Oct 13, 2026
entertainment

Jisun Mantan Fromis_9 dan Malam-Malam yang Tak Kunjung Usai

Di sebuah kamar kecil di Seoul, lampu meja menyala temaram. Jisun, perempuan yang dulu berdiri di atas panggung bersama Fromis_9, duduk menatap layar ponselnya. Bukan untuk membaca komentar penggemar,...

Jisun Mantan Fromis_9 dan Malam-Malam yang Tak Kunjung Usai

Di sebuah kamar kecil di Seoul, lampu meja menyala temaram. Jisun, perempuan yang dulu berdiri di atas panggung bersama Fromis_9, duduk menatap layar ponselnya. Bukan untuk membaca komentar penggemar, melainkan melihat tagihan yang tak kunjung lunas. Di ruang sederhana itu, ia mengisahkan perjalanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—tentang menjadi idola K-pop yang perlahan kehilangan penghasilan, dan tentang utang yang mengikuti setiap langkahnya.

Kisah ini bukan dongeng pahit yang dibumbui sensasi. Jisun sendiri yang membagikannya, dengan suara pelan namun tegas, tentang masa-masa ketika gaji yang ia terima dari agensi tiba-tiba berhenti mengalir. "Aku benar-benar tidak punya apa-apa saat itu," ujarnya, seperti dikutip dari pengakuannya. Kalimat itu sederhana, tetapi beratnya terasa hingga ke tulang.

Ketika Panggung Mulai Sepi

Bagi banyak orang, menjadi idola berarti hidup dalam gemerlap lampu sorot, dikelilingi penggemar, dan dibayar mahal. Namun Jisun mengisahkan sisi lain yang jarang tersorot: ketidakpastian yang datang tanpa peringatan. Pendapatan yang dulu menjadi tumpuan perlahan menguap, sementara kehidupan harus tetap berjalan. Ia masih harus membayar sewa, makan, dan menutup berbagai kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Di titik itulah pinjaman menjadi pilihan yang terasa paling masuk akal—meski kemudian menjadi jebakan. "Aku berpikir ini hanya sementara. Ternyata tidak," kenangnya. Utang demi utang menumpuk, dan tekanan mental pun ikut menumpuk. Malam-malam ia habiskan dengan mata terbuka, memikirkan bagaimana cara keluar dari lingkaran yang semakin menyesakkan.

Perjalanan Jisun sebagai mantan personel Fromis_9 bukan hanya soal kehilangan pekerjaan. Ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa dunia yang dulu ia kenal—dunia yang penuh cahaya dan tepuk tangan—bisa berubah menjadi tempat yang sunyi dan menakutkan. "Aku merasa seperti kehilangan arah," tuturnya. Air mata yang ia tahan di depan kamera sering kali jatuh saat ia sendirian.

Berjuang dari Titik Terendah

Yang membuat kisah Jisun menyentuh bukan hanya soal angka dan tagihan, melainkan tentang bagaimana ia bangkit. Ia mulai mencari cara untuk bertahan, menerima pekerjaan apa pun yang bisa membantunya bernapas sedikit lebih lega. Ia belajar mengelola uang dengan ketat, memangkas pengeluaran, dan berhadapan dengan rasa malu yang sering menyertai masalah finansial.

"Aku tidak ingin orang lain mengasihani aku. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa ini bisa terjadi pada siapa saja," ucapnya. Kalimat itu seperti tamparan halus bagi industri yang sering kali hanya menampilkan sisi indahnya. Di balik layar, banyak idola muda yang menandatangani kontrak tanpa memahami sepenuhnya apa yang menanti mereka ketika masa kejayaan berakhir.

Jisun tidak menyalahkan siapa pun secara terbuka. Namun ceritanya menjadi cermin: bahwa sistem yang ada perlu lebih peduli pada kesejahteraan para artisnya, terutama ketika mereka tidak lagi berada di puncak. Ia berharap pengalamannya bisa menjadi pelajaran, bukan sekadar berita yang cepat menguap.

Kini, langkah Jisun masih belum sepenuhnya bebas dari beban. Tetapi ada satu hal yang berubah: ia tidak lagi merasa sendirian. Ia mulai berbicara, membuka diri, dan menemukan bahwa banyak orang ternyata memahami perjuangannya. "Aku masih berjuang, tapi aku tidak menyerah," katanya.

Di kamar kecil dengan lampu temaram itu, Jisun menutup ponselnya. Tagihan mungkin masih ada esok hari, tetapi malam ini ia memilih untuk tidur dengan satu keyakinan kecil: bahwa mimpi yang pernah ia bangun tidak akan runtuh hanya karena utang. Kisahnya adalah pengingat bahwa di balik setiap panggung yang bersinar, selalu ada manusia yang berjuang—dan kadang, perjuangan itu jauh lebih berat daripada yang terlihat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User