Di sebuah ruangan yang sunyi, seorang ibu duduk termenag. Ponsel di tangannya menyala, menampilkan foto-foto lama: dua gadis kecil yang tersenyum lebar, diapit oleh ayah dan ibunya. Sarwendah menatap foto itu lama sekali. Ada rindu yang tidak bisa ia sembunyikan, terutama ketika pertanyaan itu datang dari mulut kedua putrinya—pertanyaan sederhana yang bagi seorang anak terasa wajar, tetapi bagi seorang ibu menjadi luka yang dalam.
"Mama, kapan kita bisa kumpul bareng lagi? Lengkap, kayak dulu," begitu kira-kira ucapan yang sering ia dengar. Sarwendah mengisahkan momen itu dengan suara yang bergetar. Bukan tentang siapa yang salah atau benar, melainkan tentang dua anak yang masih terlalu kecil untuk memahami mengapa sebuah keluarga harus berjalan di jalur yang terpisah.
"Mereka ingin bertemu ayahnya, dan mereka ingin aku ada di sana saat itu terjadi. Bukan bergantian, tapi bersama-sama," tutur Sarwendah, dikutip dari pengakuannya.
Ketika Anak-Anak Berbicara Tentang Kerinduan
Sarwendah tidak pernah menyangka bahwa permintaan sederhana itu akan menjadi persoalan yang begitu rumit. Baginya, keinginan kedua putrinya bukanlah tuntutan, melainkan curahan hati yang jujur. Anak-anak, kata Sarwendah, tidak memandang konflik orang dewasa. Mereka hanya ingin merasakan kehangatan yang dulu pernah menyelimuti rumah mereka.
Setiap kali momen itu terucap, Sarwendah harus menahan air mata. Ia tahu, tidak semua yang diinginkan anak bisa langsung diwujudkan. Ada banyak hal yang harus dibicarakan, ada banyak perasaan yang harus dijaga. Namun di balik semua itu, ia berusaha keras menjadi ibu yang tetap memberi rasa aman, meski keadaan tak lagi utuh seperti dulu.
"Aku cuma pengin mereka bahagia. Kalau mereka minta ketemu dengan formasi lengkap, ya itu yang mereka mau. Aku sebagai ibu harus berusaha memahami keinginan mereka," ujarnya.
Perjalanan Seorang Ibu Menjaga Harapan
Sarwendah mengaku tidak pernah menghalangi anak-anaknya untuk bertemu dengan sang ayah, Ruben Onsu. Baginya, hak anak untuk merasakan kasih sayang kedua orang tua adalah hal yang tidak bisa ditawar. Yang ia inginkan hanyalah agar pertemuan itu terjadi dalam suasana yang tenang, tanpa beban, dan tanpa rasa takut.
Namun, membangun komunikasi yang sehat setelah perpisahan bukanlah perjalanan yang mudah. Ada tembok yang harus dilewati, ada ego yang harus diletakkan. Sarwendah menyadari, dirinya bukan hanya seorang perempuan yang sedang berjuang untuk hatinya sendiri, melainkan seorang ibu yang harus memastikan anak-anaknya tetap tumbuh dengan cinta yang cukup.
"Aku ingin mereka tahu, walaupun mama dan papa sudah tidak bersama, kasih sayang kami tidak pernah hilang. Mereka tetap punya keluarga, hanya bentuknya yang berbeda," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Mimpi Kecil yang Belum Usai
Sampai kini, Sarwendah masih menyimpan harapan. Ia percaya, suatu hari nanti, saat semua pihak sudah bisa menurunkan ego dan mengutamakan kepentingan anak, momen itu akan terwujud. Bukan karena kemewahan atau panggung, melainkan karena tawa dua anak yang bahagia saat berada di antara orang tua mereka.
Kisah Sarwendah mungkin hanya satu dari banyak kisah ibu yang berjuang menjaga utuh kasih sayang di tengah keluarga yang telah terpisah. Namun dari kesederhanaannya, ada pesan yang menyentuh: anak-anak tidak pernah meminta perpecahan, mereka hanya ingin dicintai tanpa harus memilih.
Dan bagi Sarwendah, mimpi kecil itu—melihat anak-anaknya tersenyum lengkap—adalah inspirasi yang membuatnya terus bangkit setiap hari.
Comments (0)