Di sebuah malam yang mungkin tak berbeda dari malam-malam panggung sebelumnya, Muhammad Irfan Hadari berdiri di depan layar ponselnya. Bukan untuk menyanyi, bukan untuk menulis lirik, melainkan untuk menyampaikan sesuatu yang berat: ia memilih mengakhiri perjalanannya bersama Govinda setelah hampir 18 tahun berjalan bersama. Pengumuman itu ia sampaikan langsung melalui unggahan di media sosial, tanpa gemerlap panggung, hanya kata-kata sederhana yang justru terasa menyentuh bagi siapa pun yang pernah mengikuti perjalanan band asal Yogyakarta itu.
Bagi banyak penggemar, nama Ifan dan Govinda nyaris tak terpisahkan. Ia bukan sekadar vokalis; ia adalah suara yang menemani berbagai fase kehidupan pendengarnya — dari masa sekolah, patah hati pertama, hingga perjuangan mengejar mimpi. Selama hampir dua dekade, ia berdiri di barisan depan, menyanyikan lagu-lagu yang kemudian menjadi latar cerita pribadi banyak orang.
Keputusan yang Tak Datang Tiba-Tiba
Ifan mengisahkan bahwa mundurnya ia dari Govinda bukan keputusan yang lahir dalam semalam. Ada proses panjang, perenungan, dan pergulatan batin yang ia lalui sebelum akhirnya memantapkan hati. Ia menyadari bahwa setiap perjalanan memiliki babaknya sendiri, dan kini ia memilih untuk menutup satu bab dengan cara yang ia anggap paling jujur, baik untuk dirinya maupun untuk band yang telah membesarkan namanya.
Keputusan seperti ini tentu tidak mudah. Ada ikatan emosional yang terbangun selama bertahun-tahun, ada kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja. Namun Ifan memilih untuk tak berlama-lama menahan sesuatu yang sudah tak lagi sejalan dengan arah hatinya. Dalam pengumumannya, ia tetap menyampaikan rasa terima kasih dan hormat kepada rekan-rekan satu bandnya, menyebut bahwa kebersamaan itu adalah bagian penting dari siapa dirinya hari ini.
"Ini bukan akhir dari segalanya, hanya cara saya berterima kasih pada perjalanan yang sudah membentuk saya," kurang lebih begitulah nada pesan yang ia sampaikan, sarat akan keharuan namun tetap tenang.
Jejak yang Tak Mudah Dilupakan
Delapan belas tahun bukan waktu singkat. Dalam rentang itu, Govinda melewati berbagai dinamika industri musik — dari masa ketika album fisik masih berjaya hingga era digital yang mengubah cara orang mendengarkan lagu. Ifan berada di tengah semua perubahan itu, tetap menyanyi, tetap menulis, tetap berjuang meski panggung kadang sepi dan tekanan industri tak selalu bersahabat. Penggemar mengingatnya bukan hanya dari suaranya, tetapi juga dari caranya menyapa penonton seperti sedang berbicara pada kawan lama.
Kepergiannya tentu menyisakan lubang dalam formasi Govinda. Namun banyak penggemar justru memilih mengucapkan terima kasih daripada menuntut alasan. Di kolom komentar, bermunculan cerita-cerita pribadi: tentang lagu yang menemani saat sedih, tentang konser pertama yang membuat mereka jatuh cinta pada musik, tentang momen-momen kecil yang ternyata berarti besar. Ifan berbicara, dan banyak orang merasa bahwa suara itu pernah menjadi bagian dari kisah hidup mereka sendiri.
Harapan untuk Langkah Selanjutnya
Ifan tidak menutup kemungkinan untuk terus berkarya, meski bentuknya belum tentu sama. Ia mengisahkan bahwa musik tetap ada di dalam dirinya, dan mimpi-mimpi baru masih menunggu untuk diwujudkan. Yang ia butuhkan mungkin hanya ruang untuk bernapas, untuk menemukan kembali alasan mengapa ia mulai bernyanyi sejak dulu.
Perpisahan ini adalah pengingat bahwa di balik setiap band, ada manusia-manusia dengan perjalanan batinnya masing-masing. Ifan memilih untuk berjalan dengan cara yang ia yakini, sambil tetap membawa rasa syukur atas 18 tahun yang tak akan pernah ia lupakan. Dan bagi penggemar, kepergiannya bukan sekadar kabar duka, melainkan juga pengingat untuk berterima kasih pada setiap perjalanan yang pernah menyentuh hati.
Comments (0)