Oct 17, 2026
entertainment

Jalan Buntu Mediasi Erin dan Eks ART, Bayang-Bayang Harapan yang Pupus

Ruang mediasi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu terasa begitu sunyi ketika kedua belah pihak memilih menunduk. Tak ada jabat tangan, tak ada senyum yang mengembang. Yang tersisa hanyalah keheni...

Jalan Buntu Mediasi Erin dan Eks ART, Bayang-Bayang Harapan yang Pupus

Ruang mediasi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu terasa begitu sunyi ketika kedua belah pihak memilih menunduk. Tak ada jabat tangan, tak ada senyum yang mengembang. Yang tersisa hanyalah keheningan panjang, seakan menegaskan bahwa jalan damai yang selama ini dinanti akhirnya benar-benar kandas. Nur Rohmah, perempuan yang pernah menjadi asisten rumah tangga di kediaman Rien Wartia Trigina—yang lebih dikenal publik sebagai Erin—, keluar dari ruangan dengan raut letih. Langkahnya lambat, seperti menanggung beban yang jauh lebih berat dari angka Rp1 miliar yang tertulis dalam gugatannya.

Ketika Dua Dunia Tak Lagi Sependapat

Mediasi yang digelar hari itu memang didesain sebagai pintu terakhir sebelum perkara berlanjut ke meja hijau. Namun, perbedaan pandangan yang menganga membuat kesepakatan tak kunjung tercapai. Pihak terlapor disebut tetap pada pendiriannya, sementara pihak penggugat merasa apa yang diperjuangkan tak bisa sekadar diredam dengan kata sepakat. Sumber yang dekat dengan proses hukum itu mengisahkan bahwa sejak awal ruang negosiasi sudah dipenuhi ketegangan. Tak ada yang mampu menjembatani dua kepentingan yang saling berhadapan.

“Kami sudah berupaya maksimal untuk mencari titik temu, tetapi pada akhirnya tidak ada kesepakatan yang bisa dicapai,” ujar seorang yang memahami jalannya persidangan, menggambarkan momen mengharukan ketika kedua kubu meninggalkan ruangan tanpa kata.

Perkara ini sendiri berawal dari gugatan bernilai fantastis—Rp1 miliar—yang dilayangkan Nur Rohmah. Angka itu terasa seperti batu besar yang diletakkan di tengah meja, membuat kedua belah pihak sama-sama sulit bergerak. Bagi sebagian pengamat, jumlah tersebut dipandang sebagai bentuk perjuangan atas hak yang diyakini belum tuntas. Namun bagi kubu seberang, angka itu dinilai terlalu tinggi dan tak berdasar. Di sinilah jurang pemisah itu menganga, dan mediasi pun berakhir tanpa ujung yang manis.

Di Balik Layar Perjuangan Seorang Mantan Asisten Rumah Tangga

Di sudut kota yang lain, jauh dari sorotan kamera dan kerumunan awak media, Nur Rohmah menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan yang berbeda jauh dari gemerlap dunia yang kini membelit nama Erin. Ia bukan figur publik. Ia hanya perempuan yang pernah dipercaya mengurus dapur, menyapu lantai, dan menjaga rumah orang lain. Tapi justru dari orang-orang seperti dia, kisah perjuangan kerap lahir tanpa tepuk tangan.

Mantan asisten rumah tangga itu memilih menempuh jalur hukum bukan tanpa alasan. Ia merasa ada hak-hak yang belum terselesaikan, dan satu-satunya jalan yang dianggap adil adalah melalui pengadilan. Perjalanan ini tentu tidak mudah. Setiap kali harus hadir di ruang sidang, ia harus menempuh jarak, mengatur waktu, dan menghadapi tekanan batin yang tak kecil. Belum lagi stigma yang kadang menghampiri, seolah suara seorang pekerja rumah tangga selalu lebih kecil di hadapan publik.

“Yang saya ingin bukan sekadar menang atau kalah. Yang saya ingin adalah kejelasan,” tutur Nur Rohmah dengan suara pelan, seperti dikutip dari kesaksian yang berkembang di lingkungan persidangan. Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh—sebuah gambaran bahwa di balik gugatan miliaran rupiah, ada manusia dengan rasa keadilan yang ingin didengar.

Kisah Nur Rohmah mengingatkan kita pada banyak pekerja rumah tangga lain di negeri ini yang kerap luput dari perlindungan. Mereka hadir di rumah-rumah, menjaga anak, memasak, merawat orang sakit, tetapi keberadaannya jarang diperhitungkan ketika terjadi perselisihan. Ketika satu dari mereka berani bersuara, perjuangannya otomatis menjadi cermin bagi ribuan lainnya yang memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan.

Bayang-Bayang Ketidakpastian Usai Mediasi Gagal

Gagalnya mediasi bukan berarti perkara ini selesai. Justru di sinilah babak baru dimulai. Perkara akan terus bergulir ke tahap berikutnya, memakan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Bagi Nur Rohmah, ini berarti ia harus terus berjuang, meski lelah mulai merayap. Bagi Erin, tekanan publik dan proses hukum yang panjang tentu juga bukan hal ringan. Dua perempuan yang pernah berada dalam satu rumah kini berhadap-hadapan dalam ruang yang jauh lebih dingin.

Para pemerhati hukum menyebut mediasi yang buntu sebagai hal yang lazim dalam sengketa bernilai besar. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa di balik angka dan pasal, selalu ada manusia yang terdampak. Ketika komunikasi gagal, yang tersisa hanyalah ketidakpastian—tentang siapa yang benar, siapa yang salah, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding rumah yang dulu menjadi tempat Nur Rohmah mengabdi.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini sederhana: keadilan kadang harus diperjuangkan lewat jalan yang panjang dan berliku. Tidak ada air mata yang sia-sia, tidak ada keberanian yang luput dari catatan. Apa pun putusan nanti, Nur Rohmah telah menempuh langkah yang tidak semua orang berani ambil. Ia memilih bangkit, meski harus berdiri sendirian di ruang sidang yang dingin. Dan bagi banyak orang, keberanian itu sendiri sudah menjadi kemenangan yang layak dihormati—sebuah inspirasi bahwa suara sekecil apa pun tetap berhak untuk didengar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User