Oct 11, 2026
entertainment

Harapan yang Tumbuh di Sorong Selatan

Mentari masih bersembunyi di balik deretan pegunungan ketika kabut perlahan mulai terangkat dari hamparan hutan di Sorong Selatan. Udara pagi itu terasa begitu segar, bercampur dengan aroma tanah basa...

Harapan yang Tumbuh di Sorong Selatan

Mentari masih bersembunyi di balik deretan pegunungan ketika kabut perlahan mulai terangkat dari hamparan hutan di Sorong Selatan. Udara pagi itu terasa begitu segar, bercampur dengan aroma tanah basah dan dedaunan yang baru saja disapa oleh embun. Di antara keheningan tersebut, langkah kaki seorang ibu sudah terdengar. Dengan keranjang anyaman di punggungnya, ia melangkah menuju kebun kecil miliknya, sebuah rutinitas yang telah ia lakukan sejak masih belia dan kini ia ajarkan pula kepada anak-anaknya. Bagi banyak keluarga di wilayah ini, hutan bukanlah sekadar kumpulan pohon, melainkan rumah yang telah merawat mereka sepanjang hidup.

Di sebuah dusun yang terletak di tepian aliran sungai, kehidupan masyarakat masih berjalan selaras dengan irama alam. Mereka tidak memandang hutan sebagai sumber kekayaan yang harus dieksploitasi secara besar-besaran, melainkan sebagai warisan yang perlu dijaga. Pengetahuan mengenai tanaman obat, waktu panen yang tepat, hingga larangan mengambil hasil alam pada masa tertentu telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini, yang dijaga dengan penuh kesadaran, telah berperan besar dalam melindungi keanekaragaman hayati yang hingga kini masih menjadi salah satu yang terlengkap di Tanah Papua.

Hutan yang Menyimpan Ribuan Cerita

Berjalan menyusuri jalur setapak yang hanya bisa dilalui oleh penduduk setempat, mata akan dimanjakan oleh keindahan yang sulit untuk digambarkan. Suara kicauan burung berkicau bersahutan, di antaranya suara khas burung cendrawasih yang menjadi kebanggaan masyarakat Papua. Di sela-sela dedaunan, beragam jenis kupu-kupu berwarna cerah beterbangan, sementara di bawah kanopi hutan, tumbuh ratusan jenis anggrek yang hanya bisa ditemukan di wilayah ini. Kekayaan tersebut tidak berhenti di daratan. Tidak jauh dari pesisir, terumbu karang yang masih sangat terjaga menjadi rumah bagi ikan-ikan berwarna-warni, penyu, serta biota laut lainnya yang turut menopang kehidupan nelayan setempat.

Namun, dibalik kemolekan tersebut, tersimpan pula kekhawatiran yang kian membesar. Semakin luasnya kebutuhan akan lahan, perubahan iklim, serta ancaman terhadap habitat alami menjadi beban yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Bagi mereka, hilangnya satu jenis pohon bukan hanya berarti berkurangnya oksigen, melainkan hilangnya sumber obat, hilangnya tempat berteduh bagi satwa, dan hilangnya bagian dari cerita keluarga yang telah terukir selama puluhan tahun. Kekhawatiran ini lah yang perlahan mendorong lahirnya semangat baru untuk melindungi apa yang masih tersisa.

Perjuangan yang Dijaga Bersama

Di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah gerakan yang berakar dari masyarakat itu sendiri. Para pemuda desa yang semula merantau ke kota, kini mulai kembali untuk bergabung dalam patroli hutan bersama para tetua adat. Para ibu turut berperan aktif dengan mengembangkan usaha berbasis hasil hutan non-kayu, seperti anyaman, madu hutan, serta produk olahan dari tanaman lokal. Langkah-langkah kecil ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi alam, namun juga untuk membuka peluang ekonomi tanpa harus merusak sumber kehidupan yang mereka cintai.

Kerja sama pun terjalin dengan berbagai pihak yang memiliki visi yang sama. Para peneliti, relawan, hingga masyarakat adat duduk bersama dalam satu meja untuk berdiskusi, saling mendengarkan, dan merumuskan solusi. Yang paling berharga dari proses ini adalah kesetaraan. Pengetahuan ilmiah tidak ditempatkan di atas kearifan lokal, melainkan berdampingan dengannya. Sebab, bagi masyarakat Sorong Selatan, kearifan yang telah teruji selama ratusan tahun sama berharganya dengan temuan terbaru di laboratorium.

Salah satu semangat yang terus digaungkan adalah pentingnya melibatkan anak-anak. Di beberapa sekolah, pelajaran tentang lingkungan tidak hanya diajarkan melalui buku, melainkan juga melalui praktik langsung di hutan. Mereka diajak untuk mengenali jenis tumbuhan, mendengarkan suara satwa, serta memahami mengapa setiap makhluk memiliki peran penting dalam ekosistem. Dengan cara ini, cinta terhadap alam tidak dipaksakan, melainkan tumbuh secara alami di hati mereka.

Benih Harapan untuk Masa Depan

Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna keemasan, suasana di tepi sungai kembali terasa tenang. Seorang anak kecil berlari dengan gembira sambil membawa ranting kecil, diikuti oleh kakeknya yang hanya bisa tersenyum melihat antusiasme cucunya. Momen sederhana tersebut, bagi banyak orang yang berjuang menjaga hutan ini, adalah hadiah terbesar yang bisa mereka terima.

Harapan untuk Sorong Selatan tidak terletak pada janji-janji besar semata, melainkan pada momen-momen seperti ini. Pada ibu yang terus menanam untuk anaknya, pada pemuda yang memilih pulang untuk menjaga kampung halamannya, pada anak-anak yang belajar mencintai hutan sejak dini, serta pada semua pihak yang memilih untuk mendengarkan suara masyarakat adat. Setiap benih yang ditanam hari ini, baik itu benih pohon maupun benih kesadaran, akan tumbuh perlahan untuk melindungi masa depan.

Hutan di Sorong Selatan telah mengisahkan perjalanan panjang kehidupan bagi masyarakatnya. Kini, giliran masyarakatnya pula untuk mengisahkan perjuangan menjaga hutan tersebut kepada dunia, bukan dengan amarah, melainkan dengan harapan. Sebuah harapan bahwa kemolekan yang masih tersisa ini tidak akan hanya menjadi kenangan, melainkan akan terus hidup, bernafas, dan dirawat untuk generasi yang akan datang. Itulah kisah sederhana, namun paling berharga, yang terus tumbuh di jantung Papua Barat Daya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User