Di sebuah kamar sederhana yang dipenuhi pernak-pernik kenangan dari panggung ke panggung, Jirayut duduk termenung sambil menggenggam ponselnya. Layar kecil itu menampilkan jadwal pertandingan final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand, Senin (5/10). Ada rindu yang tidak bisa ia sembunyikan—rindu pada atmosfer stadion yang bergemuruh, pada sorak sorai ribuan suporter yang menyatu dalam satu nyanyian kebangsaan.
"Aku pengin banget nonton langsung, rasanya itu beda kalau lihat dari tribun," ujarnya dengan mata berbinar, mengisahkan keinginannya yang sederhana namun menggetarkan. Pria yang dikenal lewat senyum ceria di layar kaca itu ternyata menyimpan kecintaan mendalam pada sepak bola tanah air, sebuah kecintaan yang tumbuh sejak ia masih kecil di kampung halaman.
Perjalanan dari Layar Kaca ke Tribun Stadion
Bagi Jirayut, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia mengingat momen-momen ketika ia menyaksikan pertandingan Timnas bersama teman-teman kosnya, berteriak hingga suara serak, dan kadang menitikkan air mata ketika Garuda harus mengakui keunggulan lawan. "Dulu aku cuma bisa nonton di televisi, berdesakan di ruang tamu sempit. Sekarang, kalau ada kesempatan, aku pengin merasakan langsung duduk di stadion, bersorak bareng suporter lain," tuturnya.
Keinginan itu bukan sekadar iseng. Ia mengaku telah mengikuti perjalanan Timnas sejak babak penyisihan, mencatat setiap gol, dan menghafal nama-nama pemain muda yang kini menjadi tulang punggung. Ketika Indonesia melaju ke final, rasa bangga itu memuncak—sebuah kebanggaan yang ingin ia bagikan kepada orang-orang terdekat.
"Kalau Tuhan kasih rezeki lebih, aku mau beli tiket, berdiri di antara lautan merah putih, dan menyanyikan lagu kebangsaan sekeras-kerasnya. Itu mimpi kecilku," ucapnya dengan suara bergetar.
Di Balik Layar Kesibukan Seorang Penghibur
Namun, jalan menuju tribun tidak selalu mulus. Jadwal pekerjaan yang padat, syuting yang kerap hingga larut malam, dan jarak yang membentang antara Jakarta dan kota tempat pertandingan digelar menjadi tantangan tersendiri. Jirayut mengisahkan bagaimana ia harus pandai-pandai mengatur waktu di sela-sela kesibukannya sebagai penghibur.
"Aku sudah bilang ke manajer, kalau memungkinkan, aku pengin libur sehari buat nonton. Tapi kalau memang tidak bisa, ya sudah, aku nonton dari layar gadget sambil tetap kerja," ujarnya sambil tersenyum kecut. Ada perjuangan kecil yang jarang terlihat kamera—seorang anak muda yang berusaha menyeimbangkan ambisi karier dan kecintaannya pada sepak bola.
Ia juga bercerita tentang teman-temannya yang sudah lebih dulu memesan tiket, membuat grup obrolan penuh dengan ajakan dan janji untuk bertemu di stadion. "Mereka bilang, 'Jir, kamu harus datang, ini momen bersejarah.' Aku jadi makin semangat, tapi juga deg-degan," kenangnya.
Sebuah Harapan untuk Garuda
Di balik keinginannya menonton, tersimpan harapan besar untuk Timnas Indonesia. Jirayut menyebut bahwa pertandingan melawan Thailand selalu menyimpan tensi tersendiri—dua tim yang sama-sama punya sejarah panjang dan rivalitas sehat. Ia berharap Garuda mampu tampil lepas, bermain dengan hati, dan membawa pulang trofi ke tanah air.
"Yang penting jangan nervous, main seperti latihan, dan jangan lupa berdoa. Kita semua di rumah, termasuk aku, akan dukung sampai akhir," katanya penuh semangat. Bagi Jirayut, sepak bola adalah bahasa universal yang menyatukan orang dari berbagai latar belakang, termasuk dirinya yang jauh dari kampung halaman.
Kisah Jirayut mungkin sederhana—seorang penghibur yang ingin menonton pertandingan sepak bola. Tetapi di balik itu, ada kisah tentang mimpi, perjuangan, dan cinta pada negeri yang ia ungkapkan dengan cara paling jujur. Apakah ia akan benar-benar duduk di tribun Senin nanti, hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal yang pasti: doanya untuk Garuda tidak pernah absen, bahkan ketika ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Comments (0)