Oct 12, 2026
entertainment

Empat Musim Pertiwi, Ketika Luka Dirajut Menjadi Musim yang Berganti

Di sebuah kursi kayu yang berderit pelan, seorang perempuan duduk menatap halaman rumah yang basah oleh hujan. Tubuhnya diam, tetapi matanya berbicara tentang sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi...

Empat Musim Pertiwi, Ketika Luka Dirajut Menjadi Musim yang Berganti

Di sebuah kursi kayu yang berderit pelan, seorang perempuan duduk menatap halaman rumah yang basah oleh hujan. Tubuhnya diam, tetapi matanya berbicara tentang sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Kamila Andini, sutradara yang dikenal lewat karya-karya yang menyentuh sisi terdalam kemanusiaan, kembali mengajak penonton memasuki ruang yang jarang dibuka orang: jiwa seorang penyintas kekerasan seksual. Lewat Empat Musim Pertiwi, ia tidak sekadar bercerita, ia membangun kolam renang emosi yang dalam, tempat penonton dipaksa menyelami rasa sakit, malu, marah, dan akhirnya keinginan untuk bangkit.

Film ini mengisahkan perjalanan Pertiwi, seorang perempuan yang mencoba merangkai kembali hidupnya setelah trauma yang menghancurkan rasa amannya. Kamila tidak memilih jalan pintas dengan menampilkan adegan kekerasan secara vulgar. Sebaliknya, ia merajut luka itu lewat detail-detail kecil: cangkir kopi yang tak tersentuh, seprai yang selalu diganti, dan tubuh yang kaku saat seseorang menyentuh bahunya. Penonton diajak memahami bahwa kekerasan bukan hanya peristiwa, melainkan sesuatu yang tinggal di dalam tubuh dan ingatan, muncul kembali di musim-musim yang seharusnya membawa kebahagiaan.

Musim sebagai Metafora Perjalanan Pulih

Judul Empat Musim Pertiwi bukan sekadar penanda waktu. Kamila menggunakan pergantian musim sebagai metafora perjalanan pemulihan yang tidak pernah linear. Ada musim kemarau panjang ketika Pertiwi merasa kering dan hampa. Ada musim hujan yang membawa air mata dan kenangan. Ada musim semi ketika harapan mulai tumbuh, meski rapuh. Dan ada musim gugur, ketika ia belajar melepaskan hal-hal yang selama ini membebani pundaknya. Setiap musim punya warna, bunyi, dan ritme emosinya sendiri — dan kamera Kamila menangkapnya dengan kepekaan yang hampir seperti puisi.

Yang membuat film ini terasa begitu manusiawi adalah caranya menghindari kesan heroik yang berlebihan. Pertiwi bukan pahlawan yang tiba-tiba kuat. Ia jatuh, bangkit, jatuh lagi. Ada momen ketika ia menolak bantuan, menutup diri, dan menyalahkan dirinya sendiri. Di situlah kekuatan Empat Musim Pertiwi terletak: ia jujur tentang betapa berlikunya proses penyembuhan, bahwa bangkit bukan satu lompatan besar, melainkan seribu langkah kecil yang sering kali terasa sia-sia.

"Aku tidak ingin pulih untuk orang lain. Aku ingin pulih untuk diriku sendiri," ujar Pertiwi dalam salah satu adegan yang paling mengharukan, ketika ia berdiri di depan cermin dan untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa rasa benci.

Di Balik Layar: Riset yang Menyentuh Hati

Kamila Andini dikenal sebagai sutradara yang tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan riset. Untuk film ini, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan berbicara dengan para penyintas, psikolog, dan pekerja pendamping. Ia mendengar kisah-kisah yang membuatnya menangis, kisah tentang perempuan yang harus berjuang bertahun-tahun hanya untuk bisa tidur nyenyak, tentang ibu-ibu yang menyembunyikan luka demi menjaga keluarga tetap utuh. Semua cerita itu ia rangkum menjadi satu karakter yang terasa nyata, bukan sekadar simbol.

Proses syuting pun berlangsung dengan protokol yang penuh empati. Para pemain mendapat pendampingan psikolog, dan adegan-adegan berat dilakukan dengan jeda yang cukup. Kru film diajak memahami bahwa yang mereka kerjakan bukan sekadar proyek seni, melainkan tanggung jawab untuk tidak menyakiti mereka yang pernah terluka. "Kami tidak sedang membuat tontonan. Kami sedang menjaga cerita orang," kata Kamila suatu kali kepada timnya, seperti dikenang oleh salah satu kru.

Ketika Luka Menjadi Inspirasi untuk Bangkit

Di akhir film, penonton tidak disuguhi akhir yang meriah. Tidak ada kemenangan besar, tidak ada balas dendam yang memuaskan. Yang ada adalah sebuah momen sederhana: Pertiwi duduk di beranda, menyeruput teh hangat, dan tersenyum tipis. Senyum itu bukan tanda bahwa semuanya sudah selesai, melainkan tanda bahwa ia memilih untuk terus berjalan. Kamila seolah ingin mengatakan bahwa pemulihan bukan tentang melupakan, melainkan tentang belajar hidup berdampingan dengan luka tanpa membiarkannya menguasai hidup.

Empat Musim Pertiwi adalah cermin bagi banyak orang yang mungkin pernah merasakan hal serupa, dan jendela bagi mereka yang belum pernah mengerti. Film ini tidak menggurui, tidak menghakimi, tidak pula mengeksploitasi penderitaan. Ia hanya duduk di samping penonton, menggenggam tangan, dan berkata pelan, "Kamu tidak sendiri." Di tengah industri yang sering kali mengejar sensasi, karya seperti ini adalah oase yang menyegarkan dan sekaligus mengingatkan bahwa film bisa menjadi ruang untuk menyembuhkan, bukan sekadar menghibur.

Bagi siapa pun yang pernah merasa kehilangan arah, Empat Musim Pertiwi menawarkan satu pesan sederhana namun menggetarkan: setiap musim pasti berganti. Tidak ada hujan yang turun selamanya, dan tidak ada luka yang tidak bisa menemukan jalannya untuk pulih — perlahan, tetapi pasti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User