Oct 10, 2026
entertainment

Ifan Pamit dari Govinda Setelah 18 Tahun Berkarya

Di sebuah panggung kecil di pinggiran kota, aroma dupa dan suara gitar akustik membaur jadi satu. Muhammad Irfan Hadari — yang akrab disapa Ifan — berdiri dengan mata berkaca-kaca, memandang ratus...

Ifan Pamit dari Govinda Setelah 18 Tahun Berkarya

Di sebuah panggung kecil di pinggiran kota, aroma dupa dan suara gitar akustik membaur jadi satu. Muhammad Irfan Hadari — yang akrab disapa Ifan — berdiri dengan mata berkaca-kaca, memandang ratusan wajah yang sejak lama setia menyanyikan lagu-lagunya. Malam itu bukan konser biasa. Malam itu adalah pamit.

Setelah hampir 18 tahun berjalan bersama Govinda, Ifan resmi mengumumkan pengunduran dirinya. Kabar itu ia sampaikan bukan lewat pernyataan resmi yang dingin, melainkan lewat unggahan penuh haru di media sosial, ditulis dengan kalimat sederhana yang justru membuat ribuan penggemar ikut menangis di balik layar ponsel masing-masing.

Perjalanan Panjang yang Dimulai dari Kamar Kos

Perjalanan Govinda tidak selalu gemerlap. Ifan mengisahkan bagaimana semuanya dimulai dari sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter, tempat ia dan kawan-kawannya berlatih hingga larut, ditemani kopi sachet dan mimpi yang jauh lebih besar dari ruangan itu. Tidak ada studio mewah, tidak ada manajemen besar. Yang ada hanya keyakinan bahwa musik bisa menjadi rumah bagi banyak orang.

Bertahun-tahun kemudian, keyakinan itu terbukti. Lagu-lagu Govinda tumbuh menjadi anthem bagi mereka yang sedang berjuang, patah hati, atau sekadar merindukan rumah. Ifan bukan sekadar vokalis; ia adalah suara yang menemani perjalanan hidup banyak pendengarnya.

“Govinda bukan cuma band. Ini keluarga, ini rumah tempat saya belajar jadi manusia. Melepasnya terasa seperti mengucapkan selamat tinggal pada separuh hidup saya,” ujar Ifan dalam unggahannya.

Alasan di Balik Keputusan yang Berat

Dalam pernyataannya, Ifan tak banyak menyebut alasan teknis. Ia lebih banyak berbicara soal kebutuhan untuk menenangkan diri, menemukan ruang baru, dan menghormati proses tumbuh yang tak selalu sejalan dengan kepentingan bersama. Keputusan ini, katanya, bukan lahir dari konflik, melainkan dari kejujuran pada diri sendiri.

Para personel Govinda lain menyambut keputusan itu dengan pelukan, bukan perdebatan. Mereka memahami bahwa setiap perjalanan punya babak yang harus ditutup dengan kepala tegak. Di balik layar, proses itu penuh air mata — tetapi juga penuh rasa syukur.

Warisan yang Tak Akan Hilang

Bagi para penggemar, kepergian Ifan meninggalkan luka sekaligus inspirasi. Banyak yang mengaku pernah dibangkitkan dari masa sulit oleh lagu-lagunya. Kini, mereka belajar satu hal lagi dari sang idola: bahwa berani berhenti juga bentuk keberanian.

Ifan menutup pesannya dengan harapan sederhana — agar Govinda terus berkarya, dan agar siapa pun yang sedang berjuang tak berhenti bermimpi. “Terima kasih sudah menemani perjalanan saya. Ini bukan akhir, hanya cara baru untuk saling menjaga,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User