Oct 13, 2026
entertainment

Ghosting, Luka yang Tak Pernah Selesai di Layar Lebar

Di sebuah apartemen kecil di Jakarta Selatan, seorang perempuan duduk menatap layar ponselnya. Pesan terakhir yang ia kirim sudah berumur tiga minggu. Tidak ada balasan. Hanya centang dua berwarna bir...

Ghosting, Luka yang Tak Pernah Selesai di Layar Lebar

Di sebuah apartemen kecil di Jakarta Selatan, seorang perempuan duduk menatap layar ponselnya. Pesan terakhir yang ia kirim sudah berumur tiga minggu. Tidak ada balasan. Hanya centang dua berwarna biru yang perlahan berubah kelabu, seperti harapan yang menguap tanpa jejak. Ia tidak tahu apa yang salah. Ia hanya tahu bahwa seseorang yang pernah mengucapkan kata sayang kini memilih menghilang tanpa kata pamit. Adegan itu bukan potongan kehidupan nyata, melainkan satu dari sekian momen yang dirajut dalam film terbaru berjudul Ghosthing, sebuah karya yang mencoba membedah fenomena perpisahan tanpa kabar yang kian akrab di zaman layar sentuh.

Film ini bukan sekadar drama percintaan biasa. Ia mengisahkan perjalanan batin seorang perempuan yang harus belajar menerima bahwa kehilangan tidak selalu datang lewat kabar duka. Kadang, kehilangan datang dalam bentuk notifikasi yang tak pernah muncul. Sang sutradara merangkai cerita dari keluhan-keluhan kecil yang sering dianggap remeh: rasa cemas yang menumpuk tiap kali membuka aplikasi pesan, mimpi buruk tentang pertemuan yang tak pernah terjadi, hingga air mata yang jatuh diam-diam di kamar mandi kantor. Semua detail itu disusun dengan hati-hati, seolah ingin mengatakan bahwa luka karena ghosting adalah luka yang nyata, meski tak terlihat.

Ketika Menghilang Jadi Pilihan Paling Menyakitkan

Ada satu adegan yang konon paling menyentuh dalam film ini. Sang tokoh utama, diperankan dengan penuh penghayatan, berdiri di depan pintu rumah seseorang yang ia cintai. Ia mengetuk tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih pelan, seperti takut mengganggu. Lalu ia duduk di tangga, memeluk lututnya sendiri, dan berbisik, “Aku cuma mau tahu, aku salah apa?” Kalimat sederhana itu menggantung di udara, menyentuh siapa pun yang pernah merasakan hal serupa. Di balik layar, tim produksi mengaku kesulitan mencari ending yang tepat. Mereka ingin penonton pulang dengan perasaan lega, tetapi juga tidak ingin memalsukan kenyataan bahwa tidak semua cerita ghosting berakhir dengan penjelasan.

“Kami tidak ingin menghakimi pelaku ghosting. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa di balik setiap pesan yang tidak dibalas, ada manusia yang menunggu, ada hati yang berjuang untuk tetap waras,” ujar sang penulis skenario dalam sesi wawancara tertutup.

Pernyataan itu menjadi napas utama film ini. Ghosthing tidak menampilkan sosok antagonis yang jelas. Ia justru memperlihatkan bahwa pelaku ghosting pun bisa jadi korban dari ketakutannya sendiri: takut berkonfrontasi, takut melukai, atau takut mengakui bahwa perasaannya sudah berubah. Dengan begitu, film ini mengajak penonton melihat dari dua sisi, tanpa mengurangi rasa sakit yang dialami pihak yang ditinggalkan.

Perjuangan di Balik Kamera

Proses pembuatan film ini ternyata juga penuh kisah perjuangan. Syuting dilakukan selama dua puluh hari dengan anggaran terbatas. Kru harus berpindah lokasi dari kafe di Bandung hingga stasiun kereta di Jakarta, sering kali hanya bermodal izin lisan dan keberanian. Salah satu produser mengisahkan bagaimana ia harus menjual sepeda motornya untuk menutup biaya produksi. “Kami bukan tim besar. Tapi kami punya satu keyakinan: cerita ini harus sampai ke orang-orang yang sedang patah hati,” kenangnya, mata berkaca-kaca. Momen mengharukan itu terjadi di hari terakhir syuting, ketika seluruh kru berpelukan tanpa diminta, seolah melepas beban yang selama ini mereka pendam bersama.

Film ini juga menghadirkan sejumlah wajah baru yang tampil memukau. Aktris utamanya mengaku sempat ragu menerima peran tersebut karena ia pernah mengalami ghosting lima tahun silam. “Aku menangis berkali-kali saat membaca naskahnya. Rasanya seperti membuka luka lama, tapi ternyata itu yang membuatku bisa memerankan tokoh ini dengan jujur,” ujarnya. Kejujuran itulah yang membuat setiap adegan terasa hidup, seolah penonton sedang menonton kisahnya sendiri.

Pelajaran Sederhana yang Ingin Ditinggalkan

Di bagian akhir, Ghosthing tidak memaksa tokoh utamanya untuk move on dengan cepat. Ia justru menunjukkan proses panjang: bangkit perlahan, mencari pertolongan, dan belajar memaafkan tanpa harus melupakan. Ada adegan sang tokoh menulis surat yang tidak akan pernah dikirim, lalu membakarnya di balkon. Asap mengepul, membawa serta kata-kata yang selama ini tersimpan. Ia tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum penerimaan. Dari situ, penonton diajak memahami bahwa kesembuhan tidak selalu berarti melupakan, tetapi berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua pertanyaan akan terjawab.

Melalui kisah yang sederhana namun menyentuh ini, Ghosthing mengingatkan kita bahwa teknologi yang memudahkan komunikasi ternyata juga memudahkan orang untuk menghilang. Namun di balik semua itu, film ini menyimpan satu pesan yang menghangatkan: bahwa setiap orang yang pernah ditinggalkan tanpa kabar berhak untuk pulih, dan bahwa cinta yang tulus tidak pernah sia-sia, meski harus berakhir di ruang tunggu yang tak kunjung dibuka. Film ini bukan tentang siapa yang pergi, melainkan tentang mereka yang memilih untuk tetap tinggal dan berjuang untuk dirinya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User