Oct 12, 2026
entertainment

Empat Musim Pertiwi dan Mimpi Oscar yang Dirawat Sejak Layar Pertama

Di sebuah ruang kerja kecil di Yogyakarta, tumpukan naskah dan papan cerita masih berserakan di atas meja kayu. Di sudut ruangan itu, Kamila Andini menatap layar laptopnya lama. Ada kabar yang baru sa...

Empat Musim Pertiwi dan Mimpi Oscar yang Dirawat Sejak Layar Pertama

Di sebuah ruang kerja kecil di Yogyakarta, tumpukan naskah dan papan cerita masih berserakan di atas meja kayu. Di sudut ruangan itu, Kamila Andini menatap layar laptopnya lama. Ada kabar yang baru saja ia terima, sebuah kabar yang membuat ruangan sederhana itu mendadak terasa lebih hangat: Empat Musim Pertiwi resmi melaju sebagai wakil Indonesia dalam perburuan Oscar 2027 kategori Best International Feature Film.

Kabar itu bukan sekadar pengumuman festival. Bagi Kamila dan timnya, ini adalah titik lanjut dari perjalanan panjang yang dimulai bertahun-tahun lalu, ketika ia pertama kali menulis catatan kecil tentang seorang perempuan yang harus memilih antara tanah kelahirannya dan mimpi yang membawanya pergi.

Perjalanan yang Tak Pernah Sekali Jadi

Mengisahkan Empat Musim Pertiwi berarti mengisahkan empat babak kehidupan yang berdenyut pelan, seperti musim yang berganti di tanah Jawa. Kamila menyebut film ini sebagai ruang ia menumpahkan ingatan, kegelisahan, dan harapan yang ia kumpulkan dari percakapan-percakapan kecil dengan banyak perempuan di berbagai kota.

"Saya tidak ingin membuat film yang sekadar bercerita. Saya ingin penonton merasa sedang duduk di beranda rumah, mendengar seseorang mengisahkan hidupnya sendiri," ujarnya suatu kali, dalam sebuah sesi diskusi yang berlangsung intim.

Di balik layar, proses kreatif itu tak selalu mulus. Ada hari-hari ketika tim harus menunggu cuaca, mengulang adegan, dan menahan lelah demi satu bidikan yang terasa jujur. Namun justru momen-momen itulah yang membuat Empat Musim Pertiwi terasa hidup: setiap frame mengandung air mata, tawa, dan kerja keras orang-orang yang percaya pada cerita ini.

Ketika Mimpi Itu Dikawal Bersama

Strategi mengawal film ini ke Oscar bukan perjalanan satu orang. Kamila mengisahkan bagaimana tim produksi, penulis, hingga para pemain duduk bersama, menyusun langkah demi langkah agar cerita ini bisa berbicara kepada penonton dunia tanpa kehilangan akar budayanya.

"Kami tidak sedang mengejar panggung. Kami sedang menjaga agar suara ini tetap terdengar sampai ke tempat yang jauh," kata Kamila, suaranya pelan namun mantap.

"Setiap musim dalam film ini adalah doa. Dan doa tidak pernah sia-sia, meski jawabannya datang dengan cara yang tidak kita duga."

Bagi tim, lolos ke Oscar 2027 adalah pengakuan, tetapi bukan garis akhir. Ini adalah pintu yang membuka lebih lebar ruang bagi sinema Indonesia untuk dikenali dunia. Ada rasa bangga bercampur haru, terutama bagi mereka yang telah mengikuti perjalanan film ini sejak pembacaan naskah pertama.

Inspirasi yang Tinggal di Hati Penonton

Yang membuat Empat Musim Pertiwi terasa menyentuh bukan hanya visualnya yang memanjakan mata, melainkan cara ia merawat sisi manusiawi tokoh-tokohnya. Penonton diajak merasakan kehilangan, keberanian, dan harapan yang sederhana namun menggetarkan.

Kamila berharap kisah ini bisa menjadi cermin bagi banyak orang, terutama mereka yang sedang berjuang dengan pilihan sulit dalam hidupnya. "Kalau ada satu orang saja yang merasa ditemani setelah menonton, itu sudah cukup bagi saya," ujarnya.

Perjalanan menuju Oscar 2027 masih panjang. Namun bagi Kamila Andini dan seluruh tim, mimpi itu tidak pernah sekadar soal piala. Ia adalah tentang menjaga cerita, merawat kenangan, dan memastikan bahwa suara dari tanah Jawa tetap bergema, bahkan di panggung yang paling jauh sekalipun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User