia racik sejak tiga puluh tahun lalu, sejak dirinya masih menjadi pengantin baru yang belajar memasak dari sang ibu di kampung halaman di Solo.
"Dulu saya nggak bisa masak sama sekali. Suami saya yang ngajarin, katanya soto itu harus bening, jangan keruh, biar kelihatan bersih dan bikin hati tenang," ucap Siti sambil tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca mengingat sosok suaminya yang telah berpulang lima tahun silam. Baginya, kuah bening bukan sekadar soal teknik memasak. Ada kenangan, ada doa, dan ada cinta yang direbus perlahan di dalamnya.
Filosofi Bening di Balik Semangkuk Soto
Banyak orang mengira soto ayam kuah bening hanyalah soal kaldu yang tidak diberi santan atau kunyit berlebih. Namun bagi Siti, kejernihan kuah adalah cerminan kejujuran. Ia mengisahkan bagaimana ibunya dulu selalu berpesan bahwa masakan yang baik tidak perlu disembunyikan dengan bumbu yang mencolok. "Kalau ayamnya segar dan bumbunya pas, kuahnya akan bening sendiri. Nggak perlu ditutupin apa-apa," tuturnya menirukan ucapan almarhumah ibunya.
Siti memulai proses memasaknya sejak pukul lima pagi. Ayam kampung pilihannya direbus dengan api kecil selama hampir dua jam. Ia tidak pernah tergesa-gesa. Di sela-sela menunggu, ia menyiapkan bawang putih, bawang merah, kemiri, dan sedikit merica yang ditumbuk kasar menggunakan cobek warisan ibunya. "Cobek ini sudah umur lima puluh tahun lebih. Kalau ditumbuk pakai blender, rasanya beda. Tangan itu punya rasa," katanya sambil tertawa kecil.
"Kuah bening itu bukan berarti kosong. Justru di situ semua rasa harus jujur, nggak bisa bohong. Kalau ayamnya nggak enak, langsung kelihatan."
Momen paling mengharukan bagi Siti terjadi ketika anak-anaknya pulang ke rumah. Ia selalu menyiapkan soto ini sebagai hidangan penyambut. Meja makan sederhana di ruang tengah akan dipenuhi mangkuk-mangkuk berisi soun, tauge, irisan ayam, dan telur rebus. Kuah bening panas dituang terakhir, disusul taburan bawang goreng dan seledri. "Anak saya yang di Surabaya bilang, rasa soto ini yang bikin dia ingat rumah. Katanya, di kota besar semua serba cepat, tapi soto ini bikin dia berhenti sebentar," ungkap Siti dengan mata yang kembali memerah.
Perjalanan Rasa yang Tak Pernah Usai
Kisah soto ayam kuah bening sebenarnya bukan hanya milik Siti. Hidangan ini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang kuliner Nusantara, hadir di berbagai daerah dengan versi masing-masing. Di Kudus, soto bening disajikan dengan nasi dan sate kerang. Di Lamongan, kuahnya diberi sedikit kunyit namun tetap jernih. Di Bali, soto ayam bening kerap disantap bersama sambal matah. Setiap daerah menyimpan cerita, dan setiap cerita punya dapur dengan aroma yang berbeda.
Namun yang membuat hidangan ini bertahan lintas generasi bukanlah resep tertulis, melainkan ingatan. Banyak keluarga di Indonesia memiliki "soto versi nenek" yang tidak pernah tercatat dalam buku resep apa pun. Resep itu hidup di ujung jari, di ingatan lidah, dan di cerita-cerita yang diwariskan lewat lisan. "Ibu saya dulu bilang, ukurannya itu feeling. Tapi feelingnya itu lahir dari puluhan tahun masak," kata Siti.
Bangkit dari Kesederhanaan
Sejak suaminya meninggal, Siti sempat kehilangan semangat. Ia berhenti berjualan soto selama hampir satu tahun. Air matanya jatuh setiap kali melihat cobek dan panci besar di dapur. Namun dorongan anak-anaknya membuatnya bangkit. Kini, ia kembali berjualan soto di depan rumahnya setiap pagi, melayani pelanggan setia yang datang sejak pukul enam pagi. Beberapa di antara mereka adalah pekerja kantoran yang mampir sebelum berangkat, ada juga mahasiswa yang mengaku datang karena "rindu masakan ibu".
"Ada satu pelanggan, anak kuliah. Dia bilang, soto saya bikin dia nggak sedih lagi sama hidup. Saya sampai nangis dengar itu. Ternyata masakan sederhana bisa jadi obat," tuturnya.
Di balik semangkuk soto ayam kuah bening yang tampak sederhana, tersimpan mimpi, perjuangan, dan inspirasi yang tidak pernah pudar. Siti tidak pernah menganggap dirinya koki hebat. Baginya, ia hanya perempuan biasa yang berusaha menjaga rasa agar tetap hidup. "Saya cuma pengin anak cucu saya tahu, dari dapur kecil ini, ada cinta yang dimasak setiap hari," katanya menutup perbincangan, sambil kembali mengaduk panci, memastikan kuah tetap bening, tetap jernih, tetap menghangatkan hati siapa pun yang menikmatinya.
Comments (0)