Oct 16, 2026
entertainment

Empat Abad Syekh Yusuf, Warisan Perjuangan yang Menembus Zaman

Di bawah langit senja yang perlahan jingga, aroma dupa dan lantunan doa mengambang di udara sebuah ruang sederhana yang dipenuhi para tetua dan pemuda. Mereka datang bukan untuk sebuah perayaan megah,...

Empat Abad Syekh Yusuf, Warisan Perjuangan yang Menembus Zaman

Di bawah langit senja yang perlahan jingga, aroma dupa dan lantunan doa mengambang di udara sebuah ruang sederhana yang dipenuhi para tetua dan pemuda. Mereka datang bukan untuk sebuah perayaan megah, melainkan untuk mengenang seorang anak manusia yang lahir empat abad silam dari tanah Makassar, yang jejak langkahnya melampaui batas pulau, negara, dan bahkan zaman. Di sudut ruangan itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon tampak berdiri hening sejenak, seolah menarik napas panjang sebelum mengisahkan kembali perjalanan panjang seorang ulama yang menjadi jembatan antara Nusantara dan dunia.

Syekh Yusuf Al-Makassari, nama itu mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun di baliknya tersimpan kisah yang begitu menyentuh. Ia bukan sekadar tokoh agama, tetapi juga pejuang, diplomat, dan penggerak peradaban yang gagah berani menentang penindasan. Dari pesisir Gowa hingga pengasingan di Ceylon dan Afrika Selatan, hidupnya adalah epik tentang keteguhan iman dan cinta yang membara pada tanah air. "Perjuangan beliau bukan hanya soal pedang dan perlawanan fisik, tapi juga tentang bagaimana gagasan, ilmu, dan nilai-nilai kemanusiaan bisa menembus dinding-dinding penjara kolonial," ujar Fadli Zon dengan nada penuh kekaguman, seperti dikutip dari pernyataannya saat memperingati empat abad kelahiran sang ulama.

Perjalanan Seorang Pejuang yang Tak Pernah Menyerah

Siapa yang menyangka, seorang pemuda dari Kerajaan Gowa yang lahir pada 1626 itu kelak akan menjadi simbol perlawanan lintas benua. Syekh Yusuf tumbuh dalam gejolak politik yang panas, ketika kekuasaan kolonial Belanda mulai mencengkeram wilayah Sulawesi. Ia tidak tinggal diam. Bersama pasukan dan rakyat, ia berjuang mempertahankan kedaulatan, meski akhirnya harus menerima kenyataan pahit: pengasingan. Namun, di balik jeruji pengasingan, jiwanya tetap merdeka. Di Ceylon, ia mengajarkan agama dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat setempat. Di Afrika Selatan, ia menjadi inspirasi bagi komunitas Muslim yang hingga kini mengenangnya sebagai leluhur spiritual.

"Beliau adalah bukti bahwa seorang yang terbuang dari tanah kelahirannya tetap bisa menanam benih peradaban di tanah asing, dan benih itu tumbuh menjadi pohon yang rindang hingga hari ini," tutur Fadli Zon dengan mata berbinar, menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.

Momen mengharukan terjadi ketika seorang peneliti muda dari Universitas Hasanuddin menuturkan kisah tentang naskah-naskah kuno Syekh Yusuf yang tersimpan di berbagai belahan dunia. "Kami menemukan catatan-catatan beliau yang ditulis dalam bahasa Arab dan Bugis, tersebar dari Leiden hingga Cape Town. Itu seperti menemukan potongan hati yang tercecer, dan kini kami berusaha menyatukannya kembali," ujarnya lirih, membuat beberapa hadirin menyeka sudut mata. Perjuangan Syekh Yusuf memang tidak berakhir di pembuangan; ia terus hidup melalui karya, ajaran, dan diplomasi budaya yang ia rintis jauh sebelum istilah itu populer.

Diplomasi Budaya yang Mendahului Zamannya

Di balik layar peringatan empat abad ini, tersimpan sebuah misi besar: menjadikan Syekh Yusuf sebagai ikon diplomasi budaya Indonesia di kancah global. Fadli Zon menekankan bahwa warisan sang ulama bukan hanya milik umat Muslim, tetapi milik seluruh bangsa, bahkan dunia. "Ketika kita berbicara tentang Syekh Yusuf, kita berbicara tentang Indonesia yang mendunia. Beliau adalah duta budaya pertama kita, yang memperkenalkan nilai-nilai keindonesiaan melalui jalur perdagangan, pendidikan, dan persaudaraan spiritual," jelasnya di hadapan para akademisi dan budayawan.

Pemerintah pun berencana menjadikan momen ini sebagai titik tolak untuk lebih serius merawat warisan tersebut. Mulai dari digitalisasi manuskrip, pengembangan wisata ziarah, hingga kerja sama internasional dengan Afrika Selatan dan Sri Lanka. "Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal Syekh Yusuf sebagai nama di buku sejarah, tetapi sebagai sosok yang bisa mereka banggakan dan teladani," tambah Fadli Zon. Rencana itu disambut hangat oleh komunitas diaspora Indonesia di Cape Town, yang selama ini menjaga makam Syekh Yusuf sebagai situs bersejarah yang dikunjungi ribuan orang setiap tahun.

Menyalakan Mimpi Generasi Baru

Bagi banyak orang di ruangan itu, kisah Syekh Yusuf bukanlah dongeng masa lalu yang usang. Ia adalah nyala api yang membakar semangat untuk bangkit. Seorang mahasiswa yang hadir mengaku terinspirasi untuk meneliti lebih dalam tentang jejak sang ulama. "Saya baru sadar, ternyata perjuangan itu tidak harus selalu di medan perang. Bisa juga melalui tulisan, pendidikan, dan cinta pada sesama," ujarnya dengan suara bergetar. Air mata kecil di pipinya menjadi saksi bahwa kisah empat abad silam masih mampu menyentuh jiwa-jiwa muda hari ini.

Perjalanan mengenang Syekh Yusuf pun ditutup dengan doa bersama, memohon agar semangatnya terus hidup di hati setiap anak bangsa. Di luar ruangan, langit sudah gelap, namun bintang-bintang seakan bersinar lebih terang, seperti isyarat bahwa warisan seorang pejuang sejati tidak pernah padam. Fadli Zon melangkah keluar dengan senyum tipis, membawa harapan baru: bahwa dari Makassar, dari pengasingan, dari empat abad yang panjang, kisah Syekh Yusuf akan terus menginspirasi Indonesia untuk berani bermimpi dan berdiri tegak di panggung dunia. "Ini bukan akhir dari peringatan, ini awal dari perjalanan panjang merawat warisan beliau," pungkasnya, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyimak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User